CINTA TERTINGGI SEORANG MU’MIN - Yayasan Takrimul Quran

Yayasan Takrimul Quran

Cinta Seorang Mukmin

CINTA TERTINGGI SEORANG MU’MIN

“Diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh; yang mereka cintai sebagaimana mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Alloh….” (QS. al-Baqoroh [2]: 165)

Saudaraku, untuk mentadaburi ayat ini, marilah kita telaah ayat sebelumnya (baca: QS. al-Baqoroh [2]: 164) yang terkait dengan ayat ini.

Pada ayat 164, Alloh SWT telah menjelaskan kekuasaan-Nya yang begitu sempurna. Dia-lah Yang Maha Pencipta telah menciptakan makhluk-makhluk sangat besar di alam semesta ini; langit dengan seluruh bintang gemintang yang memenuhi jagat raya dan beredar di garis orbitnya, serta bumi dengan seluruh makhluk yang ada di dalamnya; baik di darat maupun di lautan, penghuni samudera maupun hutan belantara.

Alloh SWT, Dia pula yang mengatur pergantian siang dan malam dengan sangat sempurna tanpa cacat sedikitpun. Siang dan malam datang dan pergi silih berganti dengan begitu teratur, tanpa pernah menyelisihi waktu yang ditetapkan-Nya.

Laut dan samudera yang terhampar luas juga ditetapkan-Nya mampu membentuk arus bergelombang yang menghantarkan kapal-kapal ke tempat tujuan. Dengannya manusia mendapatkan berjuta manfaat dalam kehidupan.

Demikian pula air hujan yang diturunkan dari langit membasahi bumi, dengannya tumbuh beragam jenis tumbuhan, dan berjuta makhluk hidup mendapatkan manfaatnya. Ditambah lagi angin yang berhembus, dan awan yang berarak di angkasa, semua itu terjadi dengan penuh keteraturan.

Sungguh, semua itu adalah tanda-tanda yang sangat jelas, dan bukti yang terang benderang akan ke-Esa-an Alloh SWT.

Bagi manusia yang berfikir, yang menggunakan akalnya sebagaimana mestinya tentulah hal tersebut akan semakin menambah keimanannya kepada Alloh SWT.

Betapa sempurna kekuasaan Alloh SWT. Dia-lah Yang Maha Pencipta. Dalam penciptaan makhluk-Nya terdapat tanda-tanda kesempurnaan sifat-Nya. Dan, Dia-lah pula Yang Maha Esa. Hanya kepada-Nya-lah segala bentuk penghambaan harus dipersembahkan.

Namun, meskipun demikian jelasnya tanda-tanda kekuasaan Alloh SWT, anehnya masih saja banyak manusia yang tetap menyimpang dengan melakukan kesyirikan. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syeikh Abdurrohman Nashir as-Sa’di dalam tafsir beliau:

“Betapa bagusnya keterkaitan ayat ini dengan ayat sebelumnya. Alloh SWT telah menjelaskan keesaan-Nya dengan petunjuk-Nya yang sangat tegas dan penjelasan yang sangat terang yang menghantarkan kepada ilmu al-yaqin (keyakinan) dan melenyapkan keraguan. Namun, meskipun demikian sempurnanya penjelasan itu, di antara manusia tetap saja ada yang menjadikan makhluk-makhluk sebagai tandingan bagi Alloh SWT, di mana mereka menyamakan semua tandingan itu dengan Alloh SWT dalam peribadahan, cinta, pengagungan, dan ketaatan”. (Selengkapnya lihat: Tafsir al-Karim ar-Rohman fi Tafsir al-Kalam al-Mannan).

Seluruh makhluk, siapapun mereka dan apapun bentuknya, bukanlah tandingan bagi Alloh SWT. Alloh SWT adalah al-Kholiq (Yang Maha Pencipta), dan selain-Nya adalah makhluk yang diciptakan. Alloh SWT, Dia-lah Robb yang telah memberi rezeki kepada seluruh makhluk-Nya. Sebaliknya, seluruh makhluk dalam keadaan selalu mendapatkan dan menerima rezeki dari-Nya.

Alloh SWT Dia-lah al-Ghoniy (Yang Maha Kaya), adapun seluruh makhluk sangat butuh kepada-Nya. Alloh SWT Maha sempurna dalam seluruh sifat-Nya, adapun makhluk sangat lemah dalam seluruh aspek.

Alloh SWT pula yang memberi manfaat dan mudhorot sesuai kehendak-Nya. Adapun makhluk, mereka tidaklah kuasa memberikan manfaat dan mudhorot sedikitpun, kecuali sesuai dengan apa yang telah ditetapkan Alloh SWT.

 Demikian jelas tanda-tanda kekuasaan Alloh SWT, dimana bagi mereka yang mau berfikir pastilah akan mempersembahkan seluruh bentuk peribadahan mereka hanya kepada Alloh SWT, karena hanya Alloh-lah yang berhak untuk diibadahi oleh seluruh makhluk.

Adapun para pelaku kesyirikan, mereka menjadikan tandingan-tandingan selain Alloh SWT. Mereka mencintai sesuatu sebagaimana kecintaan mereka kepada Alloh SWT. Cinta yang diiringi dengan ketundukan dan pengagungan. Cinta yang diiringi dengan merendahkan diri dan pensucian. Cinta inilah yang dipersembahkan para pelaku kesyirikan kepada makhluk-makhluk sesembahan mereka.  Hal inilah yang terjadi pada mereka, kesyirikan dalam kecintaan (syirk al-mahabbah).

Tentunya jenis cinta ini berbeda dengan jenis cinta insani yang manusiawi, seperti; keinginan seseorang  pada makan dan minum, terlebih di saat lapar dan dahaga, atau kasih sayang seseorang pada anaknya, anak pada orangtuanya, suami kepada istri atau sebaliknya. Termasuk kasih sayang yang terjalin karena hubungan kekerabatan, persaudaraan dan persahabatan. Semua itu tidak sama sekali berkonsekwensi pada pengagungan. Cinta dan kasih sayang ini bersifat thobi’i  (tabiat dasar manusiawi), dan tidak bermasalah sepanjang hal ini tidak menjadikan seseorang bermaksiat kepada Alloh SWT.        

Berbeda halnya dengan kecintaan para pelaku kesyirikan. Mereka telah mempersembahkan cinta kepada makhluk-makhluk yang mereka ada-adakan. Ada yang mengagungkan benda-benda yang dikeramatkan. Adapula yang menyembah sosok berwujud manusia, binatang atau pepohonan, maupun sosok ghaib dari bangsa jin. Dan, masih banyak lagi bentuk persembahan cinta mereka kepada tandingan-tandingan selain Alloh SWT.

Bahkan ketika sosok sesembahan mereka membuat syariat baru dengan menghalalkan apa yang Alloh SWT telah haramkan, atau sebaliknya mengharamkan apa yang Alloh SWT telah halalkan, mereka pun tak segan dan tanpa pamrih mentaati sosok pembuat syariat yang menandingi Alloh SWT itu.

Adapun orang yang beriman, cinta mereka kepada Alloh SWT sangatlah besar, dan bahkan lebih besar dari cinta para pelaku kesyirikan kepada sesembahan mereka itu.

Cinta seorang mu’min kepada Alloh SWT adalah kecintaan yang murni, yang diiringi dengan penuh pengagungan, ketaatan, dan ketundukan kepada-Nya. Adapun cinta para pelaku kesyirikan kepada Alloh SWT adalah cinta yang telah tercampur dan tak lagi murni. Di satu sisi mereka mencintai Alloh SWT, namun di saat yang sama mereka sandingkan dengan kecintaan kepada sesembahan mereka. Apapun alasannya, sekalipun dalam sangkaan mereka sesembahan mereka itu dapat lebih mendekatkan diri mereka kepada Alloh SWT, menjadikannya sebagai perantara dalam beribadah kepada Alloh SWT, hal ini adalah salah satu bentuk kezoliman terbesar dan kebatilan terburuk.  

Wujud Cinta Kepada Alloh SWT.

  Setelah kita mentadaburi kedua ayat tersebut, hendaknya kita dapat mengambil pelajaran yaitu dengan senantiasa meningkatkan cinta kepada Alloh SWT. Hal tersebut diwujudkan dengan cara, diantaranya:

  1. Mengenal Alloh SWT dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Barang siapa mengenal Alloh SWT dengan benar maka ia akan semakin cinta kepada-Nya, kemudian semakin mengagungkan dan menta’ati-Nya.
  2. Merenungi segala nikmat yang telah Alloh SWT berikan yang tak mungkin dapat dihitung. Dengannya, rasa syukur seseorang akan semakin besar, baik pengakuan di hati, ucapan lisan, dan seluruh anggota badan pun menjadi bukti kejujuran syukurnya itu.
  3. Melaksanakan seluruh ibadah kepada Alloh SWT dengan penuh keikhlasan dan kejujuran iman serta menundukkan hawa nafsu. Dengan demikian seluruh gerak dan tingkah lakunya akan senantiasa selaras dengan keridhoan Alloh SWT.
  4. Memperbanyak berdzikir sebagaimana yang diajarkan Rosululloh SAW, dan membaca al-Qur’an dengan mentadabburi kandungan-Nya.    
  5. Mendekatkan diri kepada Alloh SWT dengan ibadah-ibadah sunnah (nafilah), tentunya setelah menjaga yang fardhu, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi:

وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah yang sunnah (nafilah) sampai Aku mencintainya”. (HR. Bukhori).

  • Banyak memohon kepada Alloh SWT kecintaan-Nya dan cinta terhadap segala yang dapat menyebabkan kecintaan-Nya kepada kita.

  Ya Alloh, kami memohon kepada-Mu kecintaan-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan amal perbuatan yang mendekatkan kami dengan cinta-Mu. Amiin..

Oleh: Ali Maulida, M.Pd.I

Tinggalkan komentar