Tsaqofah Archives - Yayasan Takrimul Quran

Yayasan Takrimul Quran

CINTA TERTINGGI SEORANG MU’MIN

Cinta Seorang Mukmin

“Diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh; yang mereka cintai sebagaimana mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Alloh….” (QS. al-Baqoroh [2]: 165)

Saudaraku, untuk mentadaburi ayat ini, marilah kita telaah ayat sebelumnya (baca: QS. al-Baqoroh [2]: 164) yang terkait dengan ayat ini.

Pada ayat 164, Alloh SWT telah menjelaskan kekuasaan-Nya yang begitu sempurna. Dia-lah Yang Maha Pencipta telah menciptakan makhluk-makhluk sangat besar di alam semesta ini; langit dengan seluruh bintang gemintang yang memenuhi jagat raya dan beredar di garis orbitnya, serta bumi dengan seluruh makhluk yang ada di dalamnya; baik di darat maupun di lautan, penghuni samudera maupun hutan belantara.

Alloh SWT, Dia pula yang mengatur pergantian siang dan malam dengan sangat sempurna tanpa cacat sedikitpun. Siang dan malam datang dan pergi silih berganti dengan begitu teratur, tanpa pernah menyelisihi waktu yang ditetapkan-Nya.

Laut dan samudera yang terhampar luas juga ditetapkan-Nya mampu membentuk arus bergelombang yang menghantarkan kapal-kapal ke tempat tujuan. Dengannya manusia mendapatkan berjuta manfaat dalam kehidupan.

Demikian pula air hujan yang diturunkan dari langit membasahi bumi, dengannya tumbuh beragam jenis tumbuhan, dan berjuta makhluk hidup mendapatkan manfaatnya. Ditambah lagi angin yang berhembus, dan awan yang berarak di angkasa, semua itu terjadi dengan penuh keteraturan.

Sungguh, semua itu adalah tanda-tanda yang sangat jelas, dan bukti yang terang benderang akan ke-Esa-an Alloh SWT.

Bagi manusia yang berfikir, yang menggunakan akalnya sebagaimana mestinya tentulah hal tersebut akan semakin menambah keimanannya kepada Alloh SWT.

Betapa sempurna kekuasaan Alloh SWT. Dia-lah Yang Maha Pencipta. Dalam penciptaan makhluk-Nya terdapat tanda-tanda kesempurnaan sifat-Nya. Dan, Dia-lah pula Yang Maha Esa. Hanya kepada-Nya-lah segala bentuk penghambaan harus dipersembahkan.

Namun, meskipun demikian jelasnya tanda-tanda kekuasaan Alloh SWT, anehnya masih saja banyak manusia yang tetap menyimpang dengan melakukan kesyirikan. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syeikh Abdurrohman Nashir as-Sa’di dalam tafsir beliau:

“Betapa bagusnya keterkaitan ayat ini dengan ayat sebelumnya. Alloh SWT telah menjelaskan keesaan-Nya dengan petunjuk-Nya yang sangat tegas dan penjelasan yang sangat terang yang menghantarkan kepada ilmu al-yaqin (keyakinan) dan melenyapkan keraguan. Namun, meskipun demikian sempurnanya penjelasan itu, di antara manusia tetap saja ada yang menjadikan makhluk-makhluk sebagai tandingan bagi Alloh SWT, di mana mereka menyamakan semua tandingan itu dengan Alloh SWT dalam peribadahan, cinta, pengagungan, dan ketaatan”. (Selengkapnya lihat: Tafsir al-Karim ar-Rohman fi Tafsir al-Kalam al-Mannan).

Seluruh makhluk, siapapun mereka dan apapun bentuknya, bukanlah tandingan bagi Alloh SWT. Alloh SWT adalah al-Kholiq (Yang Maha Pencipta), dan selain-Nya adalah makhluk yang diciptakan. Alloh SWT, Dia-lah Robb yang telah memberi rezeki kepada seluruh makhluk-Nya. Sebaliknya, seluruh makhluk dalam keadaan selalu mendapatkan dan menerima rezeki dari-Nya.

Alloh SWT Dia-lah al-Ghoniy (Yang Maha Kaya), adapun seluruh makhluk sangat butuh kepada-Nya. Alloh SWT Maha sempurna dalam seluruh sifat-Nya, adapun makhluk sangat lemah dalam seluruh aspek.

Alloh SWT pula yang memberi manfaat dan mudhorot sesuai kehendak-Nya. Adapun makhluk, mereka tidaklah kuasa memberikan manfaat dan mudhorot sedikitpun, kecuali sesuai dengan apa yang telah ditetapkan Alloh SWT.

 Demikian jelas tanda-tanda kekuasaan Alloh SWT, dimana bagi mereka yang mau berfikir pastilah akan mempersembahkan seluruh bentuk peribadahan mereka hanya kepada Alloh SWT, karena hanya Alloh-lah yang berhak untuk diibadahi oleh seluruh makhluk.

Adapun para pelaku kesyirikan, mereka menjadikan tandingan-tandingan selain Alloh SWT. Mereka mencintai sesuatu sebagaimana kecintaan mereka kepada Alloh SWT. Cinta yang diiringi dengan ketundukan dan pengagungan. Cinta yang diiringi dengan merendahkan diri dan pensucian. Cinta inilah yang dipersembahkan para pelaku kesyirikan kepada makhluk-makhluk sesembahan mereka.  Hal inilah yang terjadi pada mereka, kesyirikan dalam kecintaan (syirk al-mahabbah).

Tentunya jenis cinta ini berbeda dengan jenis cinta insani yang manusiawi, seperti; keinginan seseorang  pada makan dan minum, terlebih di saat lapar dan dahaga, atau kasih sayang seseorang pada anaknya, anak pada orangtuanya, suami kepada istri atau sebaliknya. Termasuk kasih sayang yang terjalin karena hubungan kekerabatan, persaudaraan dan persahabatan. Semua itu tidak sama sekali berkonsekwensi pada pengagungan. Cinta dan kasih sayang ini bersifat thobi’i  (tabiat dasar manusiawi), dan tidak bermasalah sepanjang hal ini tidak menjadikan seseorang bermaksiat kepada Alloh SWT.        

Berbeda halnya dengan kecintaan para pelaku kesyirikan. Mereka telah mempersembahkan cinta kepada makhluk-makhluk yang mereka ada-adakan. Ada yang mengagungkan benda-benda yang dikeramatkan. Adapula yang menyembah sosok berwujud manusia, binatang atau pepohonan, maupun sosok ghaib dari bangsa jin. Dan, masih banyak lagi bentuk persembahan cinta mereka kepada tandingan-tandingan selain Alloh SWT.

Bahkan ketika sosok sesembahan mereka membuat syariat baru dengan menghalalkan apa yang Alloh SWT telah haramkan, atau sebaliknya mengharamkan apa yang Alloh SWT telah halalkan, mereka pun tak segan dan tanpa pamrih mentaati sosok pembuat syariat yang menandingi Alloh SWT itu.

Adapun orang yang beriman, cinta mereka kepada Alloh SWT sangatlah besar, dan bahkan lebih besar dari cinta para pelaku kesyirikan kepada sesembahan mereka itu.

Cinta seorang mu’min kepada Alloh SWT adalah kecintaan yang murni, yang diiringi dengan penuh pengagungan, ketaatan, dan ketundukan kepada-Nya. Adapun cinta para pelaku kesyirikan kepada Alloh SWT adalah cinta yang telah tercampur dan tak lagi murni. Di satu sisi mereka mencintai Alloh SWT, namun di saat yang sama mereka sandingkan dengan kecintaan kepada sesembahan mereka. Apapun alasannya, sekalipun dalam sangkaan mereka sesembahan mereka itu dapat lebih mendekatkan diri mereka kepada Alloh SWT, menjadikannya sebagai perantara dalam beribadah kepada Alloh SWT, hal ini adalah salah satu bentuk kezoliman terbesar dan kebatilan terburuk.  

Wujud Cinta Kepada Alloh SWT.

  Setelah kita mentadaburi kedua ayat tersebut, hendaknya kita dapat mengambil pelajaran yaitu dengan senantiasa meningkatkan cinta kepada Alloh SWT. Hal tersebut diwujudkan dengan cara, diantaranya:

  1. Mengenal Alloh SWT dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Barang siapa mengenal Alloh SWT dengan benar maka ia akan semakin cinta kepada-Nya, kemudian semakin mengagungkan dan menta’ati-Nya.
  2. Merenungi segala nikmat yang telah Alloh SWT berikan yang tak mungkin dapat dihitung. Dengannya, rasa syukur seseorang akan semakin besar, baik pengakuan di hati, ucapan lisan, dan seluruh anggota badan pun menjadi bukti kejujuran syukurnya itu.
  3. Melaksanakan seluruh ibadah kepada Alloh SWT dengan penuh keikhlasan dan kejujuran iman serta menundukkan hawa nafsu. Dengan demikian seluruh gerak dan tingkah lakunya akan senantiasa selaras dengan keridhoan Alloh SWT.
  4. Memperbanyak berdzikir sebagaimana yang diajarkan Rosululloh SAW, dan membaca al-Qur’an dengan mentadabburi kandungan-Nya.    
  5. Mendekatkan diri kepada Alloh SWT dengan ibadah-ibadah sunnah (nafilah), tentunya setelah menjaga yang fardhu, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi:

وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah yang sunnah (nafilah) sampai Aku mencintainya”. (HR. Bukhori).

  • Banyak memohon kepada Alloh SWT kecintaan-Nya dan cinta terhadap segala yang dapat menyebabkan kecintaan-Nya kepada kita.

  Ya Alloh, kami memohon kepada-Mu kecintaan-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan amal perbuatan yang mendekatkan kami dengan cinta-Mu. Amiin..

Oleh: Ali Maulida, M.Pd.I

Syahrul Quran

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

إِنَّآ أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ

“Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Adh-Dhukhan [44]: 3)

إِ نَّآ أَنْزَلْنَهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatil qadr –malam kemuliaan-.” (QS. Al-Qadr [97]: 1)

Malam yang diberkahi dan malam kemuliaan itu berada di Bulan Ramadhan, Yang diturunkannya adalah al-Qur’an. Sebagaimana firman-Nya;

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ“

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah [2] : 185)

“Allah menurunkan al-Quran sekaligus dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah (rumah kemuliaan) di langit dunia kemudian Allah menurunkannya secara berangsur-angsur sesuai dengan berbagai peristiwa selama 23 tahun kepada Rasulullah صلى اللّه عليه وسلم.” (Tafsir Ibnu Katsir 8/441)

Mari perbanyak membaca al-Qur’an dan memahami serta mengamalkan isinya. Bukan sekedar kejar khatam, Tapi juga kejar paham. Karena tanya sudah khatam berapa kali itu tak lebih utama dari tanya sudahkah kita paham kandungan ayat-ayat al-Qur’an yg dibaca.

“Janganlah Menjatuhkan Dirimu Sendiri Ke Dalam Kebinasaan”

manfaat-sedekah-Dan belanjakanlah (harta bendamu) dijalan Allah swt., dan janganlah menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan , dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.’’ (Q.s. Al-Baqarah: 195)

hadist tentang sedekah

Hudzaifah r.a. berkata bahwa yang dimaksud dengan janganlah menjatuhkan dirimu sendiri kedalam  kebinasaan adalah tidak mau menginfakan harta di jalan Alloh karena takut miskin. Ibnu Abbas r.hum. berkata bahwa yang di maksud menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan bukan terbunuhnya seseorang di jalan Alloh swt., tetapi tidak mau membelanjakan harta dijalan Allah swt.. Dhahhak bin jubair r.a. berkata bahwa orang-orang anshar selalu membelanjakan harta dijalan Allah swt. Dan selalu bersedekah . pernah suatu ketika,  pada saat terjadi kelaparan  selama setahun, pikiran mereka menjadi kalut sehingga mereka tiadk mau menginfakan harta mereka di jalan Allah swt.. terhadap peristiwa inilah ayat tersebut di turunkan. Aslam r.a. berkata, “ Ketika kami ikut serta dalam peperangan konstatinopel, tiba-tiba sepasukan orang kafir yang besar jumlahnya datang untuk menyerang kami. Pada waktu itu seseorang dari kaum muslimin masuk ke dalam barisan orang-orang kafir seorang diri sambil membawa pedang.

Orang-orang islam lainnya berteriak bahwa orang tersebut telah menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan. Ayyub Anshari r.a.  yang juga ikut serta dalam pertempuran tersebut berkata bahwa yang demikian itu bukan menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan. Ia berkata , “Mengapa kalian mengartikan ayat itu seperti itu , ayat ini turun berkenaan peristiwa yang kami alami. Ketika islam mulai berkembang dan telah bermunculan para pembela agama, diam-diam kami, orang-orang Anshar  berpikir bahwa sekarang Allah swt. Telah memberikan kemenangan kepada islam dengan lahirnya para pembela agama, sedangkan harta benda kami seperti sawah, ladang, dan sebagainya, karena lama tidak terurus mulai rusak.  Untuk itu, kami bermaksud untuk mengurusi dan memperbaiki sawah ladang . terhadap peristiwa itulah ayat tersebut diturunkan. Dengan demikian yang dimaksud menjerumuskan diri dalam kebinasaan adalah sibuk mengurusi harta kekayaan sendiri dan meninggalkan jihad.” (Durrul-Mantsur)    

Keajaiban Sedekah: Khodijah binti Khuwailid

keajaiban sedekahKali ini kita akan berjumpa dengan simbol kesucian, kehormatan, dan ketakwaan. Sekuntum bunga yang menyebarkan aroma wewangian, sehingga memenuhi atmosfer seluruh penjuru dunia dengan keharuman iman, pengorbanan, kedermawanan dan pembelaan. Dia adalah Ummul Mukminin, Ummu al-Qasim Khodijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul ‘Uzza bin Qushai bin Kilab. Keturunan suku Quraisy dari keluarga Bani Asad.

Bukan hanya menjadi istri pertama yang sangat dicintai Rosululloh , Khodijah  juga memiliki banyak keistimewaan, sebagaimana yang disebutkan Imam Ibnu Katsir , “Khodijah adalah wanita pertama yang dinikahi Rosululloh  dan menurut pendapat yang shohih, Khodijah adalah orang pertama yang beriman kepadanya.” Khodijah adalah orang pertama yang sholat bersama Nabi . Wanita pertama yang memberi keturunan kepada Nabi . Wanita pertama di antara istri-istri Nabi  yang mendapat berita dijamin masuk surga. Orang pertama yang menerima ucapan salam dari Alloh . Orang pertama yang kuburannya dipersiapkan Nabi . Dan masih banyak lagi tidak akan cukup ditulis dalam kolom ini.

Khodijah beriman kepada Nabi  di saat semua orang kufur kepadanya. Membenarkan risalah Nabi  di saat semua orang mendustakannya. Mengorbankan harta untuk kepentingan Beliau  di saat semua orang enggan memberinya. Membantu menyampaikan risalah Alloh , ikut merasakan kesusahan dan kepahitan da’wah dan mendukung perjuangan melawan hegemoni Quraisy dengan jiwa dan sedekah seluruh hartanya. Seluruhnya… Ya seluruhnya. Harta yang perbandingan satu kafilah dagang Khodijah yang dikirim ke Syam, setara dengan konsorsium beberapa kafilah dagang Quraisy. Khodijah rela mengorbankan hartanya untuk membiayai kehidupan Nabi , sementara Beliau  sendiri yang mengendalikan perniagaannya.

Khodijah  adalah seorang wanita yang sangat dermawan dan pemurah. Hingga apa yang disenangi suami tercinta, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk dapat membahagiakan hati suaminya. Ketika suaminya memutuskan untuk mengasuh sepupunya, Ali bin Abi Thalib, Khodijah menyambutnya dengan hati yang lapang dan penuh kasih sayang mengasuhnya bagaikan anak kandung sendiri. Begitu pula ketika Khodijah merasa bahwa suaminya sangat menyukai Zaid bin Haritsah, maka ia segera menghibahkan Zaid kepada suaminya .

Demikian kita bisa mengingat sela-sela pertemuan yang hangat antara Rosulullohdengan Halimah as-Sa’diyyah, Ibu susu Beliau . Tatkala Halimah datang dengan aduan kondisi hidupnya yang semakin sulit dan kekeringan yang menimpa kampung Bani Sa’ad, sehingga hidupnya semakin terjepit dan kemiskinan semakin menjadi-jadi. Rosululloh  langsung berbicara dengan istrinya, Khodijah, dengan suara berat karena terpengaruh aduan sang Ibu. Khodijah membalasnya dengan hati yang penuh kasih sayang. Dengan senang hati, ia menyerahkan 40 ekor kambing dan seeokor unta untuk membawa air serta perbekalan yang cukup hingga Halimah sampai di kampung halamannya. Itulah keajaiban sedekah ibunda kita, Khodijah , teladan yang tidak akan muncul lagi dalam pentas sejarah. Hidupnya dihabiskan untuk tetap mendukung dan membela Rosululloh dalam menyampaikan da’wah Alloh . Semoga Alloh  memberikan keridhoan kepadanya, serta menjadikan Firdaus sebagai persinggahan terakhirnya. Aamiin.

Motivasi islam: 1 Kebaikan vs 99 Kesalahan

Kisah Rasullah“Seorang laki-laki dari umatku dipanggil di hadapan para makhluk pada hari kiamat. Kemudian ditampakkan kepadanya 99 lembar catatan. Setiap lembarnya sejauh mata memandang. Kemudian dikatakan kepadanya: ‘Apakah engkau mengingkari ini?’ Ia berkata: ‘Tidak, wahai Robb!’ Lalu dikatakan: ‘Apakah engkau memiliki suatu kebaikan?’ Maka laki-laki itupun tertunduk karena haibah (keagungan Alloh) sambil berkata: ‘Tidak wahai Robb!’. Maka dikatakan: ‘Tidak demikian. Karena engkau masih memiliki kebaikan di sisi kami, dan kamu tidak akan dizolimi’. Maka dikeluarkan untuknya sebuah bitoqoh (kartu amal) yang di dalamnya ada kesaksian ‘Asyadu an La Ilaha illahlloh wa Asyadu anna Muhammadar Rasulullah. Maka orang itu berkata: ‘Wahai Robbku, apakah artinya bitoqoh seperti ini?’ Maka dikatakan: ‘Kamu tidak akan dizholimi.’ Kemudian 99 lembar catatan diletakkan dalam satu timbangan dan bitoqoh dalam timbangan yang lain, maka bitoqoh itupun lebih berat.” (HR. at-Tirmidzi dan Hakim)

Kisah motivasi islami: Sang Penyelamat kaum Muslimin

“Ada seseorang yang bernama Martsad bin Abi Martsad, dia adalah seorang laki-laki yang bertugas melarikan para tawanan dari Makkah menuju Madinah. Dia memiliki teman wanita seorang pezina (seorang wanita kafir) bernama ‘Anaq. Suatu ketika beliau telah berjanji kepada seseorang untuk membawanya ke Madina, kemudian dia bercerita: “Maka sampailah aku hingga berada pada naungan sebuah dinding di Makkah tatkala bulan purnama. Tiba-tiba datanglah ‘Anaq kemudian dia melihat bayanganku dari samping dinding, manakala dia sampai di dekatku dia me-ngenaliku, lantas dia bekata: “Apakah engkau Martsa?” Ya saya Martsad, “Jawabku. Anaq berkata, selamat datang wahai Martsad! “Marilah bermalam bersamaku malam ini.” Maka aku menjawab: “Wahi ‘Anaq! Sungguh Alloh telah mengharamkan zina. “Dia berteriak, wahai yang berada di dalam kemah, ini dia orang yang akan melarikan tawanan kalian.” Maka saya lari dan dikejar oleh delapan orang hingga sampai di sebuah gunung yang bernama Khundamah (sebuah gunung yang terkenal, terletak di salah satu pintu masuk Makkah) dan saya masuk ke dalam sebuah gua. Tiba-tiba muncullah orang-orang yang mengejarkau hingga berhenti tepat di atas kepalaku, namun Alloh membutakan mata mereka untuk melihatku. Beberapa saat kemudian aku kembali kepada temanku dan berhasil membawanya, sungguh dia adalah seorang yang berat tubuhnya. Sehingga aku sampai di padang ilalang/rerumputan, lalu aku lepaskan belenggunya. Kemudian aku membawanya menuju kota Madinah dan hal itu sungguh melelahkan, kemudian aku menghadap Rasulullah dan bertanya kepada beliau: “wahai Rasulullah bolehkah saya menikahi ‘Anaq?” saya utarakan hal itu dua kali, namun Rasulullah diam dan tidak menjawab hingga turunlah ayat:

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin. (QS. An-Nuur: 3)

Hadist Rasullah

Kemudian Rasulullah  bersabda:

“Wahai Martsad, seorang pezina tidak menikah kecuali dengan wanita pezina atau wanita musyrik dan wanita pezina tidak dinikahi kecuali oleh laki-laki pezina atau orang musyrik, maka janganlah engkau menikahinya! (HR. at-Tirmidzi)

Manfaatkan Sisa Umurmu! Engkau Akan Diampuni

Suatu hari, seseorang mendatangi Fudhail bin Iyadh. Fudhail bertanya ke-padanya, “Berapa umurmu?”

“60 tahun,” jawabnya.

Fudhail berkata, “Sebenarnya, selama 60 tahun engkau sedang menuju Alloh, dan hampir saja engkau sampai kepada-Nya.”

Orang itu pun berkata, “Sesungguhnya, kita dari Alloh dan kepada Allohlah kita kembali.”

“Tahukah engkau makna kalimat yang engkau ucapkan tadi?” Tanya Fudhail. “Barang siapa menyadari bahwa dirinya adalah hamba Alloh dan kepada-Nya dia akan kembali, dia akan menyadari bahwa dirinya akan dikumpulkan.Barang siapa yang mengetahui bahwa dirinya akan dikumpulkan, dia akan menyadari bahwa dia akan diminta pertanggung-jawaban. Barang siapa menyadari dirinya akan ditanya, hendaklah dia mempersiapkan jawabannya” lanjut Fudhail.

“Lalu bagaimana jalan keluarnya?” dijawab oleh Fudhail, “Dengan mem-perbaiki sisa umurmu, niscaya engkau akan diampuni. Adapun jika engkau tidak memanfaatkannya maka engkau akan rugi dua kali, tidak meraih manfaat yang dahulu dan akan datang.”

Kisah Rasulullah : Dialog Rasulullah  bersama Orang Tua

Dari Abdurrahman bin Jubair dari Abu Thawil Syathab al Mamdud, bahwa dia mendatangi Nabi  (dan dalam riwayat lain);

“Telah datang seorang tua renta yang lemah tubuhnya, kedua alis matanya telah turun di depan matanya, sedangkan dia bersandar pada tongkat sehingga berdiri di hadapan Nabi  seraya berkata: “Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang telah mengerjakan seluruh jenis dosa, sehingga tiada dosa yang kecil maupun yang besar melainkan telah dia kerjakan, (dan dalam riwayat lain kecuali telah dia kerjakan dengan tangan kanannya) seandainya dosa tadi dibagikan kepada penduduk bumi niscaya mereka akan binasa. Apakah masih ada kesempatan baginya untuk bertaubat?” Maka Nabi bersabda: “Apakah engkau telah masuk Islam?” Orang tua tadi menjawab: “Adapun aku, aku bersaksi bahwa tiada ilah yang haq kecuali Alloh dan bahwa anda adalah utusan Alloh.” Kemudian Rasulullah bersabda: “Kerjakanlah kebaikan-kebaikan dan tinggalkanlah keburukan-keburukan nisaya Alloh akan menjadikan amal-amalmu sebagai kebaikan seluruhnya.” Termasuk pengkhianatan dan kejahatan-kejahatanku? tanya orang tua itupun berkata Allohu akbar, kemudian dia mengulang-ulangi takbir-nya hingga menghilang.

Taubat yang Agung

Dari Buraidah  berkata bahwa Ma’iz bin Malik Al-Aslamiy mendatangi Rasulullah  seraya berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku telah mendzhalimi diriku sendiri, sesungguhnya aku telah berzina, dan aku ingin agar anda mensucikan diriku.” Namun Rasulullah menolaknya. Kemudia keesokan harinya dia kembali mendatangi Rasulullah  seraya berkata “Ya Rasulullah sungguh aku telah berzina.” Namun Rasulullah menolak (untuk merajam) yang kedua kalinya. Kemudian Rasulullah mengirim utusan kepada kaumnya lalu bertanya: “Apakah kalian melihat bahwa akalnya tidak sehat? Atau kalian menemukan keanehan pada dirinya?” Mereka menjawab: “Kami tidak mengetahui melainkan dia adalah orang yang sehat akalnya, dan dia termasuk orang yang shaleh menurut pandangan kami.” Kemudian orang tadi mendatangi Rasulullah untuk yang ketiga kalinya dan kembali Rasulullah mengirimkan utusan kepada kaumnya (untuk meneyelidiki), lalu Rasulullah   mempertanyakan kondisi orang tersebut dan mereka menjawab bahwa dia tidak apa-apa, begitu pula akalnya. Tatkala Ma’iz datang kepada Rasulullah  yang keempat kalinya maka Rasulullah menggali lubang untuknya kemudian memerintahkan untuk merajamnya.

Buraidah berkata,” kemudian datanglah sorang wanita Ghamidiyah seraya ber-kata “Ya Rasulullah sungguh aku telah berzina, maka sucikanlah (rajamlah) aku.” Namun Rasulullah menolaknya, namun keesokan harinya wanita itu datang lagi kepada Rasulullah seraya berkata “Ya Rasulullah mengapa anda menolakku? Barangkali anda menolakku sebagaimana anda menolak Ma’iz padahal demi Alloh saya telah hamil. Kemudian Rasulullah bersabda: “Tidak, pergilah kamu sampai melahirkan anakmu.” Maka tatkala wanita itu telah melahirkan dia mendatangi Ra-sululloh  sambil membawa seorang bayi yang dia bawa dengan selembar kain, dia berkata: “Ini ya Rasulullah saya telah melahirkan.” Namun Rasulullah  bersabda: “Pergilah kamu dan susuilah anakmu hingga kamu menyapihnya.” Tatkala wanita itu telah menyapih anaknya, dia datang kepada Rasulullah  dengan membawa bayinya sedangkan di tangannya memegang secuil roti, kemudian dia berkata: “Ya Rasulullah inilah anakku sudah saya sapih dan dia sudah makan makanan (selain susu ibu).” Rasulullah menyerahkan bayi tersebut kepada salah seorang di antara kaum muslimin, lalu beliau perintahkan untuk membuat lubang bagi wanita tersebut setinggi dada wanita itu, dan memerintahkan kepada kaum mus-limin untuk merajamnya. Kemudian datanglah Khalid bin Walid dengan mem-bawa sebuah batu kemudian dia lemparkan ke kepala wanita tersebut, sehingga darah wanita itu mengenai wajah Khalid, lalu Khalid mencela wanitu itu, lantas Rasulullah  mendengar celaan tersebut kemudian bersabda:

Hadist Rasullah:

“Jangan begitu wahai Khalid! Demi yang jiwaku ada di tanganNya sungguh dia telah bertaubat dengan suatu taubat yang seandainya seorang pemungut pajak bertaubat dengan taubat tersebut niscaya akan diampuni. (HR. Muslim)

Selanjutnya Rasulullah memerintahkan untuk menshalatkannya dan mengubur-kannya.Subhanalloh inilah akhlak rasullah . Dalam sebuah riwayat, Umar berkata: “Ya Rasulullah Anda merajamnya kemudian menshalatkannya?” beliau bersabda:

Hadist Rasullah:

Sungguh dia telah bertaubat dengan suatu taubat yang seandainya di bagikan untuk tujuh puluh penduduk Madinah niscaya mencukupi mereka, apakah engkau mendapatkan seseorang yang lebih utama dari pada seorang wanita yang menyerahkan dirinya kepada Alloh ?” (HR. Abu Razzaq)

Kedudukan Al-Qur’an Bagi Manusia

keajaiban alquranAlloh Azza wa Jalla telah menurunkan al-Qur’ân sebagai petunjuk bagi manusia. Dengan al-Qur`ân Alloh Azza wa Jalla membukakan hati yang tertutup, mata yang buta, dan telinga yang tuli.

Keajaiban-keajaiban al-Qur’ân tidak pernah habis, tidak pernah usang walaupun sering diulang sepanjang siang dan malam.

Tadabbur (memperhatikan) al-Qur’ân akan melahirkan ilmu yang banyak dan bermanfaat. Dengannya akan dibedakan antara kebenaran dengan kebatilan, iman dengan kekafiran, manfaat dengan madharat, kebahagiaan semu dengan kebahagiaan hakiki, calon penghuni surga dengan penghuni neraka, dan sebagainya. Oleh karena itulah Alloh Azza wa Jalla memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mentadabburi ayat-ayat-Nya. Dia Azza wa Jalla berfirman:

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya orang-orang yang mempunyai fikiran mendapat pelajaran. (QS.Shâd/38:29)

Imam Ibnu Jarîr ath-Thabari rahimahullah berkata, “Alloh Azza wa Jalla berkata kepada Nabi-Nya (Muhammad ShallAllohu ‘alaihi wa sallam), ‘Al-Qur’ân ini ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, wahai Muhammad, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya, agar mereka memperhatikan hujjah-hujjah Alloh Azza wa Jalla serta syari’at-syari’at yang ditetapkan di dalamnya, kemudian mereka mendapat pelajaran dan mengamalkannya’”. (Tafsîr ath-Thabari, 21/190)

PETUNJUK ADALAH DENGAN MENGIKUTI AL-QUR’AN

Barangsiapa mengikuti al-Qur’ân, Alloh Azza wa Jalla telah menjanjikan petunjuk dan keamanan, sebaliknya orang yang berpaling darinya akan tersesat dan celaka. Alloh Azza wa Jalla berfirman:

Alloh berfirman: “Turunlah kamu berdua (Adam dan Iblis) dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka, jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS.Thâhâ/20:123-124)

Pada ayat di atas Alloh Azza wa Jalla berfirman kepada Adam, Hawa dan Iblis, “Turunlah kamu semua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain”, maksudnya Adam dan keturunannya akan menjadi musuh Iblis dengan keturunannya.

Firman Alloh Azza wa Jalla , “Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku”, maksudnya para nabi, para rasul, dan penjelasan. Firman Alloh Azza wa Jalla , “Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”, maksudnya tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat. Firman Alloh Azza wa Jalla , “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku”, maksudnya menyelisihi perintah-Ku dan perintah yang Aku turunkan kepada rasul-Ku dengan berpaling darinya, melupakannya, dan mengikuti petunjuk selainnya, “Maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit”, maksudnya di dunia, dia tidak memperoleh ketenangan dan kelapangan dada, dadanya menjadi sempit, sesak karena kesesatannya; walaupun dia bersenang-senang secara lahiriyah, berpakaian, makan, dan tinggal sekehendaknya. Namun, selama hatinya tidak mencapai keyakinan dan petunjuk, maka dia selalu berada di dalam kegelisahan, kebingungan, dan keraguan. Ini termasuk kesempitan hidup. Demikian juga termasuk penghidupan yang sempit adalah siksa kubur.

Firman Alloh Azza wa Jalla , “Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”, maksudnya tidak tidak punya hujjah di hadapan Alloh Azza wa Jalla , atau dia akan dibangkitkaan dan digiring menuju neraka dalam keadaan buta mata dan hatinya. (Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr, Surat Thâhâ, ayat 123-124)

NERAKA BAGI ORANG YANG MENGINGKARINYA

Kebahagiaan hakiki akan diraih oleh orang-orang yang mengikuti al-Qur’ân. Sebaliknya, orang yang mengingkarinya, Alloh Azza wa Jalla mengancamnya dengan neraka, dan neraka adalah seburuk-buruk tempat menetap. Alloh Azza wa Jalla berfirman:

Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang mempunyai bukti yang nyata (al-Qur`ân) dari rabb-Nya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari-Nya dan sebelum al-Qur`ân itu telah ada kitab Mûsâ yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman kepada al-Qur`ân. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada al-Qur`ân, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap al-Qur`ân itu. Sesungguhnya (al-Qur`ân) itu benar-benar dari rabbmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (QS.Hûd/11:17)

Imam al-Baghawi rahimahullah berkata, “Firman Alloh Azza wa Jalla , “Dan barangsiapa kafir kepadanya”, maksudnya kepada Muhammad ShallAllohu ‘alaihi wa sallam, ada juga yang mengatakan kepada al-Qur’ân, “Dan sekutu-sekutunya”, yaitu dari kalangan orang-orang kafir dari semua pemeluk agama, “Maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya”. [Tafsîr al-Baghawi 4/167]

BERPALING DARI AL-QUR’AN SEPERTI KELEDAI

Alloh Azza wa Jalla menyerupakan orang-orang kafir yang berpaling dari al-Qur’ân seperti keledai yang berpaling dan kabur dari seekor singa! Alangkah buruknya permisalan bagi mereka itu!! Alloh Azza wa Jalla berfirman:

Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Alloh)? seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. (QS.al-Muddatsir/74:48-50)

Maksudnya, mengapa orang-orang kafir yang berada di hadapanmu berpaling dari apa yang engkau seru dan peringatkan kepada mereka, “Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa”, maksudnya, lari dan berpalingnya mereka dari kebenaran seolah-olah keledai liar yang lari dari singa yang akan memburunya atau dari seorang pemburu. [Lihat Imam Ibnu Katsîr pada tafsir ayat ini; Muqaddimah Tafsîr Adhwâul Bayân]

BERPALING DARI AL-QUR’AN AKAN MEMIKUL BEBAN BERAT

Alloh Azza wa Jalla juga menjelaskan bahwa orang yang berpaling dari al-Qur`ân, maka dia akan memikul beban yang dia sangat berat. Alloh Azza wa Jalla berfirman:

Sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (al-Qur`ân). Barangsiapa berpaling dari al-Qur’ân, maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat. Mereka kekal di dalam keadaan itu, dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari kiamat. (QS.Thâhâ/20:100-101)

SEBAB KEMULIAAN DAN KEHINAAN

Sesungguhnya Alloh Azza wa Jalla memuliakan sebagian manusia dengan al-Qur’ân dan merendahkan sebagian yang lain. Alloh Azza wa Jalla berfirman:

Maka serahkanlah (wahai Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (al-Qur`ân). Kelak, Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amatlah kuat. (QS.al-Qalam/68:44-45)

Al-Qur’ân adalah kitab yang sempurna. Kitab dari langit yang terakhir turun dari Rabb semesta alam. Sesungguhnya seluruh kebaikan adalah dengan mengikuti al-Qur’ân dan seluruh keburukan adalah dengan berpaling darinya. Al-Qur’ân dapat menjadi hujjah yang akan membela seorang hamba. Namun, juga dapat menjadi penghujat baginya. Maka berbahagialah orang yang pertama itu, dan alangkah celakanya orang yang kedua. Di dalam al-Qur`ân, terdapat janji kebaikan yang besar bagi orang yang taat, dan ancaman keras bagi orang yang maksiat. Alloh Azza wa Jalla berfirman:

Dan seandainya Kami jadikan al-Qur`ân itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah (patut al-Qur`ân) dalam bahasa asing sedang (Rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al-Qur`ân itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang Mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman, pada telinga mereka ada sumbatan, sedang al-Qur`ân itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh”. (QS.Fushshilat/41:44)

KEADAAN UMAT

Walaupun kedudukan al-Qur’ân begitu agung, namun mayoritas umat Islam di seluruh penjuru dunia di zaman ini berpaling dari tadabbur terhadap kitab mulia ini, tidak peduli terhadap perkataan Pencipta mereka, tidak mengambil adab dengan adab-adab yang diajarkan di dalam al-Qur’ân, dan tidak berakhlak dengan akhlak mulia ajaran al-Qur’ân. Mereka mencari hukum-hukum di dalam undang undang sesat yang menyelisihi al-Qur’ân. Bahkan orang-orang yang berusaha mengamalkan adab dan akhlak al-Qur’ân direndahkan dan dihinakan.

Maka wahai saudaraku, jangan sampai banyaknya orang yang menjauhi kitab Alloh Azza wa Jalla itu menjauhkanmu darinya, dan jangan sampai banyaknya orang-orang yang mencela orang yang mengamalkan al-Qur’ân itu menjadikanmu terhina. Ketahuilah, sesungguhnya seorang yang berakal lagi cerdas itu tidak akan peduli terhadap kritikan orang-orang gila. Maka majulah menuju kitab Alloh, bacalah, fahamilah dengan bimbingan para Ulama Ahlus Sunnah. Semoga tempat kembalimu adalah Jannah. Amîn.

(Lihat: Muqaddimah Tafsîr Adhwâul Bayân, karya Syaikh Muhammad al-Amîn asy-Syinqîthi)

Obat Anti Galau: Jangan Ragu-ragu Sobat…!!

Galau“Keragu-raguan benar-benar merusak pendapat, melemahkan cita-cita, menyurutkan tekad, dan membuat energi, akal dan pikiran mejadi buyar. Akibatnya, muncul perasaan GALAU, was-was, cemas dan tegang”

Pada saat Abu Bakar Ash-Shidiq Ra memutuskan untuk memerangi orang-orang murtad, beliau menyampaikan statemennya yang sangat terkenal,

“Demi Alloh, seandainya mereka tidak memberiku seutas tali yang pernah mereka berikan kepada Rosulloh SAW, niscaya aku akan memerangi mereka.”

Ini adalah pelajaran bagi kita, bahwa ketika beliau sudah bertekad bulat memerangi mereka, maka beliau mengambil keputasan tanpa ragu-ragu. Beliau memutuskan apa yang menurutnya benar dan bertawakal kepada Alloh Ta’ala seraya melakukan apa yang seharusnya dilakukan.

Kebimbangan benar-benar merusak pendapat, melemahkan cita-cita, menyurutkan tekad, membuat energi, akal dan pikiran menjadi buyar. Akibatnya, muncul perasaan GALAU, was-was, cemas dan tegang.

Kegalauan seorang pemuda dalam memilih pendamping hidupnya, Kegalauan seorang mahasiswa dalam memilih jurusannya, dan Kegalauan seorang pegawai dalam memilih pekerjaan dan apa-apa yang cocok dengan dirinya bisa mengundang perasaan bingung, cemas dan stres. Umur manusia hanya satu, dan hari ini tidak akan kembali lagi.  Jadi, ia harus membangun sesuatu berdasarkan keyakinan tersebut. Sebab, seorang apabila ingin melakukan sesuatu, lalu membulatkan tekad, melaksanakan sholat istikhoroh(meminta petunjuk dari Alloh), meminta pendapat orang lain dan bertawakal kepada Rabb-Nya, maka ia harus maju seperti air bah, tajam seperti pedang dan tegar seperti zaman.

Oleh: Syekh Abdullah bin Ali B

Galau Musuh Bagi Tidur Dan Mimpi Indah

GalauSegala puji bagi Alloh semata. Semoga Alloh senantiasa  melimpahkan Shalawat kepada Nabi kita Muhammad SAW, beserta segenap keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Apa yanga menimpa kebanyakan orang sebenarnya merupakan virus yang ganas dan penyakit yang akut. Ia telah mengganggu tidur banyak orang dan membuat mata banyak orang  tidak dapat terpejam. Itulah virus “Galau” yang mulai menyerang hati dan akal pikiran. Bahkan telah menjadi penyakit kronis di dalam banyak komunitas, baik muslim maupun non muslim.

Galau adalah musuh bagi kedamaian dan ketentraman.

Galau adalah musuh  bagi ketenangan dan kenyamanan.

Galau adalah musuh tidur dan mimpi indah.

Galau adalah adalah masalah yang tidak mampu diatasi oleh berbagai disiplin ilmu kedoteran dan obat-obatan.

Galau adalah sinonim pertama bagi tidak adanya iman yang benar kepada Alloh dan Takdir-Nya.

“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.”(Qs.Az Zukhruf:36)

Ingatlah, hanya dengan mengingati Alloh-lah hati menjadi tenteram. .”(Qs. Ar Ra’d :28)

Oleh karena itulah, kita semua harus mengikuti  Manhaj(metode) Muhammad SAW dan syariat yang  terang benderang di dalam kehidupan kita sehari-hari. Yakni, dengan cara membentengi diri dengan dzikir-dzikir dan wirid-wirid yang syar’I dimana saja dan kapan saja.

Setelah itu didukung  dengan hal-hal lain sebagai upaya melepaskan diri dari penyakit yang berbahaya ini. Dan harus saya tekankan disini  bahwa  kebanyakan manusia dilanda kegalauan. Hanya, tingkat intesitasnya berbeda-beda.

Ide tulisan ini pada awalnya merupakan hal-hal kecil yang terjadi di dalam kehidupan kita sehari-hari.Yaitu, peristiwa-peristiwa yang dialami oleh dua jenis manusia yang berbeda. Yang pertama adalah manusia yang tidak memperhatikan berbagai peristiwa dan tidak menghiraukannya sama sekali, sehingga peristiwa-peristiwa itu berlalu begitu saja.Manusia jenis ini bisa mengatasi kegelisahan dengan kemaunnya sendiri dan dengan segenap kemampuan yang ia miliki.

Yang kedua adalah manusia yang disibukan oleh berbagai peristiwa tersebut hingga menguasai pikiran, akal, dan hatinya, bahkan menjadi kesibukannya yang dominan dan nasibnya yang buruk. Akibatnya, hatinya menjadi sakit, pemikirannya invalid(lumpuh), dan tidurnya terganggu.

Yang menjadi obyek tulisan untuk selanjutnya  adalah manusia jenis kedua. Merekalah yang menjadi target pembicaraan  ini.

Semoga Alloh senantiasa melimpahkan Shalawat kepada Nabi kita Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya.

KAJIAN SALAF: Berkumpul dengan Pecinta Dunia, Akan Membuat Penat

kajian salafSalah seorang  Salafusholeh tabi’in Abu Muslim Al Khaulani, pada suatu hari memasuki sebuah masjid. Ia melihat sekelompok orang berkumpul yang kelilhatannya hendak berzikir kepada Alloh. Beliau ikut duduk bersama mereka.  Tiba-tiba salah seorang di antara mereka mengatakan,” Anakku tidak datang, rupanya ia terkena ini dan itu”  dan yang lainnya berkata “ Anakku sudah menyiapkan ini dan itu.”

Setelah menatap mereka, Salafusholeh tabi’in agung ini berkata,” Subhanallah tahukah kalian, permisalan antara diriku dan kalian? Yaitu seperti seseorang yang tertimpa hujan yang sangat lebat. Ketika ia menoleh dilihatnya dua pintu rumah yang sangat besar, lalu ia berucap, ”Sebaiknya aku masuk rumah ini hingga hujan reda”. Lalu ia masuk, ternyata rumah itu tidak beratap. Kemudian aku ikut duduk bersama kalian dan aku berharap kalian berada dalam zikir dan kebajikan, ternyata kalian adalah ashab ad-dunya pecinta dunia.

Amalan-amalan  ibadah, seperti shalat, shaum haji dan yang lainnya bagi kebanyakan orang sudah menjadi gerakan rutinitas  yang biasa mereka kerjakan tanpa merasakan maknanya lagi. Betapa banyak orang  yang shalat namun shalatnya tidak mampu lagi mencegah dari kekejian, kemungkaran dan kelaliman. Hal itu tidak lain karena kesibukan mengurus urusan dunia dan ambisi duniawi yang telah menguasai mereka sehingga kekhusuan tidak berbekas dalam dirinya. Selain itu karena yang ada dalam diri mereka hanya urusan duniawi semata. Mereka itu juga bicara hanya seputar dunia sekalipun mereka masih berada di masjid, pemakaman, atau rumah sakit dan tempat-tempat yang dapat mengingatkan kehidupan akhirat.

Obrolan manusia yaitu cerminan dari ambisi yang menguasai mereka. Jika mereka ambisi pada hal-hal duniawi, maka mereka akan selalu membicarakan dunia. Sebaliknya jika orientasi mereka adalah akhirat maka pembicaraan mereka akan selalu berkaitan dengan akhirat.

Bermajelis dengan orang-orang yang berorientasi duniawi seperti itu akan dapat melemahkan hati dan membuatnya penat. Karena itu dalam biografi Salafusholeh tabi’in  Abu Muslim Al Khaulani ra terdapat keterangan, “Bahwa beliau tidak mau memperhatikan orang yang selalu membicarakan urusan duniawi, bahkan beliau berpaling darinya.” (Li)

SIFAT-SIFAT MUKMIN SEJATI DALAM AL-QUR`AN

bp1Keimanan merupakan kunci kebaikan dan keberuntungan seseorang di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla sering sekali menyebutkan kata ‘iman’ ini dalam al-Qur’ân, baik dalam konteks perintah, larangan, anjuran, pujian dan lain sebagainya. Jika penyebutan lafazh ‘iman’ itu dalam konteks perintah, larangan atau penetapan hukum di dunia, maka itu berarti, ucapan itu diarahkan kepada seluruh kaum Mukminin, baik yang imannya sempurna ataupun kurang . Sedangkan, jika penyebutan kata ‘iman’ itu dalam konteks pujian kepada orang-orangnya dan penjelasan balasannya, maka itu berarti, ucapan itu diarahkan untuk orang-orang yang imannya sempurna. Kelompok yang kedua inilah yang hendak dijelaskan di sini.

Dalam al-Qur’ân, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan bahwa orang Mukmin yaitu orang yang mengakui dan mengimani semua pokok akidah, menginginkan dan melakukan apa Allâh Azza wa Jalla sukai dan ridhai, meninggalkan semua perbuatan maksiat dan bergegas untuk bertaubat dari perbuatan dosa yang dia lakukan. Allâh Azza wa Jalla juga menyebutkan bahwa keimanan mereka memberikan dampak positif pada akhlak, perkataan dan tindak-tanduk mereka.

Allâh Azza wa Jalla telah menyebutkan sifat kaum Mukminin itu yaitu yang beriman kepada semua rukun iman, mendengar dan taat serta patuh, baik secara lahir maupun batin. Allâh Azza wa Jalla juga menyebutkan sifat mereka yang lain dalam firman-Nya :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ﴿٢﴾الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ﴿٣﴾أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allâh , gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya keiman mereka bertambah, dan hanya kepada Rabblah mereka bertawakkal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabb mereka dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia. [al-Anfâl/8:2-4]

Sifat-sifat lain yang Allâh Azza wa Jalla sebutkan yaitu jika mendengar ayat-ayat Allâh Azza wa Jalla dan mengingat Allâh Azza wa Jalla mereka gemetar, menangis namun hati mereka lembut dan tenang; mereka senantiasa takut kepada Rabb mereka; khusyu’ dalam shalat, menjauh dari perbuatan sia-sia, menunaikan zakat, menjaga kemaluan, memberikan persaksian yang benar dan menunaikan amanah.

Allâh Azza wa Jalla juga menyatakan bahwa diantara sifat kaum Mukminin adalah yakin dengan sepenuh hati tanpa ada ragu sedikitpun, berjihad di jalan Allâh Azza wa Jalla dengan harta dan jiwa raga mereka dan mereka ikhlas dalam semua perbuatan mereka, cinta kepada sesama kaum Mukminin, mendoakan kebaikan untuk kaum Mukminin di masa lalu dan yang akan datang, berusaha menghilangkan kebencian terhadap kaum Muslimin dari hati mereka, senantiasa loyal kepada Allâh Azza wa Jalla , Rasul-Nya dan kaum Muslimin serta berlepas diri dari semua musuh Islam, menyuruh melakukan yang ma’ruf dan meninggalkan kemungkaran dan mereka senantiasa taat kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya dalam segala kondisi.

Inilah di antara sifat Mukmin sejati. Dalam diri mereka berpadu antara akidah yang benar, keyakinan yang sempurna dan keinginan kuat untuk senantiasa bertaubat. Ini semua melahirkan sikap patuh untuk melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan.

Semua sifat ini merupakan sifat Mukmin sejati yang akan terhindar dari siksa Allâh Azza wa Jalla , yang berhak mendapatkan pahala serta berhak meraih semua kebaikan yang merupakan buah dari keimanan.

Setelah mengetahui sifat-sifat ini, seyogyanya bagi seorang Mukmin mengintrospeksi dan melihat dirinya, sudahkah dia memiliki sifat ini? Jika sudah, sudahkah sifat-sifat terpuji ini sempurna ataukah masih banyak kekurangannya? Introspeksi seperti ini sangat urgens untuk memacu semangat memperbaiki diri. Kalau sebatas mengetahui sifat-sifat terpuji yang merupakan kunci kebahagiaan di dunia dan akhirat ini tanpa ada tindak-lanjut dengan menilai diri, maka alangkah ruginya. Sebab, dengan menilai diri, dia akan mengetahui kekurangan-kekurangannya sehingga terpacu untuk menyempurnakannya dengan bertaubat dan istighfâr. Inilah yang menyebabkan proses introspeksi ini menjadi penting. Karena semua yang dijanjikan untuk kaum Mukminin itu akan bisa diraih hanya dengan iman yang sempurna.

Allâh Azza wa Jalla telah menetapkan lebih dari seratus kebaikan yang bisa diraih dengan iman. Nilai satu kebaikan melebihi nilai dunia dan seisinya. Diantara kebaikan yang bisa diraih dengan keimanan yaitu ridha Allâh Azza wa Jalla yang merupakan karunia tertinggi. Iman juga bisa menyebabkan seseorang masuk surga, selamat dari siksa neraka, terhindar dari siksa kubur, terhindar dari berbagai kesulitan pada hari Kiamat, gembira di dunia dan akhirat, teguh dalam keimanan di dunia dan istiqamah dalam ketaatan dan ketika meninggal dan dikubur tetap diatas iman, tauhid dan bisa menjawab dengan benar.

Dengan iman seseorang bisa meraih kehidupan yang baik di dunia, rizki, kebaikan, kemudahan, terhindar dari berbagai kesulitan, ketenangan hati dan jiwa, qana’ah, hidup nyaman, anak keturunan yang baik dan menjadikan mereka sebagai penghibur bagi seorang mukmin, sabar ketika mendapat ujian dan musibah.

Dengan sebab keimanan, Allâh Azza wa Jalla menghilangkan berbagai beban dari kaum Mukminin, melindungi mereka dari berbagai keburukan, menolong mereka dalam menghadapi musuh, tidak menyiksa kaum Mukminin yang lupa, yang tidak tahu dan yang keliru. Allâh tidak memberikan beban kepada mereka bahkan Allâh Azza wa Jalla menghilangkannya dan tidak membebankan kepada mereka sesuatu diluar batas kemampuan mereka.

Dengan sebab iman, Allâh mengampuni dosa-dosa kaum Mukminin dan memberikan taufik kepada mereka untuk segera bertaubat.

Jadi keimanan merupakan sarana terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla , mendekat kepada rahmat Allâh Azza wa Jalla dan meraih pahala dari Allâh Azza wa Jalla . Iman juga merupakan sarana ampuh untuk meraih ampunan Allâh Azza wa Jalla dan menghilangkan atau meringankan semua kesulitan.

Secara rinci, manfaat yang bisa diraih dengan keimanan itu sangat banyak. Singkatnya, kebaikan dunia dan akhirat merupakan buah dari keimanan sebaliknya keburukan-keburukan itu ada akibat dari hilangnya keimanan. Wallâhu a’lam

(Dikutip dari kitab Al-Qawâidul Hisân, Syaikh Abdurrahmân bin Nâshir as-Sa`di, halaman. 77-80)(snh)