Keagungan Shalat - Yayasan Takrimul Quran

Yayasan Takrimul Quran

Keagungan Shalat

solatSesungguhnya shalat memiliki kedudukan yang sangat terhormat di dalam Islam, agung, mulia dan berharga. Shalat di dalam Islam ibarat kepala dari jasad. Jika, tidak mungkin terbayang jasad tanpa kepala, maka tidak mungkin pula terbayang Islam tanpa shalat.

Shalat adalah tiang agama. Barangsiapa yang mendirikannya, berarti dia mendirikan agama dan barangsiapa yang meninggalkannya, berarti ia menghancurkan agama. Shalat menjadi amal yang paling utama dikarenakan merupakan kontak atau hubungan antara seorang hamba dengan Khaliqnya. Ia adalah mata air yang deras yang mengalirkan kekuatan, keteguhan dan rahmat kasih sayang kepada seseorang sekali-gus membersihkan kotoran dosa dan daki kesalahan-kesalahannya. Shahabat Jabir  menceritakan bahwa Rasulullah  bersabda:

(( مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ ))

“Perumpamaan shalat lima waktu adalah laksana sungai yang mengalir deras di depan pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi padanya setiap hari lima kali. (HR. Muslim)

 

Shalat adalah rahmat Allah  bagi para hamba-Nya yang kepada naungan-Nya mereka berteduh sebanyak lima kali, memuji Rabbnya, bertasbih, meminta rahmat, hidayah maghfiroh dan pertolongan-Nya. Ia adalah pembersih jiwa orang-orang yang melakukannya, baik laki-laki maupun perempuan, menghapus kesalahan-kesalahan dan menghilangkan dosa-dosa. Utsman bin Affan  bertutur, “Aku pernah mendengar Rasulullah  bersabda:

(( مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوْبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوْئَهَا وَ خُشُوْعَهَا وَ رُكُوْعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوْبِ مَالَمْ تُؤْتَ كَبِيْرَةٌ وَ ذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ ))

“Tidaklah seorang muslim datang kepadanya waktu shalat fardhu, lalu ia berwudhu dengan baik dan melakukan shalat dengan khusyu’ dan ruku’ dengan baik, melainkan shalatnya pasti akan menghapus dosa-dosa sebelumnya selama dia tidak mengerjakan dosa besar. Dan itu ber-langsung sepanjang masa. (HR. Muslim).

 

Sebaliknya saudaraku kaum muslimin !

Apakah kita tidak merasa malu di saat kita meninggalkan shalat, mengapa hanya kita yang tidak mau menundukkan kepala sujud di hadapan Tuhannya, padahal seluruh alam semesta tunduk sujud dan bertasbih kepada Allah ?

Rasulullah  dalam banyak haditsnya telah memberikan peringatan yang keras kepada orang-orang yang suka meninggalkan shalat, diantaranya, beliau  bersabda:

(( العَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَ بَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ ))

“Perjanjian yang memisahkan kita dengan mereka adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkan shalat, maka berarti dia telah kafir. (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Ketika kita meninggalkan shalat apakah kita tidak merasa takut jika kita digiring ke neraka saqar bersama-sama orang-orang kafir dan kaum pendosa lainnya?

Pada hari kiamat nanti para penghuni surga akan bertanya kepada para penghuni neraka,

“Apakah yang memasukkan kalian ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab:”Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.” (QS. Al-Mudatstsir [74]: 42-43)

 

Saudaraku! Tak ada kehinaan yang lebih besar dibandingkan kita bersanding bersama orang-orang yang dihinakan dan dilaknat oleh Allah . Dan orang yang meninggalkan shalat akan disandingkan pada hari kiamat bersama-sama Fir`aun, Qarun dan Haman yang dilaknat dan dihancurkan oleh Tuhan pencipta alam.

Nabi  pernah bersabda tentang shalat:

(( مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوْرًا وَ بُرْهَاناً وَ نَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَ مَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ تَكُنْ لَهُ نُوْرًا وَ لاَبُرْهَانًا وَ لاَ نَجَاةً، وَ كَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُوْنَ وَ فِرْعَوْنَ وَ هَامَانَ وَ أَُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ ))

“Barangsiapa yang menjaganya maka ia menjadi cahaya, bukti dan keselamatan baginya pada hari kiamat, dan barangsiapa yang tidak menjaganya maka ia tidak mendapatkan cahaya, bukti dan ke-selamatan, dan pada hari kiamat ia akan bersama Qarun, Fir’aun, Haman dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad, At-Thabrani dan Ibnu Hibban dengan sanadnya shahih).

 

Karena itu saudara-saudara kaum muslimin !

Sebagai orang yang beriman, marilah kita agungkan shalat dengan cara:

  1. Menjaga waktu dan batas-batasnya.
  2. Meneliti rukun-rukunnya, hal-hal yang wajib dan hal–hal yang disunnahkan sebagai kesempurnaannya.
  3. Bersegara menunaikannya dengan penuh semangat saat kewajiban itu tiba, dan
  4. Menyesal serta bersedih, jika tidak dapat menunaikan dengan baik dan sempurna.

 

Kebahagiaan, kesuksesan dan keselamatan jika kita laksanakan shalat dengan baik– tidak akan diraih kecuali oleh diri kita sendiri yang akan merasakannya. Sedangkan kesengsaraan, kegagalan dan kecelakaan jika kita abaikan shalat tidak akan menimpa kecuali pada diri kita sendiri.

 

Saudara-saudara kaum muslimin !

Pakailah pakaian kita yang terbaik, saat panggilan shalat telah tiba. Rapih, sopan, baik, harum semerbak dan menutup aurat secara sempurna. Demikian pula tempat shalat dan sujud, kita rapihkan, bersihkan dan harumkan. Bersihkan najis-najis yang ada, singkirkan gambar, tulisan, ukiran atau apa saja yang mengganggu kekhusyuan kita di hadapan Allah , tanpa sedikitpun kita merasa berat melakukannya, karena Allah  pasti akan membalas semua kebaikan dan kesungguhan kita tersebut.

Allah  berfirman:

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf [7]: 31)

 

Saudara-saudaraku kaum muslimin !

Sempurnakanlah wudhu kita saat kita hendak menunaikan shalat menghadap Allah Rabbul ‘Izaati. Sha-lat tanpa wudhu tentulah tidak sah, karena wudhu ada-lah kunci pembuka shalat. Wudhu menjadi penghapus dosa dan pengangkat derajat bagi siapa yang melaku-kannya, walaupun di saat dingin menggigil. Setiap ke-salahan dan kekeliruan yang ada di setiap bagian tu-buh yang dibasuh oleh air wudhu akan rontok bergu-guran terhapus kebaikan dan keutamannya, hingga dia keluar dalam keadaan bersih dan suci dari dosa-dosa kecil. Sentuhan-sentuhan air wudhu itu kelak di akhirat akan menjadi tanda cemerlang yang bersinar, hingga menghantarkan kita ke telaga Rasulullah  sebagai tanda orang-orang yang berhak memasuki surga yang  penuh kenikmatan.

Rasulullah  mengingatkan:

(( مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ جَسَدِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِهِ ))

“Barangsiapa yang berwudhu’ lalu dia sempurnakan wudhunya, niscaya akan keluar dosa-dosa dari tubuhnya, hingga dosa-dosa yang berada di bawah kuku-kukunya.  (HR. Muslim).

Saudaraku, untuk mewujudkan wudhu yang baik dan sempurna upayakanlah menunaikannya dengan rapih dan baik, di antaranya :

  1. Niatkanlah wudhu kita ikhlas karena Allah , bukan sekedar ingin mendinginkan tubuh, memperindah wajah atau tujuan-tujuan lain yang lebih rendah. Rasulullah  mengingatkan: “Sesungguhnya amal-amal itu berdasarkan niatnya. (HR. Bukhari dan Muslim )
  2. Cucilah dan basuhlah seluruh anggota wudhu dengan sempurna. Cucilah kedua telapak tangan dengan basmalah, berkumurlah dan masukkanlah air ke hidung, lalu keluarkan kembali dengan tertib, cucilah wajah dengan merata, jangan sampai ada yang tersisa. Cucilah tangan hingga siku, jangan sampai lekukan di siku-siku tangan kita tertinggal tanpa terkena air wudhu.  Usaplah kepala kita secara merata agar lebih sempurna, jangan takut kusut pada sisir-an rambut. Cucilah kaki kita hingga kedua mata kaki, jangan lalai lekukan mata kaki yang sering tidak terkena air wudhu. Kemudian, berdoalah:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَ اجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ.

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang diabdi secara benar) kecuali Allah Yang Maha Esa. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci.

 

Saudara-saudaraku kaum muslimin

Ingatlah, shalat adalah taman bagi segala macam peribadatan. Di dalamnya penuh dengan pengagungan yang indah dan menakjubkan. Ia dimulai dengan tak-bir, lalu membaca kalamullah (al-Qur’an), kemudian ruku’ sebagai bentuk pengagungan kepada Tuhannya, lalu bangkit dari ruku’ ia penuhi dengan berbagai pu-jian kepada Allah, kemudian sujud dengan mensucikan Allah . Di dalamnya disertai panjatan do’a, dilanjutkan dengan duduk untuk berdo’a dan tasyahud, kemudian diakhiri dengan salam.

Shalat adalah penolong dalam segala urusan penting, pencegah dari segala maksiat dan kemunkaran. Shalat adalah cahaya bagi orang-orang yang beriman yang memancar dari dalam hatinya dan menyinari ke-tika di padang mahsyar. Dan shalat adalah kebahagia-an jiwa orang-orang beriman serta penyejuk jiwa. Rasulullah  mengingatkan:

“Barangsiapa yang menjaga shalatnya, niscaya ia akan menjadi cahaya, bukti dan penyelamat (baginya) pada hari kiamat. (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Ath-Thabrani).

 

Marilah kita tunaikan shalat dengan penuh khusyu’ dan sempurna, dengan demikian surga yang penuh kenikmatan pun rindu memanggil nama kita. Untuk mencapai kesempurnaan tersebut marilah kita berusaha semaksimal mungkin untuk mendirikannya dengan:

  1. Niatkanlah setiap peribadatan kita hanya karena Allah, terutama ketika mengerjakan shalat. Jangan biarkan jiwa diarahkan untuk mencari yang lebih rendah, lebih hina dan akan lenyap selain Allah.
  2. Rapatkanlah shaf-shaf kita agar Allah menyatukan hati-hati kita. Rasulullah  mengajarkan agar shaf sempurna, rapatkanlah kaki-kaki dan bahu-bahu kita sampai saling menyentuh. Allah  akan menyambung rahmat-Nya bagi siapa saja yang menyambung shaf yang putus dan memutuskan rahmat-Nya bagi siapa saja yang memutuskan shaf di waktu shalat. Rapatnya shaf-shaf di waktu shalat akan merapatkan qalbu-qalbu kita semuanya. Sebaliknya, kerenggangan shaf di waktu shalat akan membawa kerenggangan qalbu-qalbu kaum muslimin.

Rasulullah  bersabda:

(( أَلاَ تَصُفُّوْنَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلاَئِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا؟ قُلْنَا: وَ كَيْفَ تَصُفُّ الْمَلاَئِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا؟ قَالَ: يُتِمُّوْنَ الصُّفُوْفَ الأُوَلَ وَ يَتَرَاصُّوْنَ فِي الصَّفِّ ))

“Tidakkah kalian bershaf-bershaf sebagaimana para Malaikat bershaf-bershaf di sisi Rabbnya? Kami bertanya: ‘Bagaimanakah para malaikat bershaf-shaf di sisi Rabbnya?’ Beliau bersabda: “Mereka menyempurnakan shaf-shaf yang pertama dan berapat-rapat di dalam shaf. (HR. Muslim)

Ibnu Mas’ud  berkata: “Dahulu Rasulullah  menyentuh pundak-pundak kami di waktu hendak shalat dan bersabda:

(( إِسْتَوُوْا وَ لاَ تَخْتَلِفُوْا فَتَخْتَلِفَ قُلُوْبُكُمْ ))

“Luruskanlah! Jangan sampai tidak rata, niscaya akan berselisih qalbu-qalbu kalian.” (HR. Muslim)

Rasulullah  bersabda:

(( أَقِيْمُوا صُفُوْفَكُمْ فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِيْ. وَ كَانَ أَحَدُناَ يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَ قَدَمَهُ بِقَدَمِهِ ))

“Luruskan dan rapatkan shaf-shaf kalian, karena aku melihat kalian dari belakangku.” Dan adalah bahu salah seorang dari kami menempel pada bahu kawannya serta kakinya menyentuh kaki kawannya(HR. Bukhari)

  1. Berdirilah menghadap kiblat dengan baik dan arahkan pandangan ke tempat sujud, itu semua akan membantu kekhusyu’an dan kesempurnaan shalat kita.
  2. Jika kita tidak mampu berdiri, maka duduklah seperti duduk di waktu tasyahhud, dan jika tak mampu juga, maka berbaringlah. Semuanya telah Allah rukhshah (ringankan) bagi orang-orang yang tidak mampu melakukannya.
  3. Dirikanlah shalat dengan baik dan laksanakanlah seluruh rukun-rukun dan sunnah-sunnah shalat dengan sempurna. Dari mulai takbir hingga salam ja-ngan sampai ada yang tertinggal. Kerjakanlah dengan thuma’ninah, jangan tergesa-gesa dan terlalu cepat tanpa jeda waktu tenang setiap bagian gerakan shalat. Karena semua itu akan menghilangkan kesempurnaan ibadah kita kepada Allah .

(( لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى صَلاَةِ رَجُلٍ لاَ يُقِيْمُ صُلْبَهُ بَيْنَ رُكُوْعِهِ وَ سُجُوْدِهِ ))

“Allah tidak akan melihat shalat seseorang yang tidak meluruskan punggungnya di antara ruku’ dan sujudnya. (HR. Ahmad dengan sanad shahih)

  1. Jangan sampai mendahului imam dalam setiap gerakan. Sebaiknya kita mengikuti imam dengan baik dan sempurna, tunggulah sampai imam sempurna mengerjakan setiap bagian gerakan, baru kita mengikutinya. Jika imam telah selesai takbir, barulah kita takbir. Jika imam telah ruku’ dengan rata, maka barulah kita ruku. Jika imam telah sujud dengan tertib hingga menyentuh tanah, maka barulah kita sujud. Begitu seterusnya, setiap gerakan shalat kita ikuti imam dengan baik. Ingatlah! Mendahului imam dalam gerakan atau ucapannya akan mendapatkan hukuman yang tidak ringan di sisi Allah .
  2. Jangan lupa berdzikir setelah shalat, walaupun hanya duduk sejenak untuk membaca Subhanallah (33 kali), Alhamdulillah (33 kali) dan Allahu Akbar (33 kali). Kemudian digenapi seratus dengan membaca:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Maka kesalahan-kesalahan kita akan diampuni sekalipun sepenuh buih di lautan. (HR. Muslim dari Abu Hurairah )

Jangan tinggalkan dzikir tersebut, karena dzikir akan menumbuhkan thuma’ninah (ketentraman) bagi kalbu-kalbu kita serta akan menjadi benteng yang kokoh dari berbagai rongrongan setan.

  1. Dirikanlah shalat lima waktu di masjid dengan ber-jama’ah, jangan sampai tertinggal atau melalaikan-nya. Terlalu banyak faedah dan keutamaan dari shalat berjama’ah di masjid. Shalat berjama’ah lebih utama 27 derajat dibandingkan shalat sendiri; bukan hanya para malaikat yang berebut menetapkan amal berjalan kaki menuju masjid shalat berjama’ah, bah-kan Allah  menjadikan salah satu sebab mendapat-kan jaminan hidup baik serta mati dalam kebaikan serta sebagai salah satu sebab penyucian seorang hamba dari dosa-dosanya. Alangkah agung dan mulia jaminan ini semua, hidup dalam kebaikan dan mati dalam kebaikan pula. Siapakah yang telah menjanjikan hal-hal tersebut? Dialah Allah Yang Maha Tunggal. Allah  telah memuji orang-orang yang senantiasa memakmurkan masjid-masjid-Nya:

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. At- Taubah [9]: 18)

 

Keutamaan shalat berjama’ah

Rasulullah  sangat menekankan ummatnya untuk menghadiri shalat jama’ah.

Abu Hurairah  meriwayatkan:

أَتَى النَّبِيَّ  رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ: ( يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ ) فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ  أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ: (( هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ )) قَالَ: ( نَعَمْ ) قَالَ: (( فَأَجِبْ ))

“Ada seorang buta datang kepada Nabi  dan berkata: Ya Rasulullah, tiada seorang penuntun bagiku untuk ke masjid, maka izinkan aku shalat di rumah. Maka diizinkan oleh Rasulullah . Kemudian ketika orang itu telah bangun untuk berjalan pulang, dipanggil oleh Rasulullah  dan ditanya: Apakah kau mendengar suara adzan untuk shalat? Jawabnya: Ya. Beliau bersabda, “Kalau begitu kau harus datang menyambutnya.” (HR. Muslim)

 

Abu Hurairah  juga berkata: Rasulullah  bersabda:

(( وَالَّذِيْ نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْتَطَبَ ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيَؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوْتَهُمْ ))

“Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, saya ingin menyuruh orang mengumpulkan kayu api, kemudian saya perintahkan muadzin beradzan, dan saya menyuruh orang menjadi imam pada orang-orang, kemudian saya pergi kepada orang-orang yang tidak datang shalat, saya bakar rumah-rumah mereka berikut mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Demikian besar keutamaan shalat berjama’ah se-hingga Rasulullah  bersabda:

(( لَيْسَ صَلاَةٌ أَثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِيْنَ مِنْ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَالْعِشَاءِ، وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِيْهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً ))

“Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafiq selain dari shalat Subuh dan Isya’ dan andaikata mereka mengetahui pahalanya, tentu mereka akan mendatanginya meskipun sambil merangkak. (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Setiap langkah yang dilangkahkan ke masjid akan menghapus-kan dosa dan menaikkan derajat seorang hamba sebagaimana Rasulullah  bersabda:

(( صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَمَاعَةٍ تَزِيْدُ عَنْ صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ، وَ صَلاَتِهِ فِى سُوْقِهِ بِضْعًا وَ عِشْرِيْنَ دَرَجَةً، وَ ذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ، لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ. لاَ يُرِيْدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ، لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَ حُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ، فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِى الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِيَ تَحْبِسُهُ وَ الْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّوْنَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيْهِ يَقُوْلُوْنَ: اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اَللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ، مَا لَمْ يُؤْذِ فِيْهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيْهِ ))

“Shalat seseorang dengan berjama’ah lebih utama dan lebih banyak pahalanya dengan dua puluhan (25 atau 27) derajat daripada shalat sendirian di rumah atau di pasar. Hal ini dikarenakan, apabila salah seorang di antara kalian berwudhu’ dengan sempurna, kemudian pergi ke masjid dan tidak ada niatan lainnya kecuali untuk shalat dan tidak melangkahkan kakinya kecuali karenanya (shalat), maka akan ditinggikan derajatnya dan akan dihapuskan kesalahannya hingga dia masuk masjid hanya untuk dan hanya karena shalat. Dan para malaikat akan bershalawat kepada salah seorang di antara kalian selama masih berada di tempat (shalat)nya seraya mereka berkata: Ya Allah, sayangi dan ampunilah dia, asalkan dia tidak menyakiti orang lain dan tidak berhadats.  (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikian bersemangatnya para sahabat Nabi  dalam melakukan shalat berjama’ah sehingga sahabat Ubay bin Ka’ab  pernah meriwayatkan:

(( كَانَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ لاَ أَعْلَمُ أَحَداً أَبْعَدَ مِنَ الْمَسْجِدِ مِنْهُ وَكَانَتْ لاَ تُخْطِئُهُ صَلاَةٌ !فَقِيْلَ لَهُ  : لَوْ اِشْتَرَيْتَ حِمَاراً تَرْكَبُهُ فِي الظَّلْمَاءِ وَفِي الرَّمْضَاءِ. قَالَ: مَا يَسُرُّنِيْ أَنَّ مَنْزِلِي إِلَى جَنْبِ الْمَسْجِدِ، إِنِّي أُرِيْدُ أَنْ يُكْتَبَ لِي مَمْشَايَ إِلَى الْمَسْجِدِ، وَرُجُوْعِيْ إِذَا رَجَعْتُ إِلَى أَهْلِي. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ : قَدْ جَمَعَ اللَّه ُلَكَ ذَلِكَ كُلَّهُ ))

“Ada seorang shahabat Anshor, tiada seorang yang saya kenal rumahnya lebih jauh daripadanya, tetapi ia tidak pernah tertinggal shalat jama’ah di masjid. Maka ia ditegur: Andaikan engkau membeli keledai untuk kendaraanmu di waktu gelap atau panas. Jawabnya: Saya tidak ingin kalau rumahku disebelah masjid, saya ingin per-jalananku ke masjid dan kembaliku ke rumah keluargaku tercatat dalam amal kebaikanku. Maka bersabda Nabi : “Allah telah mengumpulkan bagimu semua itu. (HR. Muslim)

Abdullah bin Umar  berkata, “Kami para sahabat, jika salah seorang di antara kami tertinggal dari shalat jama’ah ‘Isya’ dan Shubuh maka kami menjadi berburuk sangka terhadapnya bahwa ia telah munafik.”

Keutamaan shalat berjama’ah di masjid sangatlah besar, khususnya shalat shubuh dan ‘Isya’. Sahabat ‘Utsman bin Affan  meriwayatkan :

سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ  يَقُوْلُ :  (( مَنْ صَلَّى العِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ ))

“Saya telah mendengar Rasulullah  bersabda: ‘Siapa yang shalat Isya’ berjama’ah, seolah-olah bangun setengah malam, dan siapa yang shalat Shubuh berjama’ah, maka bagaikan shalat satu malam penuh’. (HR. Muslim)

Demikian besarnya keutamaan shalat berjama’ah. Sehingga alangkah ruginya orang yang  menyia-nyiakan shalat berjama’ah. Sebagian salaf berkata, “Tidaklah seseorang tertinggal shalat berjama’ah kecuali karena dosa yang  ia lakukan.” Abdullah bin Umar  berkata, “Pada suatu hari Umar  pergi ke kebun kormanya. Ketika ia pulang ia dapati orang-orang telah selesai shalat ashar. Maka ia berkata, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uun. Aku tertingal shalat Ashar berjama’ah. Aku persaksikan kepada kalian bahwa  kebunku ini aku sedekahkan kepada orang-orang miskin agar menjadi kafarat (penebus) atas apa yang  telah aku lakukan’.”

Hatim Al-Ashom berkata, “Aku pernah tertinggal shalat berjama’ah sekali, maka hanya Abu Ishaq saja yang  menta’ziahi (melayat)ku, seandainya anakku yang  meninggal tentulah yang  menta’ziahiku lebih dari sepuluh ribu orang. Ini karena orang-orang menganggap bahwa  musibah agama itu lebih ringan daripada musibah dunia.”

Sudara-saudara kaum muslimin yang kami cintai!

Di akhir kalimat ini, kami ingin sampaikan sabda Rasulullah :

(( إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ، فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَ أَنْجَحَ وَ إِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَ خَسِرَ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْئاً، قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَ جَلَّ: انْظُروا هَلْ لِعَبْدِيْ مِنْ تَطَوُّعٍ؟ فَيُكَمَّلُ مِنْهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الْفَرِيْضَةِ, ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ أَعْمَالِهِ عَلَى هَذَا ))

“Sesungguhnya amal seorang hamba yang per-tama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya, maka apabila shalatnya baik berarti dia akan beruntung dan selamat. Dan apabila shalatnya jelek, maka dia akan merugi dan tidak beruntung. Apabila shalat fardhunya kurang sempurna, maka Allah berfirman: ‘Lihatlah shalat sunnah hamba-Ku ini yang dapat menyempurnakan kekurangan shalat (fardhu)nya, kemudian setelah itu lihatlah amalan-amalan yang lainnya’.” (HR. At-Tirmidzi, hadits hasan)

Jangan sia-siakan bekal kita yang satu ini, kebahagiaan menyongsong kita dengan jannah dan kenikmatannya, jika kita mampu memelihara dan menjaganya secara sempurna. Akan tetapi jika kita lalai atau mengabaikannya, maka amalan manakah lagi yang dapat menghantarkan kita ke jannah yang diridhai itu? Atau mungkin kecelakaan dan kesengsaraan di neraka jahannam yang panas membara. Na’udzu billahi min dzalik.(Red.Snh)

Tinggalkan komentar