manfaat sedekah Archives - Yayasan Takrimul Quran

Yayasan Takrimul Quran

“Janganlah Menjatuhkan Dirimu Sendiri Ke Dalam Kebinasaan”

manfaat-sedekah-Dan belanjakanlah (harta bendamu) dijalan Allah swt., dan janganlah menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan , dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.’’ (Q.s. Al-Baqarah: 195)

hadist tentang sedekah

Hudzaifah r.a. berkata bahwa yang dimaksud dengan janganlah menjatuhkan dirimu sendiri kedalam  kebinasaan adalah tidak mau menginfakan harta di jalan Alloh karena takut miskin. Ibnu Abbas r.hum. berkata bahwa yang di maksud menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan bukan terbunuhnya seseorang di jalan Alloh swt., tetapi tidak mau membelanjakan harta dijalan Allah swt.. Dhahhak bin jubair r.a. berkata bahwa orang-orang anshar selalu membelanjakan harta dijalan Allah swt. Dan selalu bersedekah . pernah suatu ketika,  pada saat terjadi kelaparan  selama setahun, pikiran mereka menjadi kalut sehingga mereka tiadk mau menginfakan harta mereka di jalan Allah swt.. terhadap peristiwa inilah ayat tersebut di turunkan. Aslam r.a. berkata, “ Ketika kami ikut serta dalam peperangan konstatinopel, tiba-tiba sepasukan orang kafir yang besar jumlahnya datang untuk menyerang kami. Pada waktu itu seseorang dari kaum muslimin masuk ke dalam barisan orang-orang kafir seorang diri sambil membawa pedang.

Orang-orang islam lainnya berteriak bahwa orang tersebut telah menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan. Ayyub Anshari r.a.  yang juga ikut serta dalam pertempuran tersebut berkata bahwa yang demikian itu bukan menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan. Ia berkata , “Mengapa kalian mengartikan ayat itu seperti itu , ayat ini turun berkenaan peristiwa yang kami alami. Ketika islam mulai berkembang dan telah bermunculan para pembela agama, diam-diam kami, orang-orang Anshar  berpikir bahwa sekarang Allah swt. Telah memberikan kemenangan kepada islam dengan lahirnya para pembela agama, sedangkan harta benda kami seperti sawah, ladang, dan sebagainya, karena lama tidak terurus mulai rusak.  Untuk itu, kami bermaksud untuk mengurusi dan memperbaiki sawah ladang . terhadap peristiwa itulah ayat tersebut diturunkan. Dengan demikian yang dimaksud menjerumuskan diri dalam kebinasaan adalah sibuk mengurusi harta kekayaan sendiri dan meninggalkan jihad.” (Durrul-Mantsur)    

Keajaiban Sedekah: Khodijah binti Khuwailid

keajaiban sedekahKali ini kita akan berjumpa dengan simbol kesucian, kehormatan, dan ketakwaan. Sekuntum bunga yang menyebarkan aroma wewangian, sehingga memenuhi atmosfer seluruh penjuru dunia dengan keharuman iman, pengorbanan, kedermawanan dan pembelaan. Dia adalah Ummul Mukminin, Ummu al-Qasim Khodijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul ‘Uzza bin Qushai bin Kilab. Keturunan suku Quraisy dari keluarga Bani Asad.

Bukan hanya menjadi istri pertama yang sangat dicintai Rosululloh , Khodijah  juga memiliki banyak keistimewaan, sebagaimana yang disebutkan Imam Ibnu Katsir , “Khodijah adalah wanita pertama yang dinikahi Rosululloh  dan menurut pendapat yang shohih, Khodijah adalah orang pertama yang beriman kepadanya.” Khodijah adalah orang pertama yang sholat bersama Nabi . Wanita pertama yang memberi keturunan kepada Nabi . Wanita pertama di antara istri-istri Nabi  yang mendapat berita dijamin masuk surga. Orang pertama yang menerima ucapan salam dari Alloh . Orang pertama yang kuburannya dipersiapkan Nabi . Dan masih banyak lagi tidak akan cukup ditulis dalam kolom ini.

Khodijah beriman kepada Nabi  di saat semua orang kufur kepadanya. Membenarkan risalah Nabi  di saat semua orang mendustakannya. Mengorbankan harta untuk kepentingan Beliau  di saat semua orang enggan memberinya. Membantu menyampaikan risalah Alloh , ikut merasakan kesusahan dan kepahitan da’wah dan mendukung perjuangan melawan hegemoni Quraisy dengan jiwa dan sedekah seluruh hartanya. Seluruhnya… Ya seluruhnya. Harta yang perbandingan satu kafilah dagang Khodijah yang dikirim ke Syam, setara dengan konsorsium beberapa kafilah dagang Quraisy. Khodijah rela mengorbankan hartanya untuk membiayai kehidupan Nabi , sementara Beliau  sendiri yang mengendalikan perniagaannya.

Khodijah  adalah seorang wanita yang sangat dermawan dan pemurah. Hingga apa yang disenangi suami tercinta, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk dapat membahagiakan hati suaminya. Ketika suaminya memutuskan untuk mengasuh sepupunya, Ali bin Abi Thalib, Khodijah menyambutnya dengan hati yang lapang dan penuh kasih sayang mengasuhnya bagaikan anak kandung sendiri. Begitu pula ketika Khodijah merasa bahwa suaminya sangat menyukai Zaid bin Haritsah, maka ia segera menghibahkan Zaid kepada suaminya .

Demikian kita bisa mengingat sela-sela pertemuan yang hangat antara Rosulullohdengan Halimah as-Sa’diyyah, Ibu susu Beliau . Tatkala Halimah datang dengan aduan kondisi hidupnya yang semakin sulit dan kekeringan yang menimpa kampung Bani Sa’ad, sehingga hidupnya semakin terjepit dan kemiskinan semakin menjadi-jadi. Rosululloh  langsung berbicara dengan istrinya, Khodijah, dengan suara berat karena terpengaruh aduan sang Ibu. Khodijah membalasnya dengan hati yang penuh kasih sayang. Dengan senang hati, ia menyerahkan 40 ekor kambing dan seeokor unta untuk membawa air serta perbekalan yang cukup hingga Halimah sampai di kampung halamannya. Itulah keajaiban sedekah ibunda kita, Khodijah , teladan yang tidak akan muncul lagi dalam pentas sejarah. Hidupnya dihabiskan untuk tetap mendukung dan membela Rosululloh dalam menyampaikan da’wah Alloh . Semoga Alloh  memberikan keridhoan kepadanya, serta menjadikan Firdaus sebagai persinggahan terakhirnya. Aamiin.

KEAJAIBAN SEDEKAH: PERGI HAJI MODAL ”SERATUS RUPIAH”

keajaiban sedekahPada tahun 1991, ONH (ongkos naik haji) adalah sekitar enam juta rupiah. Bertambah lama, seiring dengan perubahan niLai tukar rupiah, ONH semakin naik -7,9,12,21,25 juta rupiah, dan seterusnya.

Bagaimana jika ada orang yang pergi haji dengan modal ‘seratus rupah’ saja?

Alkisah, pada hari minggu pagi yang cerah, seperti biasanya saya pergi belanja di salah satu pasar. Suatu ketika, saya berbelanja palawija pada seorang ibu setengah baya. Ada satu hal yang membuat saya terpana. Saya sangat tertarik melihat cara ibu tersebut melayani pembelinya.

Karena tertarik, maka setiap saya pergi ke pasar tersebut, saya selalu memperhatikan lebih saksama lagi terhadap perilakunya. Beberapa kali saya perhatikan menjadikan saya lebih ‘penasaran’ untuk lebih mengikuti secara rutin kejadian demi kejadian yang ‘diperagakan’ oleh ibu tersebut.

Katakanlah ia bernama Ibu Asih. Apa yang dilakukannya setiap ia melayani pembelinya? Yang membuat saya kagum tiada habisnya ialah, setiap ia selesai menjual barang dagangannya, secara spontan mulutnya selalu bergumam lirih dengan ucapan “Alhamdulillah”.

Baik dagangannya laku sedikit atau laku banyak, selalu saja mulutnya bergumam mengucap “Alhamdulillah” sebagai ungkapan rasa syukurnya.

Yang lebih menarik lagi ialah setiap ada peminta-minta yang menengadahkan tangannya, tidak satu pun yang tidak di sedekahkan.

Meskipun ia sedang sibuk melayani orang-orang yang sedang membeli barang dagangannya, selalu saja ia menyempatkan tangannya untuk mensedekahkan mereka. Diambilnya uang logam seratus rupiah, yang rupanya sudah disediakan untuk orang-orang tersebut. Sayangnya saya tidak pernah bertanya kepadanya kira-kira ada berapa puluh kali dalam satu hari ia sedekahkan orang miskin tersebut.

Ini sebuah kejadian yang nampaknya biasa-biasa saja. Tetapi memiliki nilai yang sangat tinggi dalam kehidupan sosial maupun dalam kehidupan religious. Ucapan syukur beserta penghayatan dan sekaligus pengamalannya telah diperagakan oleh ibu Asih. Meskipun dengan cara sederhana dan dengan nilai rupiah yang kecil.

Hal ini sangat berbeda dengan kondisi sebuah toko yang lebih besar, yang letaknya tidak seberapa jauh dari ibu penjual palawija ini.

Saya menaksir bahwa keuntungan yang diraih oleh pemilik toko tersebut nampaknya cukup besar setiap harinya. Namun, ia tidak mau dan tidak rela ‘berbagi rasa’ dengan para pengesmis, walaupun hanya seratus rupiah saja.

Sungguh sangat berbeda dengan kondisi ibu Asih, yang dagangannya jauh lebih kecil dibanding toko tersebut, tetapi ia mempunyai hati yang lembut dan rasa welas asih kepada para  peminta-minta.

Setelah saya amati sekian lama, hasil manfaat sedekah dari perilaku ibu Asih tersebut sungguh luar biasa. Saya perhatikan, barang dagangannya semakin lama semakin banyak. Dan klimaksnya, beberapa waktu yang lalu, ia dapat pergi menunaikan ibadah haji bersama suaminya.

Saya pun merenung. Allah telah mengganti seratus rupiah yang diperuntukkan bagi orang-orang miskin itu. Sekarang, dia tumbuh menjadi dua buah ONH untuk Bu Asih dan suaminya. Sungguh luar biasa inilah hasil dari manfaat sedekah!

Satu lagi yang dapat saya simpulkan, bahwa ucapan Alhamdulillah di bibir ibu Asih mempunyai timbangan setara dengan lima puluh juta rupiah. Subhanallah.

Apa janji Allah ? Simaklah firman-Nya,

“Barangsiapa yang mensyukuri nikmat-Ku, pasti akan Aku tambah, dan barangsiapa yang lalai dan kufur terhadap nikmat-Ku, maka tunggullah siksa-Ku amatlah pedih.” (Qs.Ibrahim: 7)

Melihat kisah keajaiban sedekah  sederhana dalam kehidupan semacam ini, sebagai orang yang beriman, tentu hati kita menjadi tergerak untuk menirunya. Meniru kelemah lembutan hatinya. Meniru kepeduliannya. Meniru rasa percaya dirinya akan balasan dari Allah. Dan meniru bagaimana cara mengungkapkan rasa syukurnya.

Yah, kadang-kadan manusia memang harus banyak belajar dari manusia lainnya. Bahkan, dari semua peristiwa yang telah terjadi. Karena semua peristiwa yang telah terjadi di dunia ini adalah contoh berharga yang harus kita pelajari, kita baca, dan kita renungkan. Semua itu merupakan ilmu Allah yang sangat mahal nilainya.

Dengan ‘modal’ seratus rupiah, Bu Asih bisa berangkat haji bersama suami!

Maka ingatlah, akan firman Allah, yang artinya:

“Maka ingatlah kepada-Ku, supaya Aku juga ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih.” (Al-Baqarah : 152)

Demikianlah Artikel  kisah keajaiban sedekah yang berjudul PERGI HAJI MODAL ”SERATUS RUPIAH” ini kami bagikan. mudah-mudahan dengan kita mengambil pelajaran dari kisah ini, kita menjadi hamba yang selalu bersyukur dan memberi kepada sesama. Aamiiin Ya Robbal ‘alamin..

MANFAAT SEDEKAH: ALI BIN ABI THOLIB RA (Memberi Tanpa Diminta)

ali-bin-abi-thalib-adalah-khalifah-yang-cakap-di-_110420130852-632Ali bin Abi Tholib  adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang diberi busyroh (kabar gembira) sebagai penghuni surga, tempat kenikmatan dan penuh keamanan sejati. Karena jiwa kedermawanannya, ia senantiasa berlomba-lomba untuk bersedekah meraih Surga-Nya. Sejak muda, ia senantiasa bersedekah untuk kemurnian dan kebangkitan Islam, rela mengorbankan jiwa dan hartanya, rela berlelah-lelah dan berpayah-payah guna merengkuh indahnya Surga, yang belum pernah dilihat dengan mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terbersit sedikit pun dalam sanubari.

Ali bin Abi Tholib  mampu mengendalikan keindahan dunia yang fana, ia tak sedikit pun terpesona dan terlena dengan kehidupan dunia yang menggiurkan. Ia tetap memilih tinggal di rumahnya yang sangat sederhana sampai berpisah dengan dunia, meskipun ia diminta untuk tinggal di istana negara yang tinggi, megah, indah, dan mempesona. Hidup baginya adalah untuk beramal dan bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Alloh , karena semakin jauh dari dunia, maka ia akan semakin dekat dan bergantung kepada-Nya. Ia menyadari, bahwa Alloh  telah memerintahkan kepadanya untuk menafkahkan sebagian harta yang ia miliki untuk dakwah fii Sabilillah sebelum datang al-maut (kematian) kepadanya lalu ia menyesal. Berdakwah membangunkan umat ini agar tersadar dari keterlenaan, menyadarkan mereka dari keterpurukan dan kebinasaan, serta mengajak mereka untuk kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan tatanan kehidupan para Salafush Sholih. Sebagaimana firman-Nya: ”Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian; lalu ia berkata: ”Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah (berinfaq), dan aku termasuk orang-orang yang sholih?.” (QS. Al-Munafiqun: 10).

Ketika Ali bin Abi Tholib  ditanya tentang sifat dermawan, ia menjawab: ”Sifat dermawan adalah seseorang yang mensedekahkan hartanya sejak awal dari niatnya. Jika dia memberikannya setelah diminta, maka kemungkinan besar ia memberikan harta tadi karena malu (dianggap pelit) atau karena dia memang berhati mulia.” (Taariikh Al-Khulafaa’ hal.17).

Maka, sudah semestinya kita sebagai hamba Alloh  yang beriman merasa terpanggil untuk menolong agama-Nya dengan bersedekah, mengeluarkan harta kita demi tegaknya agama Alloh  di muka bumi ini, menyelamatkan umat sebelum bencana dan musibah kehancuran datang. Dan tiada janji terindah selain dari janji Alloh  kepada kaum Mukminin yang senantiasa bersedekah menegakkan kalimat-Nya. Alloh  berfirman: ”Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Alloh, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS. Muhammad: 7)

Keajaiban Sedekah

Adapun buah keuntungan (faidah) dan janji Alloh  yang lain bagi mereka yang bersedekah di jalan-Nya, antara lain;

1. Pahalanya senantiasa mengalir setelah meninggal. (HR. Ibnu Majah)

2. Pahalanya berlipat ganda. (QS. al-Baqarah: 261)

3. Melapangkan jalan ke Surga dan menyumbat jalan ke Neraka. (QS. Ali Imran: 133-134)

4. Membawa keberuntungan dan merupakan pintu gerbang semua kebaikan. (QS. Al-Hasyr: 9)

5. Mendapat naungan di Padang Mahsyar. Rosululloh  bersabda: ”Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya, hingga diputuskan perkara-perkara di antara manusia.” (HR. Ahmad)

”Naungan seorang Mukmin di Hari Kiamat adalah sedekahnya.” (HR. Ahmad)

MANFAAT SEDEKAH : ABDURRAHMAN BIN ‘AUF RA (Milyuner Dermawan yang Sukses Dunia Akhirat)

manfaat sedekahAbdurrahman bin ’Auf  adalah salah seorang sahabat Rosululloh  yang terkenal sukses dalam perniagaan, ”sahabat bertangan emas”. Beliau seorang milyuner di Madinah. Keberuntungan Abdurrahman dalam perniagaan memang sangat luar biasa. Perniagaan baginya bukan berarti rakus dan hina. Bukan pula gemar menumpuk harta atau hidup mewah dan ria! Justru itu adalah suatu amal dan tugas kewajiban yang keberhasilannya akan menambah dekatnya jiwa kepada Alloh  dan berqurban di jalan-Nya.

Ketika perang Badar meletus, Abdurrahman bin ’Auf  turut berjihad dan banyak mengorbankan hartanya untuk dakwah Islam, begitu juga dalam perang Uhud dan Tabuk. Saat perang berakhir, Abdurrahman  mendapat hadiah sembilan luka parah menganga di tubuhnya dan dua puluh luka-luka kecil yang di antaranya ada yang sedalam anak jari. Walaupun demikian, perjuangannya di medan tempur jauh lebih kecil dibandingkan pengorbanannya dengan harta benda. Dia tidak sedikit pun ragu mengeluarkan hartanya untuk kemurnian Islam.

HADIST TENTANG SEDEKAH

Pernah suatu ketika Rosululloh SAW  membangkitkan semangat jihad dan pengorbanan kaum muslimin. Beliau berdiri di tengah-tengah para sahabat, seraya bersabda,”Jika kalian ada yang mau bersedekah, maka bersedekahlah. Saya ingin mengirim satu pasukan ke medan perang!” Mendengar seruan Rosululloh , Abdurrahman  bergegas pulang dan mensedekahkan dua ribu dinar kepadanya.

Kedermawanan Abdurrahman bin ’Auf  dapat juga  dilihat ketika berlangsung perang Tabuk, dia turut mempelopori dengan mensedekahkan dua ratus uqiyah emas. Setelah Rosululloh  wafat, Abdurrahman bin Auf  bertugas menjaga keselamatan dan kesejahteraan Ummahatul Mu’minin (para istri Rosululloh ) dalam menyebarkan dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hingga ia pernah membeli sebidang tanah berharga empat ribu dinar. Dalam kesempatan inilah Alloh  memuliakan Abdurrahman  dengan kemuliaan yang belum pernah diperoleh siapa pun. Akhirnya, ia dikatakan oleh Rosululloh  termasuk salah seorang sahabat yang memiliki sifat sabar dan dijamin masuk surga dengan perlahan-lahan, karena surga sudah dekat sekali kepadanya. Sejak saat itu, semangat Abdurrahman  semakin memuncak dalam mengorbankan kejayaannya ke jalan Alloh. Hartanya dinafkahkannya dengan kedua belah tangannya, sehingga mencapai 40.000 dirham perak. Kemudian menyusul juga 40.000 dinar emas. Sesudah itu, dia bersedekah lagi 200 uqiyah emas. Lalu disedekahkannya 500 ekor kuda kepada para pejuang. Sesudah itu 1.500 ekor unta untuk pejuang-pejuang yang lain.

Menjelang wafatnya, Abdurrahman bin ’Auf  pun memerdekakan sejumlah besar budak-budak yang dimilikinya. Kemudian mewasiatkan agar mensedekahkan 400 dinar emas kepada masing-masing mantan pejuang perang Badar yang berjumlah tidak kurang dari 100 orang. Dia juga berwasiat agar mensedekahkan hartanya yang paling mulia untuk Ummahatul Mu’minin, sehingga Aisyah  sering mendo’akannya, ”Semoga Alloh memberinya minum dengan minuman dari telaga Salsabil!”

Walhasil, bahwa Abdurrahman bin ’Auf  adalah seorang milyuner yang sukses, Iinilah manfaat sedekah disebabkan kedermawanannya mendapat kebahagiaan dan ribuan karunia dari Alloh Ta’ala , karena dia berhasil menundukkan kepalsuan dunia, dengan mengorbankan hartanya untuk da’wah di jalan Alloh.

MANFAAT SEDEKAH: KEDERMAWANAN UTSMAN BIN AFFAN

Kisah sedekahBanyak  ayat maupun hadits Rosululloh  yang menjelaskan bahwa bersedekah untuk da’wah adalah amal yang mulia dalam Islam, tingginya kedudukan orang yang bersedekah tidak hanya di akhirat semata, melainkan juga berlaku di dunia. Maka barangsiapa yang loyal, akan terangkat derajatnya, dan bagi yang bakhil akan terhina. Rosululloh  bersabda: ”Orang yang baik di dunia akan menjadi orang yang baik di akhirat.” (HR. Bukhari)

Alloh  pun menjelaskan dalam ayat-Nya yang mulia, bahwa bersedekah dapat menjadikan pelakunya memiliki harta yang berlimpah, ”Katakanlah, ’Sesungguhnya Rabbku melapangkan rizqi bagi siapa yang dikehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya). Dan apa saja yang kalian infaqkan, maka Alloh akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya’.” (QS. Saba’: 39).

Utsman bin Affan  termasuk salah seorang yang menerima Islam di awal perjalanan dakwah Islam. Dia adalah laki-laki yang mendapat gelar Dzun Nurain langsung dari langit, karena dia menantu Rosululloh  yang dinikahkan dengan dua orang putrinya. Beliau memiliki akhlak yang mulia, sangat pemalu, dermawan dan terhormat, senantiasa mendorong keluarga dan familinya agar lebih mendahulukan sesuatu yang kekal daripada sesuatu yang fana dan tidak mempersulit dalam segala urusan mereka. Di antara kedermawanannya adalah beliau mempersiapkan persediaan perang bagi tentara yang berada dalam kesulitan (jaisy al-’usrah, yakni pada perang tabuk).

Hadits Tentang Sedekah

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abdurrahman bin Khabbab dia berkata: Saya menyaksikan Rosululloh memerintahkan pasukan Islam yang berada dalam keadaan sulit (jaysyul ’usrah). Saat itu Utsman berkata, ”Wahai Rosululloh saya akan menanggung seratus ekor unta lengkap dengan alas pelana dan pelananya untuk berjuang di jalan Alloh.”

Kemudian Rosululloh  menyeru kaum muslimin untuk berangkat dan berperang. Utsman   kembali berkata, ”Saya tanggung dua ratus unta lengkap dengan pelananya untuk berjuang di jalan Alloh.

Untuk yang ketiga kalinya Rosululloh  juga menyerukan kaum muslimin untuk berangkat ihad di jalan Alloh. Kembali Utsman berkata, ”Saya tanggung tiga ratus unta dengan sarananya yang lengkap untuk jihad di jalan Alloh ini.” Karena kedermawanannya, Utsman  pun datang menjumpai Rosululloh dengan membawa seribu dinar tatkala dia sedang mempersiapkan Jaysy al-‘Usrah., sehingga Rosululloh  menyampaikan berita gembira kepadanya, bahwa beliau adalah penduduk surga, sebagaimana sabda Rosululloh  : “Barangsiapa yang mendanai pasukan ‘Usrah, maka untuknya surga.” Maka Utsman mendanai pasukan tersebut. (HR. Bukhari)

Beliau  bersabda lagi:  “Siapa saja yang menggali Sumur Rumata, maka untuknya surga.” Maka sumur itu digali oleh Utsman. (HR. Bukhari).

Semoga Alloh  mencurahkan rahmat-Nya kepada Utsman bin Affan  dan memberinya sebaik-baik ganjaran yang diberikan kepada para wali (kekasih) Alloh, inilah keajaiban sedekah Utsman bin Affan dan  jasa yang telah diberikan kepada Islam dan umat Islam. Kita pun memohon kepada-Nya semoga Dia membimbing hati para hartawan untuk bergerak mendermakan hartanya di jalan Alloh  “dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah” sebelum kematian menjemput, karena kita sadar bahwa kematian akan lebih cepat menjemput kita semua, dan pasti datang tiada yang sanggup menolaknya.

Maka renungkanlah sabda Rosululloh  dari Asma binti Abu Bakar: ”Infaqkanlah hartamu dan jangan kamu perhitungkan, karena Alloh akan perhitungan denganmu. Dan jangan menunda-nunda karena Alloh akan mnunda-nunda pula atasmu.” (HR. Bukhari & Muslim).

Manfaat Sedekah: Saatnya Memberi, Bukan Memiliki

“Kenapa kalian tidak mau berinfak fii sabilillah, padahal milik Alloh-lah perbendaharaan yang ada di langit dan di bumi…” (QS: al-Hadiid : 10)

manfaat sedekahSetiap Muslim harusnya menyadari bahwa harta yang dia miliki adalah titipan dari Alloh , sebab Alloh-lah yang memudahkan baginya untuk mendapatkan rizki. Kalau bukan karena rahmat Alloh , tentu manusia menjadi orang yang miskin dan kelaparan. Jadi pemilik sesungguhnya atas harta yang ada di tangan kita adalah Alloh . Manusia hanya diberi amanah agar mengolah harta itu dijalan yang diridhoi-Nya.

Masih banyak di antara kaum Muslimin yang memiliki sifat Qorun, ingin mengumpulkan harta yang banyak, seolah-olah dia akan hidup di dunia selamanya tanpa mengenal kematian. Bahkan mungkin dia mencintai harta itu melebihi cintanya kepada Alloh, begitulah asal tabi’at manusia:

 “Dan sesungguhnya manusia sangat kuat mencintai hartanya.(QS: al-‘Adiyat: 8)

Hitunglah berapa banyak harta yang kita belanjakan setiap hari untuk makanan, minuman, dan pakaian, demi memuaskan nafsu syahwat? Coba bandingkan itu semua dengan harta yang kita sedekahkan untuk menolong jalan Alloh ! Adakah lima persennya? Masih terlalu jauh. Bahkan boleh jadi tidak pernah sama sekali.

Seandainya semua manusia mempunyai tabiat buruk seperti ini, agama ini tidak akan sampai ke puncak kejayaan yang diharapkan. Tidak mungkin dakwah  Islam bisa tersebar apabila jiwa-jiwa “Qoruniyah” masih mengakar di dada-dada kaum Muslimin. Belum cukupkah bagi kita tuk menjadikan kisah Qorun sebagai ibroh(pelajaran)?? Ataukah kita merasa aman dari makar Alloh tuk membinasakan kita bersamaan dengan harta yang kita tumpuk? Sudah saatnya kita hancurkan berhala “cinta harta” di dada-dada kita, dan kita jauhkan penyembahan kepada harta, sebelum laknat dari Rosululloh  menimpa kita. Beliau mendo’akan keburukan bagi para penghamba harta;

hadist tentang sedekah

 “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khomishoh (sejenis pakaian). Celakalah dan sungguh celaka. Jika ia tertusuk duri semoga tidak bisa tercabut” (HR. Bukhori).

 kisah keajaiban sedekah

Adalah Imam al-Laits bin Sa’d  beliau mempunyai pemasukan uang sebesar delapan puluh ribu dinar (sekitar 112 milyar) setiap tahunnya, namun beliau tidak pernah mengeluarkan zakat. Apakah karena beliau bakhil(pelit)?? Tidak..!!, tapi karena harta beliau habis semuanya, disedekahkan sebelum sampai haulnya (1 tahun).

Ingatlah wahai saudaraku, pundi-pundi harta yang disedekahkan di jalan Alloh akan berkata  kepada Alloh di hari kiamat nanti; “Yaa Robb, aku adalah sedekah fulan, selamatkanlah ia dari neraka dan masukkanlah ke dalam surga”. Sebaliknya, apabila tumpukan harta itu tetap disimpan, maka pada hari kiamat nanti ia menjelma menjadi ular hitam besar yang melilit dan berkata kepada pemiliknya: ”Akulah hartamu”.

Setelah seruan sedekah ini, silahkan anda tentukan pilihan anda sendiri. Jenis harta seperti apa yang kita inginkan? Harta yang menyelamatkan ke dalam surga ataukah harta yang akan menjerumuskan ke dalam kubangan api neraka.

“Ingatlah, kalian ini adalah suatu kaum yang diseru untuk berinfak fii sabilillah, lalu di antara kalian ada yang pelit. Barangsiapa yang pelit maka sesungguhnya ia pelit terhadap dirinya sendiri…”(QS: Muhammad: 38)

Oleh : Ridwan Zarkasyi rhm

KISAH SEDEKAH: KEDERMAWANAN UMAR BIN AL-KHATHTHAB

Kisah sedekahBersedekah merupakan amal sholih yang menuntut keikhlasan niat dengan mengharap pahala di sisi-Nya. Seorang mu’min harus mencegah dirinya dari hal-hal yang dapat menggugurkan seluruh kerja dan aktifitasnya, sebuah amalan yang dilandasi keikhlasan yang besar dan sempurna, tentu juga akan mendapatkan balasan yang besar dan sempurna pula. Mengikhlaskan segala amal perbuatan hanya untuk Alloh  adalah inti ajaran Islam dan kunci dakwah para Rosul. Jadi, demikian agungnya urgensi ikhlas bagi setiap amal untuk kepentingan akhirat dan bagi setiap orang yang meniti jalan kepada Alloh . Dengan hujah iman yang nyata dan cahaya Al-Qur’an, orang-orang yang mempunyai hati mengetahui bahwa kebahagiaan tak mungkin tercapai kecuali dengan ilmu dan ibadah. Semua orang pasti akan binasa kecuali orang-orang yang berilmu. Orang-orang yang berilmu pasti akan binasa kecuali orang yang aktif beramal. Semua orang yang aktif beramal akan binasa kecuali yang ikhlas.

Amal yang tidak disertai ikhlas adalah gambar mati, raga tanpa jiwa. Alloh  hanya menginginkan hakikat amal, bukan rupa dan bentuknya. Maka dari itu Alloh  menolak setiap amal yang pelakunya tertipu dengan amalnya. Rosulullah  bersabda: ”Sesungguhnya Alloh tidak melihat kepada badan, wajah, dan rupa-rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian.”Beliau memberi isyarat ke arah hati dengan jari-jari tangannya, dan berkata: ”Takwa itu terletak di sini.” Dan beliau memberi isyarat ke arah dadanya (tiga kali). (HR.Muslim dari Abu Hurairah).

Umar bin Al-Khaththab  adalah salah seorang sahabat Nabi  yang ikhlas dalam bersedekah, dan ia tidak ingin ada manusia yang mengetahui amalnya, tetapi ia hanya menginginkan hanya Alloh  yang mengetahuinya. Ia tidak ingin orang lain tahu bahwa ia seorang yang dermawan. Akan tetapi ia berusaha menyembunyikan sedekahnya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. Karena kedermawanannya pula, maka pada masa Umar bin Al-Khaththab , kita akan mendapati begitu banyaknya wilayah-wilayah yang masuk Islam, sehingga pemerintahannya menjadi imperium Islam. Maka, kita pun dapat mengetahui sosok Umar bin Al-Khaththab  sebagai pemimpin yang sangat memperhatikan rakyat kecil, dan berjiwa sangat sederhana! Hal ini tersirat di antaranya dalam serah terima tanah Palestina kepada Khalifah Umar bin Al-Khaththab . Dia juga mengorbankan segala yang dimilikinya untuk menolong Rasullah . Ia pun tinggal di rumah biasa dan hidup sebagai rakyat biasa di kota Madinah. Meskipun ia hidup dalam kesederhanaan, namun dengan jiwa semangat bersedekah senantiasa tumbuh, mengeluarkan hartanya untuk dakwah di jalan Alloh . Sekalipun demikian beliau sangat disegani segala pihak dan ditakuti dengan penuh kehormatan. Inilah keajaiban sedekah,manfaat sedekah, dan keutamaan sedekah Khalifah Umar bin Al-Khaththab

hadist tentang sedekah

Diriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’ad , beliau berkata, “Hafshah  berkata kepada ‘Umar, ‘Wahai Amirul Mukminin, alangkah baiknya jika engkau memakai pakaian yang paling bagus dan makan dari makanan yang paling enak, karena Alloh telah meluaskan rizki dan harta kepadamu.’ Lalu ‘Umar berkata, ‘Sesungguhnya aku akan mengajukan pertanyaan kepadamu, apakah engkau tidak ingat kesulitan yang telah menimpa Rasullah  begitu pula Abu Bakar ?’ Senantiasa Hafshah mengingat kata-kata tersebut sehingga beliau menangis, lalu ‘Umar berkata kepadanya, “Sungguh aku akan menyertai mereka di dalam kehidupan yang sangat sulit, sehingga aku dapat merasakan kehidupan mereka berdua yang sangat indah.'” (HR.Ahmad). Wallohu a’lam.

KISAH SEDEKAH: KEDERMAWANAN ABU BAKAR ASH SHIDDIQ

kisah sedekahBersedekah di jalan Alloh  adalah amal yang sangat luhur, mulia di sisi Alloh . Dia melipatgandakan pahala-Nya hingga tujuh ratus kali, juga menjanjikan pahala yang banyak bagi orang yang mau menginfaqkan hartanya sebagaimana firman-Nya: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Alloh adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Alloh melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Alloh Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS.Al-Baqarah: 261).

hadist tentang sedekah

Abu Bakar  adalah salah seorang shahabat dekat Nabi . Ia selalu beramal dalam kebaikan, dan tidak pernah tanggung-tanggung dalam mensedekahkan hartanya di jalan Alloh. Ia memberikan semua hartanya di jalan Alloh . Salah satu contoh kedermawanannya adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi dari Umar bin Khathab . Ia berkata, “Rasulullah memerintahkan kami untuk bersedekah. Pada saat itu aku memiliki harta. Lalu aku berkata, ‘Hari ini aku akan dapat mendahului Abu Bakar. Lalu aku datang membawa separuh dari hartaku. Rasulullah  bertanya, ‘Tidakkah kau sisakan untuk keluargamu?‘ Aku menjawab,’Aku telah menyisakan sebanyak ini.’ Lalu Abu Bakar datang dan membawa harta kekayaannya. Rasulullah  bertanya, ‘Apakah kamu sudah menyisakan untuk keluargamu?‘ Abu Bakar menjawab, ‘Saya telah menyisakan Alloh dan Rasulullah  bagi mereka.’ Aku (Umar) berkata, “Demi Alloh, saya tidak bisa mengungguli Abu Bakar sedikitpun.

Keridhoan pun tertanam pada jiwa putrinya yaitu Asma’  dalam riwayatnya, “Tatkala Rasulullah pergi bersama Abu Bakar, dan Abu Bakar membawa seluruh hartanya sebanyak lima atau enam ribu dirham. Lalu kakekku, Abu Quhafah datang kepada kami. Saat itu beliau sudah buta. Kakek berkata: “Demi Alloh, sungguh saya berpendapat bahwa ia telah menyakiti kalian dengan menafkahkan seluruh hartanya untuk kepentingannya sendiri. Asma’   berkata, “Tidak begitu Kek, sesungguhnya ayah telah meninggalkan harta yang banyak untuk kami.” Asma’  melanjutkan ucapannya, “Lalu aku mengambil beberapa batu dan meletakkan pada lubang rumah yang menjadi tempat penyimpanan harta ayahku. Kemudian saya meletakkan pakaian di atas batu-batu tersebut. Lalu saya menarik kakek seraya berkata, “Wahai kakek, letakkan tanganmu di atas batu ini.” Asma berkata, “Lalu kakekku meletakkan tangannya di atasnya, lalu berkata, “Tidak mengapa kalau dia telah meninggalkan buat kalian barang ini. Sesungguhnya dia telah berbuat baik dan hal ini adalah kelanjutan hidup kalian.” Demi Alloh, ayahku tidaklah meninggalkan untuk kami, akan tetapi aku melakukan hal itu hanya agar kakekku tenang.” (HR. Ahmad).

Begitulah kisah sedekah, keutamaan sedekah, keajaiban sedekah dan kedermawanan Abu Bakar  yang menyerahkan seluruh harta kekayaannya dengan penuh keikhlasan. Lalu berapa persenkah harta yang telah kita sedekahkankan di jalan Alloh, untuk Islam ini? Berapapun persen yang kita sedekahkan dari harta kita dengan istiqomah dan kontinyu, maka sudah luar biasa meskipun itu masih jauh dari apa yang dilakukan oleh Abu Bakar . Betapa banyak  jalan menuju surga, namun masih banyak orang yang merasa berat menitinya. Semoga Alloh  menganugerahkan hidayah taufiq-Nya kepada kita semua, sehingga dengannya kita diberi kemauan dan kemampuan untuk bersedekah di jalan Alloh.

KEAJAIBAN SEDEKAH:PEDAGANG WARTEG BERSEDEKAH

keajaiban sedekahIni kisah kejaiban sedekah pasangan muda penjual nasi pinggir jalan, yang lebih dikenal dengan sebutan Warteg (Warung Tegal). Di tangan mereka, hanya ada uang 1 juta rupiah. Uang itu seharusnya dipakai untuk membayar sewa kontrakan rumah mereka. Namun, si suami begitu semangat ingin menyedekahkan uang itu.

“Kita sedekahkan saja uang kontrakan itu, Bu,” kata Si suami. “Kita bakal dibalas Allah minimal 10 kali lipat,” begitu Si suami melanjutkan.

“Tapi, ini tinggal uang buat kita bayar kontrakan lho, Pak,” Sahut istrinya. Istrinya deg-degan juga, dengan melepas uang 1 juta rupiah itu, mana tahu nanti malahan apes. Kalau sampai tidak balik lagi uang 1 juta itu, mereka pasti akan diusir si empunya kontrakan. “Mau tidur di mana nanti?” Begitu ungkapan kegelisahan si istri.

Namun, si suami tetap bersikukuh untuk menyedekahkan uang 1 juta itu. Singkat cerita, uang 1 juta itu kemudian mereka sedekahkan.

“Mudah-mudahan manfaat sedekah uang kontrakan ini Allah akan mengganti dengan yang lebih baik. Mungkin bulan depan kita sudah pindah ke rumah gedong itu,” kata suami sambil menunjuk rumah gedung yang memang ada tulisannya “Dijual, hubungi no Hp 0811xxxxxxx” dengan penuh optimis.

Dari sinilah kini suami istri itu setiap hari menunggu keajaiban sedekah yang akan terjadi. Satu hari, dua hari, belum ada perubahan mendasar terhadap kehidupan rumah tangganya. Seminggu, dua minggu, dan masuk minggu keempat pasangan ini sudah mulai gelisah.

Begitulah tabiat dasar manusia, semuanya menginginkan hasil cepat dan sekali jadi. Hari ini menanam, besok maunya langsung panen. Namun, bukankah semuanya butuh proses? Dalam kondisi seperti itu, pasangan tersebut mulai belajar apa artinya sabar.

Allah tidak pernah mengingkari jnji, karena memang tidak mungkin dan tidak patut bagi sifat Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Kita saja yang kurang bersabar.

Menjelang akhir bulan, datang utusan di sebuah perusahaan yang sedang ditimpa masalah internal. Utusan iu menemui pemilik warung tersebut dan menawarkan suatu kontrak untuk menyuplai nasi bungkus dalam jumlah besar. Tidak ada angin tidak ada hujan. Seumur hidup, belum pernah terpikirkan bahwa mreka aan mendapatkan orderan sebesar itu.

“Bapak sanggup, nggak? Kalau enggak sanggup, kami akan mencari orang lain. Ini tawaran besar. Kalau bapak sanggup kami akan membuat kontrak.”

“Memangnya, Bapak pesan berapa bungkus?” Tanya penjual nasi dengan penuh tanda tanya. Dia bertanya seperti itu karena biasanya pesanan dari perusahaan yang ada di dekat warung itu cuma beberapa ratus bungkus saja.

“Lima belas ribu bungkus, sehari tiga kali makan. Nasi sebanyak itu untuk pengungsi yang menjadi tanggungan kami. Bagaimana? Bapak sanggup?”

“Sanggup.” Entah dari mana datangnya keberanian untuk menganggukkan kepala, tahu-tahu seperti ada yang menggerakkan kepalanya untuk mengangguk begitu saja. Dari anggukan kepala itulah pemilik warteg itu mendapatkan keuntungan yang luar biasa. Hitungan kasar 15.000 x 3.000 x 3 = Rp 1,35 miliar.

Awal bulan berikutnya, mereka sudah pindah ke rumah yang dahulunya hanya di angan-angan. Kini, rumah itu sudah atas nama penjual nasi itu.

Demikianlah Artikel  kisah keajaiban sedekah yang berjudul PEDAGANG WARTEG BERSEDEKAH ini kami bagikan. mudah-mudahan dengan kita mengambil pelajaran dari kisah ini, kita menjadi hamba yang selalu bersyukur dan memberi kepada sesama. Aamiiin Ya Robbal ‘alamin..