kisah sedekah Archives - Yayasan Takrimul Quran

Yayasan Takrimul Quran

“Janganlah Menjatuhkan Dirimu Sendiri Ke Dalam Kebinasaan”

manfaat-sedekah-Dan belanjakanlah (harta bendamu) dijalan Allah swt., dan janganlah menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan , dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.’’ (Q.s. Al-Baqarah: 195)

hadist tentang sedekah

Hudzaifah r.a. berkata bahwa yang dimaksud dengan janganlah menjatuhkan dirimu sendiri kedalam  kebinasaan adalah tidak mau menginfakan harta di jalan Alloh karena takut miskin. Ibnu Abbas r.hum. berkata bahwa yang di maksud menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan bukan terbunuhnya seseorang di jalan Alloh swt., tetapi tidak mau membelanjakan harta dijalan Allah swt.. Dhahhak bin jubair r.a. berkata bahwa orang-orang anshar selalu membelanjakan harta dijalan Allah swt. Dan selalu bersedekah . pernah suatu ketika,  pada saat terjadi kelaparan  selama setahun, pikiran mereka menjadi kalut sehingga mereka tiadk mau menginfakan harta mereka di jalan Allah swt.. terhadap peristiwa inilah ayat tersebut di turunkan. Aslam r.a. berkata, “ Ketika kami ikut serta dalam peperangan konstatinopel, tiba-tiba sepasukan orang kafir yang besar jumlahnya datang untuk menyerang kami. Pada waktu itu seseorang dari kaum muslimin masuk ke dalam barisan orang-orang kafir seorang diri sambil membawa pedang.

Orang-orang islam lainnya berteriak bahwa orang tersebut telah menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan. Ayyub Anshari r.a.  yang juga ikut serta dalam pertempuran tersebut berkata bahwa yang demikian itu bukan menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan. Ia berkata , “Mengapa kalian mengartikan ayat itu seperti itu , ayat ini turun berkenaan peristiwa yang kami alami. Ketika islam mulai berkembang dan telah bermunculan para pembela agama, diam-diam kami, orang-orang Anshar  berpikir bahwa sekarang Allah swt. Telah memberikan kemenangan kepada islam dengan lahirnya para pembela agama, sedangkan harta benda kami seperti sawah, ladang, dan sebagainya, karena lama tidak terurus mulai rusak.  Untuk itu, kami bermaksud untuk mengurusi dan memperbaiki sawah ladang . terhadap peristiwa itulah ayat tersebut diturunkan. Dengan demikian yang dimaksud menjerumuskan diri dalam kebinasaan adalah sibuk mengurusi harta kekayaan sendiri dan meninggalkan jihad.” (Durrul-Mantsur)    

Keajaiban Sedekah: Khodijah binti Khuwailid

keajaiban sedekahKali ini kita akan berjumpa dengan simbol kesucian, kehormatan, dan ketakwaan. Sekuntum bunga yang menyebarkan aroma wewangian, sehingga memenuhi atmosfer seluruh penjuru dunia dengan keharuman iman, pengorbanan, kedermawanan dan pembelaan. Dia adalah Ummul Mukminin, Ummu al-Qasim Khodijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul ‘Uzza bin Qushai bin Kilab. Keturunan suku Quraisy dari keluarga Bani Asad.

Bukan hanya menjadi istri pertama yang sangat dicintai Rosululloh , Khodijah  juga memiliki banyak keistimewaan, sebagaimana yang disebutkan Imam Ibnu Katsir , “Khodijah adalah wanita pertama yang dinikahi Rosululloh  dan menurut pendapat yang shohih, Khodijah adalah orang pertama yang beriman kepadanya.” Khodijah adalah orang pertama yang sholat bersama Nabi . Wanita pertama yang memberi keturunan kepada Nabi . Wanita pertama di antara istri-istri Nabi  yang mendapat berita dijamin masuk surga. Orang pertama yang menerima ucapan salam dari Alloh . Orang pertama yang kuburannya dipersiapkan Nabi . Dan masih banyak lagi tidak akan cukup ditulis dalam kolom ini.

Khodijah beriman kepada Nabi  di saat semua orang kufur kepadanya. Membenarkan risalah Nabi  di saat semua orang mendustakannya. Mengorbankan harta untuk kepentingan Beliau  di saat semua orang enggan memberinya. Membantu menyampaikan risalah Alloh , ikut merasakan kesusahan dan kepahitan da’wah dan mendukung perjuangan melawan hegemoni Quraisy dengan jiwa dan sedekah seluruh hartanya. Seluruhnya… Ya seluruhnya. Harta yang perbandingan satu kafilah dagang Khodijah yang dikirim ke Syam, setara dengan konsorsium beberapa kafilah dagang Quraisy. Khodijah rela mengorbankan hartanya untuk membiayai kehidupan Nabi , sementara Beliau  sendiri yang mengendalikan perniagaannya.

Khodijah  adalah seorang wanita yang sangat dermawan dan pemurah. Hingga apa yang disenangi suami tercinta, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk dapat membahagiakan hati suaminya. Ketika suaminya memutuskan untuk mengasuh sepupunya, Ali bin Abi Thalib, Khodijah menyambutnya dengan hati yang lapang dan penuh kasih sayang mengasuhnya bagaikan anak kandung sendiri. Begitu pula ketika Khodijah merasa bahwa suaminya sangat menyukai Zaid bin Haritsah, maka ia segera menghibahkan Zaid kepada suaminya .

Demikian kita bisa mengingat sela-sela pertemuan yang hangat antara Rosulullohdengan Halimah as-Sa’diyyah, Ibu susu Beliau . Tatkala Halimah datang dengan aduan kondisi hidupnya yang semakin sulit dan kekeringan yang menimpa kampung Bani Sa’ad, sehingga hidupnya semakin terjepit dan kemiskinan semakin menjadi-jadi. Rosululloh  langsung berbicara dengan istrinya, Khodijah, dengan suara berat karena terpengaruh aduan sang Ibu. Khodijah membalasnya dengan hati yang penuh kasih sayang. Dengan senang hati, ia menyerahkan 40 ekor kambing dan seeokor unta untuk membawa air serta perbekalan yang cukup hingga Halimah sampai di kampung halamannya. Itulah keajaiban sedekah ibunda kita, Khodijah , teladan yang tidak akan muncul lagi dalam pentas sejarah. Hidupnya dihabiskan untuk tetap mendukung dan membela Rosululloh dalam menyampaikan da’wah Alloh . Semoga Alloh  memberikan keridhoan kepadanya, serta menjadikan Firdaus sebagai persinggahan terakhirnya. Aamiin.

MANFAAT SEDEKAH: KEDERMAWANAN UTSMAN BIN AFFAN

Kisah sedekahBanyak  ayat maupun hadits Rosululloh  yang menjelaskan bahwa bersedekah untuk da’wah adalah amal yang mulia dalam Islam, tingginya kedudukan orang yang bersedekah tidak hanya di akhirat semata, melainkan juga berlaku di dunia. Maka barangsiapa yang loyal, akan terangkat derajatnya, dan bagi yang bakhil akan terhina. Rosululloh  bersabda: ”Orang yang baik di dunia akan menjadi orang yang baik di akhirat.” (HR. Bukhari)

Alloh  pun menjelaskan dalam ayat-Nya yang mulia, bahwa bersedekah dapat menjadikan pelakunya memiliki harta yang berlimpah, ”Katakanlah, ’Sesungguhnya Rabbku melapangkan rizqi bagi siapa yang dikehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya). Dan apa saja yang kalian infaqkan, maka Alloh akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya’.” (QS. Saba’: 39).

Utsman bin Affan  termasuk salah seorang yang menerima Islam di awal perjalanan dakwah Islam. Dia adalah laki-laki yang mendapat gelar Dzun Nurain langsung dari langit, karena dia menantu Rosululloh  yang dinikahkan dengan dua orang putrinya. Beliau memiliki akhlak yang mulia, sangat pemalu, dermawan dan terhormat, senantiasa mendorong keluarga dan familinya agar lebih mendahulukan sesuatu yang kekal daripada sesuatu yang fana dan tidak mempersulit dalam segala urusan mereka. Di antara kedermawanannya adalah beliau mempersiapkan persediaan perang bagi tentara yang berada dalam kesulitan (jaisy al-’usrah, yakni pada perang tabuk).

Hadits Tentang Sedekah

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abdurrahman bin Khabbab dia berkata: Saya menyaksikan Rosululloh memerintahkan pasukan Islam yang berada dalam keadaan sulit (jaysyul ’usrah). Saat itu Utsman berkata, ”Wahai Rosululloh saya akan menanggung seratus ekor unta lengkap dengan alas pelana dan pelananya untuk berjuang di jalan Alloh.”

Kemudian Rosululloh  menyeru kaum muslimin untuk berangkat dan berperang. Utsman   kembali berkata, ”Saya tanggung dua ratus unta lengkap dengan pelananya untuk berjuang di jalan Alloh.

Untuk yang ketiga kalinya Rosululloh  juga menyerukan kaum muslimin untuk berangkat ihad di jalan Alloh. Kembali Utsman berkata, ”Saya tanggung tiga ratus unta dengan sarananya yang lengkap untuk jihad di jalan Alloh ini.” Karena kedermawanannya, Utsman  pun datang menjumpai Rosululloh dengan membawa seribu dinar tatkala dia sedang mempersiapkan Jaysy al-‘Usrah., sehingga Rosululloh  menyampaikan berita gembira kepadanya, bahwa beliau adalah penduduk surga, sebagaimana sabda Rosululloh  : “Barangsiapa yang mendanai pasukan ‘Usrah, maka untuknya surga.” Maka Utsman mendanai pasukan tersebut. (HR. Bukhari)

Beliau  bersabda lagi:  “Siapa saja yang menggali Sumur Rumata, maka untuknya surga.” Maka sumur itu digali oleh Utsman. (HR. Bukhari).

Semoga Alloh  mencurahkan rahmat-Nya kepada Utsman bin Affan  dan memberinya sebaik-baik ganjaran yang diberikan kepada para wali (kekasih) Alloh, inilah keajaiban sedekah Utsman bin Affan dan  jasa yang telah diberikan kepada Islam dan umat Islam. Kita pun memohon kepada-Nya semoga Dia membimbing hati para hartawan untuk bergerak mendermakan hartanya di jalan Alloh  “dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah” sebelum kematian menjemput, karena kita sadar bahwa kematian akan lebih cepat menjemput kita semua, dan pasti datang tiada yang sanggup menolaknya.

Maka renungkanlah sabda Rosululloh  dari Asma binti Abu Bakar: ”Infaqkanlah hartamu dan jangan kamu perhitungkan, karena Alloh akan perhitungan denganmu. Dan jangan menunda-nunda karena Alloh akan mnunda-nunda pula atasmu.” (HR. Bukhari & Muslim).

Manfaat Sedekah: Saatnya Memberi, Bukan Memiliki

“Kenapa kalian tidak mau berinfak fii sabilillah, padahal milik Alloh-lah perbendaharaan yang ada di langit dan di bumi…” (QS: al-Hadiid : 10)

manfaat sedekahSetiap Muslim harusnya menyadari bahwa harta yang dia miliki adalah titipan dari Alloh , sebab Alloh-lah yang memudahkan baginya untuk mendapatkan rizki. Kalau bukan karena rahmat Alloh , tentu manusia menjadi orang yang miskin dan kelaparan. Jadi pemilik sesungguhnya atas harta yang ada di tangan kita adalah Alloh . Manusia hanya diberi amanah agar mengolah harta itu dijalan yang diridhoi-Nya.

Masih banyak di antara kaum Muslimin yang memiliki sifat Qorun, ingin mengumpulkan harta yang banyak, seolah-olah dia akan hidup di dunia selamanya tanpa mengenal kematian. Bahkan mungkin dia mencintai harta itu melebihi cintanya kepada Alloh, begitulah asal tabi’at manusia:

 “Dan sesungguhnya manusia sangat kuat mencintai hartanya.(QS: al-‘Adiyat: 8)

Hitunglah berapa banyak harta yang kita belanjakan setiap hari untuk makanan, minuman, dan pakaian, demi memuaskan nafsu syahwat? Coba bandingkan itu semua dengan harta yang kita sedekahkan untuk menolong jalan Alloh ! Adakah lima persennya? Masih terlalu jauh. Bahkan boleh jadi tidak pernah sama sekali.

Seandainya semua manusia mempunyai tabiat buruk seperti ini, agama ini tidak akan sampai ke puncak kejayaan yang diharapkan. Tidak mungkin dakwah  Islam bisa tersebar apabila jiwa-jiwa “Qoruniyah” masih mengakar di dada-dada kaum Muslimin. Belum cukupkah bagi kita tuk menjadikan kisah Qorun sebagai ibroh(pelajaran)?? Ataukah kita merasa aman dari makar Alloh tuk membinasakan kita bersamaan dengan harta yang kita tumpuk? Sudah saatnya kita hancurkan berhala “cinta harta” di dada-dada kita, dan kita jauhkan penyembahan kepada harta, sebelum laknat dari Rosululloh  menimpa kita. Beliau mendo’akan keburukan bagi para penghamba harta;

hadist tentang sedekah

 “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khomishoh (sejenis pakaian). Celakalah dan sungguh celaka. Jika ia tertusuk duri semoga tidak bisa tercabut” (HR. Bukhori).

 kisah keajaiban sedekah

Adalah Imam al-Laits bin Sa’d  beliau mempunyai pemasukan uang sebesar delapan puluh ribu dinar (sekitar 112 milyar) setiap tahunnya, namun beliau tidak pernah mengeluarkan zakat. Apakah karena beliau bakhil(pelit)?? Tidak..!!, tapi karena harta beliau habis semuanya, disedekahkan sebelum sampai haulnya (1 tahun).

Ingatlah wahai saudaraku, pundi-pundi harta yang disedekahkan di jalan Alloh akan berkata  kepada Alloh di hari kiamat nanti; “Yaa Robb, aku adalah sedekah fulan, selamatkanlah ia dari neraka dan masukkanlah ke dalam surga”. Sebaliknya, apabila tumpukan harta itu tetap disimpan, maka pada hari kiamat nanti ia menjelma menjadi ular hitam besar yang melilit dan berkata kepada pemiliknya: ”Akulah hartamu”.

Setelah seruan sedekah ini, silahkan anda tentukan pilihan anda sendiri. Jenis harta seperti apa yang kita inginkan? Harta yang menyelamatkan ke dalam surga ataukah harta yang akan menjerumuskan ke dalam kubangan api neraka.

“Ingatlah, kalian ini adalah suatu kaum yang diseru untuk berinfak fii sabilillah, lalu di antara kalian ada yang pelit. Barangsiapa yang pelit maka sesungguhnya ia pelit terhadap dirinya sendiri…”(QS: Muhammad: 38)

Oleh : Ridwan Zarkasyi rhm

KISAH SEDEKAH: KEDERMAWANAN UMAR BIN AL-KHATHTHAB

Kisah sedekahBersedekah merupakan amal sholih yang menuntut keikhlasan niat dengan mengharap pahala di sisi-Nya. Seorang mu’min harus mencegah dirinya dari hal-hal yang dapat menggugurkan seluruh kerja dan aktifitasnya, sebuah amalan yang dilandasi keikhlasan yang besar dan sempurna, tentu juga akan mendapatkan balasan yang besar dan sempurna pula. Mengikhlaskan segala amal perbuatan hanya untuk Alloh  adalah inti ajaran Islam dan kunci dakwah para Rosul. Jadi, demikian agungnya urgensi ikhlas bagi setiap amal untuk kepentingan akhirat dan bagi setiap orang yang meniti jalan kepada Alloh . Dengan hujah iman yang nyata dan cahaya Al-Qur’an, orang-orang yang mempunyai hati mengetahui bahwa kebahagiaan tak mungkin tercapai kecuali dengan ilmu dan ibadah. Semua orang pasti akan binasa kecuali orang-orang yang berilmu. Orang-orang yang berilmu pasti akan binasa kecuali orang yang aktif beramal. Semua orang yang aktif beramal akan binasa kecuali yang ikhlas.

Amal yang tidak disertai ikhlas adalah gambar mati, raga tanpa jiwa. Alloh  hanya menginginkan hakikat amal, bukan rupa dan bentuknya. Maka dari itu Alloh  menolak setiap amal yang pelakunya tertipu dengan amalnya. Rosulullah  bersabda: ”Sesungguhnya Alloh tidak melihat kepada badan, wajah, dan rupa-rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian.”Beliau memberi isyarat ke arah hati dengan jari-jari tangannya, dan berkata: ”Takwa itu terletak di sini.” Dan beliau memberi isyarat ke arah dadanya (tiga kali). (HR.Muslim dari Abu Hurairah).

Umar bin Al-Khaththab  adalah salah seorang sahabat Nabi  yang ikhlas dalam bersedekah, dan ia tidak ingin ada manusia yang mengetahui amalnya, tetapi ia hanya menginginkan hanya Alloh  yang mengetahuinya. Ia tidak ingin orang lain tahu bahwa ia seorang yang dermawan. Akan tetapi ia berusaha menyembunyikan sedekahnya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. Karena kedermawanannya pula, maka pada masa Umar bin Al-Khaththab , kita akan mendapati begitu banyaknya wilayah-wilayah yang masuk Islam, sehingga pemerintahannya menjadi imperium Islam. Maka, kita pun dapat mengetahui sosok Umar bin Al-Khaththab  sebagai pemimpin yang sangat memperhatikan rakyat kecil, dan berjiwa sangat sederhana! Hal ini tersirat di antaranya dalam serah terima tanah Palestina kepada Khalifah Umar bin Al-Khaththab . Dia juga mengorbankan segala yang dimilikinya untuk menolong Rasullah . Ia pun tinggal di rumah biasa dan hidup sebagai rakyat biasa di kota Madinah. Meskipun ia hidup dalam kesederhanaan, namun dengan jiwa semangat bersedekah senantiasa tumbuh, mengeluarkan hartanya untuk dakwah di jalan Alloh . Sekalipun demikian beliau sangat disegani segala pihak dan ditakuti dengan penuh kehormatan. Inilah keajaiban sedekah,manfaat sedekah, dan keutamaan sedekah Khalifah Umar bin Al-Khaththab

hadist tentang sedekah

Diriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’ad , beliau berkata, “Hafshah  berkata kepada ‘Umar, ‘Wahai Amirul Mukminin, alangkah baiknya jika engkau memakai pakaian yang paling bagus dan makan dari makanan yang paling enak, karena Alloh telah meluaskan rizki dan harta kepadamu.’ Lalu ‘Umar berkata, ‘Sesungguhnya aku akan mengajukan pertanyaan kepadamu, apakah engkau tidak ingat kesulitan yang telah menimpa Rasullah  begitu pula Abu Bakar ?’ Senantiasa Hafshah mengingat kata-kata tersebut sehingga beliau menangis, lalu ‘Umar berkata kepadanya, “Sungguh aku akan menyertai mereka di dalam kehidupan yang sangat sulit, sehingga aku dapat merasakan kehidupan mereka berdua yang sangat indah.'” (HR.Ahmad). Wallohu a’lam.

KISAH SEDEKAH: KEDERMAWANAN ABU BAKAR ASH SHIDDIQ

kisah sedekahBersedekah di jalan Alloh  adalah amal yang sangat luhur, mulia di sisi Alloh . Dia melipatgandakan pahala-Nya hingga tujuh ratus kali, juga menjanjikan pahala yang banyak bagi orang yang mau menginfaqkan hartanya sebagaimana firman-Nya: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Alloh adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Alloh melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Alloh Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS.Al-Baqarah: 261).

hadist tentang sedekah

Abu Bakar  adalah salah seorang shahabat dekat Nabi . Ia selalu beramal dalam kebaikan, dan tidak pernah tanggung-tanggung dalam mensedekahkan hartanya di jalan Alloh. Ia memberikan semua hartanya di jalan Alloh . Salah satu contoh kedermawanannya adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi dari Umar bin Khathab . Ia berkata, “Rasulullah memerintahkan kami untuk bersedekah. Pada saat itu aku memiliki harta. Lalu aku berkata, ‘Hari ini aku akan dapat mendahului Abu Bakar. Lalu aku datang membawa separuh dari hartaku. Rasulullah  bertanya, ‘Tidakkah kau sisakan untuk keluargamu?‘ Aku menjawab,’Aku telah menyisakan sebanyak ini.’ Lalu Abu Bakar datang dan membawa harta kekayaannya. Rasulullah  bertanya, ‘Apakah kamu sudah menyisakan untuk keluargamu?‘ Abu Bakar menjawab, ‘Saya telah menyisakan Alloh dan Rasulullah  bagi mereka.’ Aku (Umar) berkata, “Demi Alloh, saya tidak bisa mengungguli Abu Bakar sedikitpun.

Keridhoan pun tertanam pada jiwa putrinya yaitu Asma’  dalam riwayatnya, “Tatkala Rasulullah pergi bersama Abu Bakar, dan Abu Bakar membawa seluruh hartanya sebanyak lima atau enam ribu dirham. Lalu kakekku, Abu Quhafah datang kepada kami. Saat itu beliau sudah buta. Kakek berkata: “Demi Alloh, sungguh saya berpendapat bahwa ia telah menyakiti kalian dengan menafkahkan seluruh hartanya untuk kepentingannya sendiri. Asma’   berkata, “Tidak begitu Kek, sesungguhnya ayah telah meninggalkan harta yang banyak untuk kami.” Asma’  melanjutkan ucapannya, “Lalu aku mengambil beberapa batu dan meletakkan pada lubang rumah yang menjadi tempat penyimpanan harta ayahku. Kemudian saya meletakkan pakaian di atas batu-batu tersebut. Lalu saya menarik kakek seraya berkata, “Wahai kakek, letakkan tanganmu di atas batu ini.” Asma berkata, “Lalu kakekku meletakkan tangannya di atasnya, lalu berkata, “Tidak mengapa kalau dia telah meninggalkan buat kalian barang ini. Sesungguhnya dia telah berbuat baik dan hal ini adalah kelanjutan hidup kalian.” Demi Alloh, ayahku tidaklah meninggalkan untuk kami, akan tetapi aku melakukan hal itu hanya agar kakekku tenang.” (HR. Ahmad).

Begitulah kisah sedekah, keutamaan sedekah, keajaiban sedekah dan kedermawanan Abu Bakar  yang menyerahkan seluruh harta kekayaannya dengan penuh keikhlasan. Lalu berapa persenkah harta yang telah kita sedekahkankan di jalan Alloh, untuk Islam ini? Berapapun persen yang kita sedekahkan dari harta kita dengan istiqomah dan kontinyu, maka sudah luar biasa meskipun itu masih jauh dari apa yang dilakukan oleh Abu Bakar . Betapa banyak  jalan menuju surga, namun masih banyak orang yang merasa berat menitinya. Semoga Alloh  menganugerahkan hidayah taufiq-Nya kepada kita semua, sehingga dengannya kita diberi kemauan dan kemampuan untuk bersedekah di jalan Alloh.

KEAJAIBAN SEDEKAH:PEDAGANG WARTEG BERSEDEKAH

keajaiban sedekahIni kisah kejaiban sedekah pasangan muda penjual nasi pinggir jalan, yang lebih dikenal dengan sebutan Warteg (Warung Tegal). Di tangan mereka, hanya ada uang 1 juta rupiah. Uang itu seharusnya dipakai untuk membayar sewa kontrakan rumah mereka. Namun, si suami begitu semangat ingin menyedekahkan uang itu.

“Kita sedekahkan saja uang kontrakan itu, Bu,” kata Si suami. “Kita bakal dibalas Allah minimal 10 kali lipat,” begitu Si suami melanjutkan.

“Tapi, ini tinggal uang buat kita bayar kontrakan lho, Pak,” Sahut istrinya. Istrinya deg-degan juga, dengan melepas uang 1 juta rupiah itu, mana tahu nanti malahan apes. Kalau sampai tidak balik lagi uang 1 juta itu, mereka pasti akan diusir si empunya kontrakan. “Mau tidur di mana nanti?” Begitu ungkapan kegelisahan si istri.

Namun, si suami tetap bersikukuh untuk menyedekahkan uang 1 juta itu. Singkat cerita, uang 1 juta itu kemudian mereka sedekahkan.

“Mudah-mudahan manfaat sedekah uang kontrakan ini Allah akan mengganti dengan yang lebih baik. Mungkin bulan depan kita sudah pindah ke rumah gedong itu,” kata suami sambil menunjuk rumah gedung yang memang ada tulisannya “Dijual, hubungi no Hp 0811xxxxxxx” dengan penuh optimis.

Dari sinilah kini suami istri itu setiap hari menunggu keajaiban sedekah yang akan terjadi. Satu hari, dua hari, belum ada perubahan mendasar terhadap kehidupan rumah tangganya. Seminggu, dua minggu, dan masuk minggu keempat pasangan ini sudah mulai gelisah.

Begitulah tabiat dasar manusia, semuanya menginginkan hasil cepat dan sekali jadi. Hari ini menanam, besok maunya langsung panen. Namun, bukankah semuanya butuh proses? Dalam kondisi seperti itu, pasangan tersebut mulai belajar apa artinya sabar.

Allah tidak pernah mengingkari jnji, karena memang tidak mungkin dan tidak patut bagi sifat Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Kita saja yang kurang bersabar.

Menjelang akhir bulan, datang utusan di sebuah perusahaan yang sedang ditimpa masalah internal. Utusan iu menemui pemilik warung tersebut dan menawarkan suatu kontrak untuk menyuplai nasi bungkus dalam jumlah besar. Tidak ada angin tidak ada hujan. Seumur hidup, belum pernah terpikirkan bahwa mreka aan mendapatkan orderan sebesar itu.

“Bapak sanggup, nggak? Kalau enggak sanggup, kami akan mencari orang lain. Ini tawaran besar. Kalau bapak sanggup kami akan membuat kontrak.”

“Memangnya, Bapak pesan berapa bungkus?” Tanya penjual nasi dengan penuh tanda tanya. Dia bertanya seperti itu karena biasanya pesanan dari perusahaan yang ada di dekat warung itu cuma beberapa ratus bungkus saja.

“Lima belas ribu bungkus, sehari tiga kali makan. Nasi sebanyak itu untuk pengungsi yang menjadi tanggungan kami. Bagaimana? Bapak sanggup?”

“Sanggup.” Entah dari mana datangnya keberanian untuk menganggukkan kepala, tahu-tahu seperti ada yang menggerakkan kepalanya untuk mengangguk begitu saja. Dari anggukan kepala itulah pemilik warteg itu mendapatkan keuntungan yang luar biasa. Hitungan kasar 15.000 x 3.000 x 3 = Rp 1,35 miliar.

Awal bulan berikutnya, mereka sudah pindah ke rumah yang dahulunya hanya di angan-angan. Kini, rumah itu sudah atas nama penjual nasi itu.

Demikianlah Artikel  kisah keajaiban sedekah yang berjudul PEDAGANG WARTEG BERSEDEKAH ini kami bagikan. mudah-mudahan dengan kita mengambil pelajaran dari kisah ini, kita menjadi hamba yang selalu bersyukur dan memberi kepada sesama. Aamiiin Ya Robbal ‘alamin..