Artikel Al-Quran Archives - Yayasan Takrimul Quran

Yayasan Takrimul Quran

Tafsir Al-Fatihah, ayat 7 Bag 1

{صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (7) }

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat.
Dalam hadis yang lalu disebutkan apabila seseorang hamba mengucapkan.”Tunjukilah kami ke jalan yang lurus ….” sampai akhir surat. maka Allah Swt. berfirman: Ini untuk Hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta
Firman Allah swt yang mengatakan: Yaitu jalan orang-orangyang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka. (Al-Fatihah: 7) berkedudukan menafsirkan makna siratal mustaqim. Menurut kalangan ahli nahwu menjadi badal. dan boleh dianggap sebagai ‘ataf bayan.
Orang-orang yang memperoleh anugerah nikmat dari Allah Swt. adalah mereka yang disebutkan di dalam surat An-Nisa melalui firman-Nya:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَداءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيقاً. ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفى بِاللَّهِ عَلِيماً

Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para siddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui. (An-Nisa: 69-70)
Dahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna firman Allah Swt., “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka” (Al-Fatihah: 7) ialah orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka berupa ketaatan kepada-Mu dan beribadah kepada-Mu; mereka adalah para malaikat-Mu, para nabi-Mu, para siddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam firman lainnya, yaitu: Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mere-ka itu bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, hingga akhir ayat. (An-Nisa: 69)
Abu Ja’far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi’ ibnu Anas sehubungan dengan makna firman-Nya, “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka” (Al-Fatihah: 7). Makna yang dimaksud adalah “para nabi”.
Ibnu Juraij meriwayatkan pula dari Ibnu Abbas r.a., bahwa yang dimaksud dengan “mereka” adalah orang-orang beriman; hal yang sama dikatakan pula oleh Mujahid. Sedangkan menurut Waki’. mereka adalah orang-orang muslim.
Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan, mereka adalah Nabi Saw. dan orang-orang yang mengikutinya. Tafsir yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas tadi mempunyai pengertian yang lebih mencakup dan lebih luas.

*****

{غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ}

bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Al-Fatihah: 7)
Menurut jumhur ulama, lafaz gairi dibaca jar berkedudukan sebagai na’at (sifat). Az-Zamakhsyari mengatakan dibaca gairasecara nasab karena dianggap sebagai hal (keterangan keadaan), hal ini merupakan bacaan Rasulullah Saw. dan Khalifah Umar ibnu Khattab r.a. Qiraah ini diriwayatkan oleh Ibnu Kasir. Sedangkan yang berkedudukan sebagai zul hal ialah damiryang ada pada lafaz ‘alaihim, dan menjadi ‘amil ialah lafaz an’amta.
Makna ayat “tunjukilah kami kepada jalan yang lurus” yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau berikan anugerah nikmat kepada mereka yang telah disebutkan sifat dan ciri khasnya. Mereka adalah ahli hidayah. istiqamah, dan taat kepada Allah serta Rasul-Nya, dengan cara mengerjakan semua yang diperintahkan-Nya dan menjauhi semua yang dilarang-Nya. Bukan jalan orang-orang yang dimurkai. Mereka adalah orang-orang yang telah rusak kehendaknya; mereka mengetahui perkara yang hak, tetapi menyimpang darinya. Bukan pula jalan orang yang sesat. mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki ilmu agama). akhirnya mereka bergelimang dalam kesesatan. tanpa mendapatkan hidayah kepada jalan yang hak (benar).
Pembicaraan dalam ayat ini dikuatkan dengan huruf la untuk menunjukkan bahwa ada dua jalan yang kedua-duanya rusak, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang Yahudi dan oleh orang-orang Nasrani.
Sebagian dari kalangan ulama nahwu ada yang menduga bahwa kata gairi dalam ayat ini bermakna istisna (pengecualian). Berdasarkan takwil ini berarti istisna bersifat munqati’, mengingat mereka dikecualikan dari orang-orang yang beroleh nikmat. dan mereka bukan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beroleh nikmat. Akan tetapi, apa yang telah kami ketengahkan di atas adalah pendapat yang lebih baik karena berdasarkan kepada perkataan seorang penyair, yaitu:

كَأَنَّكَ مِنْ جِمَالِ بَنِي أُقَيْشٍ … يُقَعْقِعُ عِنْدَ رِجْلَيْهِ بِشَنِّ

Seakan-akan engkau merupakan salah satu dari unta Bani Aqyasy yang mengeluarkan suara dari kedua kakinya di saat melakukan penyerangan.

Makna yang dimaksud ialah “seakan-akan kamu mirip dengan salah seekor unta dari temak unta milik Bani Aqyasy”. Dalam kalimat ini mausuf dibuang karena cukup dimengerti dengan menyebutkan sifatnya. Demikian pula dalam kalimat gairil magdubi ‘alaihim, makna yang dimaksud ialah gairi siratil magdubi ‘alaihim (bukan pula jalan orang-orang yang dimurkai). Dalam kalimat ini cukup hanya dengan menyebut mudafilaih-nya saja, tanpa mudaf lagi; pengertian ini telah ditunjukkan melalui konteks kalimat sebelumnya, yaitu firman-Nya:

{اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ}

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka. (Al-Fatihah: 6-7)
Kemudian Allah Swt. berfirman:

{غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ}

bukan (jalan) mereka yang dimurkai. (Al-Fatihah: 7)
Di antara mereka ada yang menduga bahwa huruf la dalam firman-Nya, “Walad dallina,” adalah la zaidah (tambahan). Bentuk kalam selengkapnya menurut hipotesis mereka adalah seperti berikut: “Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan orang-orang yang sesat.” Mereka mengatakan demikian berdalilkan perkataan Al-Ajjaj (salah seorang penyair), yaitu:

فِي بِئْرٍ لَا حُورٍ سَرَى وَمَا شَعَرَ

Dalam sebuah telaga bukan telaga yang kering dia berjalan, sedangkan dia tidak merasakannya.

Makna yang dimaksud ialah bi-ri haurin. Akan tetapi, makna yang sahih adalah seperti yang telah kami sebutkan di atas.
Karena itu, Abu Ubaid Al-Qasim ibnu Salam di dalam kitab Fadailil Qur’an meriwayatkan sebuah asar Abu Mu’awiyah, dari A’masy dari Ibrahim, dari Al-Aswad, dari Umar ibnul Khattab r.a. Disebutkan bahwa Umar r.a. pernah membaca gairil magdubi ‘alaihim wa gairid dallina.
Sanad asar ini berpredikat sahih.
Demikian pula telah diriwayatkan dari Ubay ibnu Ka’b, bahwa dia membacanya demikian, tetapi dapat diinterpretasikan bahwa bacaan tersebut dilakukan oleh keduanya (Umar dan Ubay) dengan maksud menafsirkannya. Dengan demikian, bacaan ini memperkuat apa yang telah kami katakan. yaitu bahwa sesungguhnya huruf la didatangkan hanya untuk menguatkan makna nafi agar tidak ada dugaan yang menyangka bahwa lafaz ini di-ataf-kan kepada allazina an’amta ‘alaihim; juga untuk membedakan kedua jalan tersebut dengan maksud agar masing terpisah jauh dari yang lainnya. karena sesungguhnya jalan yang ditempuh oleh ahli iman mengandung ilmu yang hak dan pengamalannya. Sedangkan -orang-orang Yahudi telah kehilangan pengamalannya, dan orang-orang Nasrani telah kehilangan ilmunya. Karena itu dikatakan murka menimpa orang-orang Yahudi dan kesesatan menimpa orang-orang Nasrani. Orang yang mengetahui suatu ilmu lalu ia meninggalkannya, yakni tidak mengamalkannya, berarti ia berhak mendapat murka; lain halnya dengan orang yang tidak mempunyai ilmu. Orang-orang Nasrani di saat mereka mengarah ke suatu tujuan. tetapi mereka tidak mendapat petunjuk menuju ke jalannya, mengingat mereka mendatangi sesuatu bukan dari pintunya, yakni tidak mengikuti perkara yang hak, akhirnya sesatlah mereka. Orang-orang Yahudi dan Nasrani sesat lagi dimurkai. Hanya, yang dikhususkan mendapat murka adalah orang-orang Yahudi, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman Allah Swt.:

مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ

yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah. (Al-Maidah: 60)
Yang dikhususkan mendapat predikat sesat adalah orang-orang Nasrani, sebagaimana yang dinyatakan di dalam firman-Nya:

قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيراً وَضَلُّوا عَنْ سَواءِ السَّبِيلِ

mereka telah sesat sebelum (kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus. (Al-Maidah: 77)
Hal yang sama disebutkan pula oleh banyak hadis dan asar. Pengertian ini tampak jelas dan gamblang dalam riwayat yang diketengahkan oleh Imam Ahmad.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ: سَمِعْتُ سِماك بْنَ حَرْبٍ، يَقُولُ: سَمِعْتُ عبَّاد بْنَ حُبَيش، يُحَدِّثُ عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ، قَالَ: جَاءَتْ خَيْلُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَخَذُوا عَمَّتِي وَنَاسًا، فَلَمَّا أَتَوْا بِهِمْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُفُّوا لَهُ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، نَاءَ الْوَافِدُ وَانْقَطَعَ الْوَلَدُ، وَأَنَا عَجُوزٌ كَبِيرَةٌ، مَا بِي مِنْ خِدْمَةٍ، فمُنّ عَلَيَّ مَنّ اللَّهُ عَلَيْكَ، قَالَ: “مَنْ وَافِدُكِ؟ ” قَالَتْ: عَدِيُّ بْنُ حَاتِمٍ، قَالَ: “الَّذِي فَرَّ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ! ” قَالَتْ: فمنَّ عَلَيَّ، فَلَمَّا رَجَعَ، وَرَجُلٌ إِلَى جَنْبِهِ، تَرَى أَنَّهُ عَلِيٌّ، قَالَ: سَلِيهِ حُمْلانا، فَسَأَلَتْهُ، فَأَمَرَ لَهَا، قَالَ: فَأَتَتْنِي فَقَالَتْ: لَقَدْ فَعَلَ فَعْلَةً مَا كَانَ أَبُوكَ يَفْعَلُهَا، فَإِنَّهُ قَدْ أَتَاهُ فُلَانٌ فَأَصَابَ مِنْهُ، وَأَتَاهُ فُلَانٌ فَأَصَابَ مِنْهُ، فَأَتَيْتُهُ فَإِذَا عِنْدَهُ امْرَأَةٌ وَصِبْيَانٌ أَوْ صَبِيٌّ، وَذَكَرَ قُرْبَهُمْ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: فَعَرَفْتُ أَنَّهُ لَيْسَ بِمُلْكِ كسرى ولا قيصر، فقال: “يَا عَدِيُّ، مَا أَفَرَّكَ أَنْ يُقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؟ فَهَلْ مِنْ إِلَهٍ إِلَّا اللَّهُ؟ قَالَ: مَا أَفَرَّكَ أَنْ يُقَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ، فَهَلْ شَيْءٌ أَكْبَرُ مِنَ اللَّهِ، عَزَّ وَجَلَّ؟ “. قَالَ: فَأَسْلَمْتُ، فَرَأَيْتُ وَجْهَهُ اسْتَبْشَرَ، وَقَالَ: “الْمَغْضُوبُ عَلَيْهِمُ الْيَهُودُ، وَإِنَّ الضَّالِّينَ النَّصَارَى”

Dia mengatakan. telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah yang mengatakan bahwa dia pernah mendengar Sammak ibnu Harb menceritakan hadis berikut, bahwa dia mendengar Abbad ibnu Hubaisy menceritakannya dari Addi ibnu Hatim. Addi ibnu Hatim mengatakan, “Pasukan berkuda Rasulullah Saw. tiba, lalu mereka mengambil bibiku dan sejumlah orang dari kaumku. Ketika pasukan membawa mereka ke hadapan Rasulullah Saw., mereka berbaris ber-saf di hadapannya, dan berkatalah bibiku. ‘Wahai Rasulullah. pemimpin kami telah jauh. dan aku tak beranak lagi, sedangkan aku adalah seorang wanita yang telah lanjut usia, tiada suatu pelayan pun yang dapat kusajikan. Maka bebaskanlah diriku, semoga Allah membalasmu.’ Rasulullah Saw. bertanya, ‘Siapakah pemimpinmu?’ Bibiku menjawab, ‘Addi ibnu Hatim.’ Rasulullah Saw. menjawab, ‘Dia orang yang membangkang terhadap Allah dan Rasul-Nya,’ lalu beliau membebaskan bibiku. Ketika Rasulullah Saw. kembali bersama seorang lelaki di sampingnya lalu lelaki itu berkata (kepada bibiku), ‘Mintalah unta kendaraan kepadanya,’ lalu aku meminta unta kendaraan kepadanya dan ternyata aku diberi.” Addi ibnu Hatim melanjutkan kisahnya, “Setelah itu bibiku datang kepadaku dan berkata, ‘Sesungguhnya aku diperlakukan dengan suatu perlakuan yang tidak pernah dilakukan oleh ayahmu. Sesungguhnya beliau kedatangan seseorang, lalu orang itu memperoleh darinya apa yang dimintanya; dan datang lagi kepadanya orang lain, maka orang itu pun memperoleh darinya apa yang dimintanya’.” Addi ibnu Hatim melanjutkan kisahnya, “Maka aku datang kepada beliau Saw. Ternyata di sisi beliau terdapat seorang wanita dan banyak anak, lalu disebutkan bahwa mereka adalah kaum kerabat Nabi Saw. Maka aku kini mengetahui bahwa Nabi Saw. bukanlah seorang raja seperti kaisar, bukan pula seperti Kisra. Kemudian beliau Saw. bersabda kepadaku, ‘Hai Addi. apakah yang mendorongmu hingga kamu membangkang tidak mau mengucapkan, Tidak ada Tuhan selain Allah’? Apakah ada Tuhan selain Allah? Apakah yang mendorongmu membangkang tidak mau mengucapkan, ‘Allahu Akbar’? Apakah ada sesuatu yang lebih besar daripada Allah Swt.’?” Addi ibnu Hatim melanjutkan kisahnya.”Maka aku masuk Islam. dan kulihat wajah beliau tampak berseri-seri, lalu beliau bersabda,

«إن الْمَغْضُوبُ عَلَيْهِمُ الْيَهُودُ وَإِنَّ الضَّالِّينَ النَّصَارَى»

‘Sesungguhnya orang-orang yang dimurkai itu adalah orang-orang Yahudi, dan sesungguhnya orang-orang yang sesat itu adalah orang-orang Nasrani’.” 
Hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Turmuzi melalui Hadis Sammak ibnu Harb, dan ia menilainya hasan garib. Ia mengatakan, “Kami tidak mengetahui hadis ini kecuali dari Sammak ibnu Harb.”
Menurut kami, hadis ini telah diriwayatkan pula oleh Hammad ibnu Salamah melalui Sammak, dari Murri ibnu Qatri, dari Addi ibnu Hatim yang menceritakan: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Saw. mengenai firman-Nya. ‘Bukan jalan orang-orang yang dimurkai,” lalu beliau menjawab. ‘Mereka adalah orang-orang Yahudi“; dan tentang firman-Nya. -Dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat” beliau menjawab, “Orang-orang Nasrani adalah orang-orang yang sesat.
Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Sufyan ibnu Uyaynah ibnu Ismail ibnu Abu Khalid, dari Asy-Sya’bi, dari Addi ibnu Hatim dengan lafaz yang sama. Hadis Addi ini diriwayatkan melalui berbagai jalur sanad dan mempunyai banyak lafaz (teks), bila dibahas cukup panjang.

قَالَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ: أَخْبَرَنَا مَعْمَر، عَنْ بُدَيْل العُقَيْلي، أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ شَقِيق، أَنَّهُ أَخْبَرَهُ مَنْ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بِوَادِي القُرَى، وَهُوَ عَلَى فَرَسِهِ، وَسَأَلَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي الْقَيْنِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ هَؤُلَاءِ؟ قَالَ: ” الْمَغْضُوبُ عَلَيْهِمْ -وَأَشَارَ إِلَى الْيَهُودِ-وَالضَّالُّونَ هُمُ النَّصَارَى”

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Badil Al-Uqaili; telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Syaqiq, bahwa ia pernah mendapat berita dari orang yang mendengar Rasulullah Saw. bersabda ketika beliau berada di Wadil Qura seraya menaiki kudanya, lalu ada seorang lelaki dari kalangan Bani Qain bertanya, “Siapakah mereka itu, wahai Rasulullah?” Lalu beliau Saw. bersabda: Mereka adalah orang-orang yang dimurkai, seraya menunjukkan isyaratnya kepada orang-orang Yahudi; dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang Nasrani.
Al-Jariri, Urwah, dan Khalid meriwayatkannya pula melalui Abdullah ibnu Syaqiq, tetapi mereka me-mursal-kannya dan tidak menyebutkan orang yang mendengar dari Nabi Saw. Di dalam riwayat Urwah disebut nama Abdullah ibnu Amr.
Ibnu Murdawaih meriwayatkan melalui hadis Ibrahim ibnu Tahman, dari Badil ibnu Maisarah, dari Abdullah ibnu Syaqiq, dari Abu Zar r.a. yang menceritakan: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang makna al-magdubi ‘alaihim. Beliau menjawab bahwa mereka adalah orang-orang Yahudi. Aku bertanya lagi, “(Siapakah) orang-orang yang sesat?” Beliau menjawab, “Orang-orang Nasrani.”
As-Saddi meriwayatkan dari Malik dan dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, dan dari Murrah Al-Hamdani, dari Ibnu Mas’ud serta dari segolongan orang dari kalangan sahabat Nabi Saw. Disebutkan bahwa orang-orang yang dimurkai adalah orang-orang Yahudi, dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang Nasrani.
Dahhak dan Ibnu Juraij meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa orang-orang yang dimurkai adalah orang-orang Yahudi, sedangkan orang-orang yang sesat adalah orang-orang Nasrani. Hal yang sama dikatakan pula oleh Ar-Rabi’ ibnu Anas dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam serta lainnya yang bukan hanya seorang.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, ia belum pernah mengetahui di kalangan ulama tafsir ada perselisihan pendapat mengenai makna ayat ini. Bukti yang menjadi pegangan pada imam tersebut dalam masalah “orang-orang Yahudi adalah mereka yang dimurkai, dan orang-orang Nasrani adalah orang-orang yang sesat” ialah hadis yang telah lalu dan firman Allah Swt. yang mengisahkan tentang kaum Bani Israil dalam surat Al-Baqarah, yaitu:

بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِما أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْياً أَنْ يُنَزِّلَ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلى مَنْ يَشاءُ مِنْ عِبادِهِ فَباؤُ بِغَضَبٍ عَلى غَضَبٍ وَلِلْكافِرِينَ عَذابٌ مُهِينٌ

Alangkah buruknya (perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu, mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan. (Al-Baqarah: 90)
Di dalam surat Al-Maidah Allah Swt. berfirman:

قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولئِكَ شَرٌّ مَكاناً وَأَضَلُّ عَنْ سَواءِ السَّبِيلِ

Katakanlah, “Apakah akan aku beritakan kepada kalian tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya daripada (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi, dan (orang yang) menyembah tagut?” Mereka ini lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (Al-Maidah: 60)

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرائِيلَ عَلى لِسانِ داوُدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذلِكَ بِما عَصَوْا وَكانُوا يَعْتَدُونَ كانُوا لَا يَتَناهَوْنَ عَنْ مُنكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كانُوا يَفْعَلُونَ

Telah dilaknai orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (Al-Maidah: 78-79)
Di dalam kitab Sirah (sejarah) disebutkan oleh Zaid ibnu Amr ibnu Nufail, ketika dia bersama segolongan teman-temannya berangkat menuju negeri Syam dalam rangka mencari agama yang hanif (agama Nabi Ibrahim a.s.). Setelah mereka sampai di negeri Syam, orang-orang Yahudi berkata kepadanya, “Sesungguhnya kamu tidak akan mampu masuk agama kami sebelum kamu mengambil bagianmu dari murka Allah.” Maka Amr menjawab, “Aku justru sedang mencari jalan agar terhindar dari murka Allah.” Orang-orang Nasrani berkata kepadanya, “Sesungguhnya kamu tidak akan mampu masuk agama kami sebelum kamu mengambil bagianmu dari murka Allah.” Maka Amr ibnu Nufail menjawab, “Aku tidak mampu.”
Amr ibnu Nufail tetap pada fitrahnya dan menjauhi penyembahan kepada berhala dan menjauhi agama kaum musyrik, tidak mau masuk, baik ke dalam agama Yahudi maupun agama Nasrani. Sedangkan teman-temannya masuk agama Nasrani karena mereka menganggap agama Nasrani lebih dekat kepada agama hanif daripada agama Yahudi pada saat itu. Di antara mereka adalah Waraqah ibnu Naufal, hingga dia mendapat petunjuk dari Allah melalui Nabi-Nya, yaitu di saat Allah mengutusnya dan dia beriman kepada wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi-Nya. Semoga Allah melimpahkan rida kepadanya.

www.ibnukatsironline.com

Kewajiban Bersuci dalam Islam

Bersuci berarti membersihkan diri dari kotoran. Apakah itu kotoran yang sifatnya indrawi seperti najis, ataupun kotoran yang sifatnya maknawi seperti aib. Adapun bersuci dalam pengertian syariat adalah suatu perbuatan yang menyebabkan bolehnya melaksanakan sholat atau hal lain yang hukumnya sama dengan sholat. Misalnya, berwudhu untuk orang yang belum benwudhu, mandi bagi orang yang wajib mandi, serta membersihkan pakaian, badan, dan tempat.

Islam sangat memerhatikan kesucian dan kebersihan pemeluknya, khususnya tatkala dalam melaksanakan ibadah. Hal ini terlihat dari beberapa perintah dan anjuran berikut ini:

Pertama; Hukum Berthoharoh atau bersuci adalah Wajib.

Thoharoh atau bersuci dari segala bentuk najis adalah wajib jika diketahui dan mampu melaksanakannya. Keharusan suci dari najis ini adalah panduan syariat Islam agar seorang muslim senantiasa dalam keadaan bersih. Alloh subhanahu wata’ala berfirman dalam surat al-Mudatsir ayat 4:

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

“Bersihkanlah pakaianmu!”

Kedua; Syariat Berwudhu.

Alloh subhanahu wata’ala berfirman dalam surat al Maidah ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan sholat, Maka basuhlah oleh kalian muka dan tangan kalian sampai dengan siku, dan sapulah kepala kalian dan basuhlah kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki.”

Imam Ibnu Katsir rohimahulloh menjelaskan dalam kitab Tafsirnya mengatakan bahwa ayat ini merupakan perintah berwudhu tatkala hendak melaksanakan sholat. Namun, perintah wajib itu harus dilakukan bagi orang yang berhadats. Sedangkan bagi yang masih suci, perintah itu sunnah.

Perintah wudhu bagi yang hendak sholat ini menunjukkan bahwa Islam mewajibkan ummatnya dalam keadaan suci tatkala menghadap Robb-nya. Bahkan, pelaksanaan wudhu pun harus sempurna sesuai tuntunan Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam. Hal itu ditegaskan dalam sabdanya dalam riwayat Imam al Bukhori:

وَيْلٌ لِلأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ

“Celakalah bagi para pemilik tumit yang tidak terkena basuhan air wudhu dari neraka.”
(HR. Bukhori)

Faidah dari hadits ini bahwa wajib memerhatikan anggota-anggota wudhu dan tidak boleh mengabaikan sedikitpun anggota wudhu. Lalu Nash hadits menyebut kedua tumit, dan anggota-anggota lainnya diqiyaskan padanya karena ada nash-nash lain yang menyebut seluruh anggota-anggota wudhu. Dan terdapat ancaman keras bagi orang yang tidak baik dalam berwudhu.

Dengan demikian pendengar, syariat wudhu dan wajib menyempurnaan pelaksanaannya adalah bukti konkrit bahwa agama Islam benar-benar memberikan perhatian akan kebersihan dan kesucian. Terutama tatkala hendak melaksanakan ibadah sholat.

Ketiga; bukti islam sangat memperhatikan kesucian adalah adanya perintah Syariat Mandi Junub.

Secara umum mandi merupakan kegiatan membersihkan badan. Terutama dari segala bentuk kotoran. Tatkala Islam mewajibkan mandi dari segala bentuk hadats, tentu ini menunjukkan bahwa agama Islam senantiasa mengajarkan ummatnya agar adalam keadaan bersih. Terutama tatkala hendak beribadah.

Adapun mandi yang dimaksudkan dalam syrariat Islam adalah mandi junub. Yaitu membasahi seluruh tubuh dengan air dan diawali dengan niat untuk mandi wajib. Mandi junub bersifat ta`abbudi yaitu bersifat ibadah kepada Alloh subhanahu wata’ala. Mandi junub bertujuan menghilangkan hadats besar. Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًافَاطَّهَّرُوا

“Jika kalian dalam keadaan junub maka hendaklah kalian mandi janabah.”
(QS. al-Maidah: 6)

Selain itu Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam bersabda sebagaimana diriwayatkan Imam Al Bukhori;

لاَيَقْبَلُ اللَّهُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ.

Abu Hurairah meriwayatkan hadits bahwa Rosululloh bersabda, “Alloh tidak menerima sholat seseorang di antara kalian ketika berhadats hingga ia berwudhu.”
(HR. Bukhori)

Maksud hadats dalam hadits tersebut adalah sesuatu yang keluar dari dubur atau kemaluan, atau hal-hal lain yang membatalkan wudhu. Jadi hadats adalah deskripsi hukum yang diperkirakan terjadi pada anggota tubuh. Keberaadaannya menghalangi ibadah yang menjadikan Thoharoh sebagai syarat.

Agama Islam menyeru kepada para pemeluknya empat belas abad yang lalu agar memperhatikan kesehatan dan kebersihan kuku, bulu ketiak dan bulu kemaluan. Gerakan kebersihan jasmani ini mengandung dampak positif, bahkan sesuai dengan ilmu kesehatan modern masa kini. Dengan demikian ajaran Islam sesuai dengan perkembangan zaman.

Rosul shollallohu’alaihi wasallam bersabda sebagaimana yang diriwayatkan Al Bukhori;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَرَضِيَ اللهُ عَنْه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَاَلْفِطْرَةُ خَمْسٌ (أَوْخَمْسٌ مِنَ اْلفِطْرَةِاَلْخِتَانُوَاْلاِسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيْمُ اْلأَظْفَار ِوَنَتْفُ اْلإِبِطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ

“Ada lima hal yang termasuk fitroh atau lima perkara yang termasuk fitroh: khitan, memotong rambut kemaluan, memotong kuku, mencabut rambut ketiak dan memangkas kumis.”

Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam telah menetapkan batas paling lama seseorang dibolehkan membiarkan bulu-bulu tersebut. Anas bin Malik rodhiyallohu’anhu berkata:

وُقِّتَ لَنَافِي قَصِّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمِ اْلأَظْفَارِوَنَتْفِ اْلإِبِطِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ أَنْ لاَنَتْرُكَ أَكْثَرَمِنْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Kami diberi batasan waktu dalam memotong kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan, yaitu agar bulu-bulu tersebut tidak dibiarkan lebih dari empat puluh malam.”
(HR. Muslim)

Keutamaan Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Sahabat yang dirahmati Allah  perlu kita sadari bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah amal yang paling utama. Dengan dasar diantaranya yaitu hadits Nabi  yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dia berkata .

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ : اَلصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ : قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ : بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ : قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ : اَلْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amal-amal yang paling utama dan dicintai Allah. Nabi  menjawab, Pertama shalat pada waktunya . kedua berbakti kepada kedua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah -st-.

Dengan demikian Sahabat, birul walidain atau berbakti kepada kedua orang tua adalah amalan unggulan dan yang paling utama.

Selain itu Sahabat, berbakti kepada kedua orang tua juga termasuk dalam rangka mencari keridhoan Allah. karena keridhoan Allah   tergantung dengan keridhoan orang tua terhadap kita.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari , Ibnu HIbban, Hakim dan Imam Tirmidzi disebutkan, bahwa Rasulullah bersabda.

رِضَا الرَبِّ فِى رِضَا الوَالِدِ و سُخْطُ الرَبِّ فِى سُخْطِ الوَالِدِ

“Ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua, dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.”

Kemudian, berbakti kepada kedua orang tua dapat menghilangkan kesulitan yang sedang dialami yaitu dengan cara bertawasul dengan amal shahih tersebut.

Di dalam kisah yang diriwayatkan di dalam shahih bukhori disebutkan bahwa ada tiga orang yang terjebak di dalam gua, yang mana mulut gua tertutup reruntuhan batu. kemudian setiap orang dari mereka bertawasul dengan amal unggulan mereka. Salah satu diantara mereka bertawasul dengan baktinya kepada kedua orang tuanya yang sudah renta. Sehingga setelah ketiganya selesai bertawasul, batu besar yang menutupi mulut gua terbuka sempurna.

Sahabat, Ini menunjukkan bahwa perbuatan berbakti kepada kedua orang tua yang pernah kita lakukan, dapat digunakan untuk bertawassul kepada Allah   ketika kita mengalami kesulitan.  Insya Allah kesulitan tersebut akan hilang. Berbagai kesulitan yang dialami seseorang saat ini, bisa jadi  diantaranya karena perbuatan durhaka kepada kedua orang tuanya.

Hendaknya kita selalu mengutamakan orang tua kita, bahkan melebihi sikap kita terhadap istri dan anak-anak kita. cinta dan pelayanan kita kepada istri dan anak-anak kita tidak boleh mengalahkan rasa cinta dan bakti kita kepada kedua orang tua.

Bahkan, Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma ketika diperintahkan oleh bapaknya untuk menceraikan istrinya,  ia bertanya kepada Rasulullah  dan Rasulullah   menjawab.“Ceraikan istrimu.”

Ini menunjukan bahwa ridho orang tua harus kita utamakan, selama apa yang diinginkan orang tua ada dalam jalur kebaikan yang tidak bertentangan dengan syariat dan masuk akal.

Kemudian selanjutnya, Dengan berbakti kepada kedua orang tua akan diluaskan rizki dan dipanjangkan umur.  Sebagaimana dalam hadits yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim,,dari sahabat Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi  bersabda.

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ، وَيَنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.

Dan Dalam silaturahmi, yang harus didahulukan adalah silaturahmi kepada kedua orang tua sebelum kepada yang lain.

Sahabat, dengan berbakti kepada orang tua, kita akan dimasukan ke dalam surganya Allah-st-. di dalam hadits Rasulullah  disebutkan bahwa anak yang durhaka tidak akan masuk surga.

Dan juga, Dosa-dosa yang Allah  segerakan adzabnya di dunia diantaranya adalah karena  berbuat zhalim dan durhaka kepada kedua orang tua.

Itulah Sahabat pemaparan tentang keutamaan berbakti kepada kedua orang tua. semoga kita termasuk diantara anak-anak yang berbakti kepada keduanya. amiin.

Wallahu a’lam.

Saling Mencinta Karena Alloh

Mencintai sesama muslim merupakan bentuk keimanan kepada Alloh subhanahu wata’ala. Kecintaan sesama muslim berawal dari kecintaan kepada Alloh subhanahu wata’ala. Sebab, Alloh subhanahu wata’ala telah memerintahkan setiap hamba-Nya yang beriman untuk mencintai sesama hamba beriman. Karenanya, pahala yang disediakan pun sangat besar nan agung.

Berkaitan dengan balasan bagi hamba yang mencintai karena Alloh subhanahu wata’ala, Imam at-Tirmidzi meriwayatkan hadits shahih dalam kitab sunannya:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: الْمُتَحَابُّونَ فِي جَلاَلِي لَهُمْ مَنَابِرُ مِنْ نُورٍ يَغْبِطُهُمُ النَّبِيُّونَ وَالشُّهَدَاءُ.

Muadz bin Jabal berkata, “Aku mendengar Rosululloh bersabda bahwa Alloh subhanahu wata’ala berfirman, ‘Orang-orang yang saling mencinta di bawah keagungan-Ku untuk mereka mimbar-mimbar (tempat yang tinggi) dari cahaya yang membuat para Nabi dan orang yang mati syahid.”
(HR. Tirmidzi)

Hadits ini termasuk ke dalam hadits qudsi, karena Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam menyandarkan sabdanya pada Alloh subhanahu wata’ala. Dalam hadits ini, terdapat penjelasan tentang keutamaan saling mencinta karena Alloh subhanahu wata’ala. Mencintai adalah amalan hati yang bisa mendatangkan kebaikan, mencinta bisa mempertebal keimanan dan mendatangkan pahala yang besar ketika cintanya karena Alloh subhanahu wata’ala.

Dua orang muslim yang saling mencinta karena Alloh subhanahu wata’ala, mereka akan menjalankan semua aktifitasnya berdasarkan ibadah pada Alloh subhanahu wata’ala. Saling mengunjungi karena Alloh, saling memberi karena Alloh, saling bertemu karena Alloh, saling mengajar karena Alloh dan lain sebagainya. Mereka menjadikan Alloh subhanahu wata’ala sebagai alasan aktifitas keseharian sehingga amalan yang mereka rencanakan dan mereka lakukan selalu menjadi landasan ibadah pada Alloh subhanahu wata’ala.

Di akhirat mereka akan duduk di atas mimbar-mimbar dari cahaya yang telah Alloh subhanahu wata’ala sediakan untuk mereka. Dalam hadits lain Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam bersabda:

الْمُتَحَابُّونَ فِي اللَّهِ عَلَى كَرَاسِيَّ مِنْ يَاقُوتٍ حَوْلَ الْعَرْشِ

“Orang-orang yang saling mencinta karena Alloh, mereka berada pada kursi-kursi Yaqut (permata) di sekitar ‘Arsy.”
(HR. ath-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir)

Karena begitu tinggi dan indahnya cahaya yang Alloh subhanahu wata’ala berikan kepada mereka yang saling mencinta karena Alloh, maka para Nabi dan Syuhada pun mengharapkan cayaha itu. Para Nabi dan Syuhada adalah orang-orang mulia dan mendapatkan kemuliaan yang besar di sisi Alloh subhanahu wata’ala, akan tetapi ketika melihat kemuliaan orang yang saling mencinta karena Alloh subhanahu wata’ala, timbul sifat ghibtoh pada mereka yaitu sifat mengharapkan mendapat kemuliaan sebagaimana orang lain yang mendapatkannya tanpa keinginan sedikitpun hilangnya kemuliaan itu dari orang tersebut.

Hadits ini menunjukkan betapa besarnya pahala dan balasan yang Alloh subhanahu wata’ala berikan pada mereka yang saling mencinta karena Alloh subhanahu wata’ala. Rasa ghibtoh yang menghampiri setiap hati para Nabi dan Syuhada kepada orang-orang yang saling mencintai, sama sekali tidak menunjukan mereka lebih baik dari Nabi dan Syuhada, hal ini sebagaimana seseorang yang memiliki rumah sangat mewah, indah dan luas, merasa senang dan mengharapkan rumah kawannya yang terlihat minimalis dan tersusun rapi, walaupun pada hakekatnya kualitas dan harganya serta kemewahannya berada jauh dari rumah yang dia miliki. Sifat ini tidak tercela selama tidak diiringi sifat hasad, yaitu sifat yang menjadikan pelakunya menginginkan kenikmatan orang lain disertai hilangnya kenikmatan orang itu darinya.

Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam bersabda dalam hadits qudsi, Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ، وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ، وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ، وَالْمُتَحَابُّونَ فِي اللهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ فِي ظِلِّ الْعَرْشِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

“Kecintaan-Ku berhak didapat oleh orang yang saling mencinta karena-Ku, saling memberi karena-Ku, dan saling mengunjungi karena-Ku. Orang-orang yang saling mencinta karena Alloh, akan berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, di bawah naungan ‘Arsyi ketika tidak ada naungan keculi naungan-Nya.”
(HR. Ahmad)

Sungguh Maha luas rahmat Alloh subhanahu wata’ala, ketika kecintaan-Nya diberikan kepada setiap orang yang saling mencinta karena-Nya. Ketika Alloh subhanahu wata’ala sudah mencintai hamba-Nya, ini berarti hamba itu telah selamat dari murka-Nya. Hamba itu tidak akan pernah diazab oleh Alloh yang Maha Rohman, sebab Alloh subhanahu wata’ala tidak akan mengadzab hamba yang dicinta-Nya. Kecintaan Alloh subhanahu wata’ala tidak diperoleh hanya karena pengakuan seorang hamba, oleh karena itu Yahudi dan Nasrani yang mengklaim dicintai oleh Alloh subhanahu wata’ala justru akan diazab oleh-Nya karena kekufuran keduanya.

Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

“Orang-orang Yahudi dan Nasroni mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Alloh dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Alloh menyiksa kalian karena dosa-dosa kalian?” (Kalian bukanlah anak-anak Alloh dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kalian adalah manusia(biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya dan Alloh mengampuni siapa saja yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya…”
(QS. al-Maidah [05]: 18)

 Pembahasan hadits ini, memberikan pelajaran yang begitu berharga kepada kita. Di antaranya:

  1. Saling mencintai karena Alloh subhanahu wata’ala adalah satu ibadah besar di sisi Alloh subhanahu wata’ala dan akan mendatangkan keutamaan-keutamaan besar.
  2. Tempat tinggi di akhirat nanti akan Alloh berikan kepada mereka yang di dunianya saling mencinta karena-Nya.
  3. Orang yang mencinta karena Alloh termasuk golongan orang akan mendapat naungan dari Alloh subhanahu wata’ala pada hari tidak ada naungan kecuali naungan dari-Nya, naungan ini sangat dibutuhkan oleh setiap hamba pada waktu itu, karena matahari yang sangat panas didekatkan oleh Alloh subhanahu wata’ala di atas kepala hamba-hamba-Nya sehingga sebagian orang akan tenggelam dengan keringatnya sendiri.
  4. Keutamaan terbesar bagi orang yang mencinta karena Alloh akan mendapatkan kecintaan dari Alloh subhanahu wata’ala, sehingga ia akan mendapatkan surga-Nya dan terhindar dari neraka-Nya.

Wallohu a’lam…

Ta’awudz Dan Basmalah

Sebelum seseorang membahas tafsir ayat-ayat al-Qur’an, sebaiknya ia memahami terlebih dahulu makna ta’awudz dan basmalah. Karena keduanya senantiasa dibaca oleh seseorang yang akan membaca al-Qur’an.

Adapun yang dimaksud dengan Ta’awudz adalah perkataan:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Artinya,
“Aku berlindung kepada Alloh dari godaan setan yang terkutuk.”  

Makna kalimat tersebut adalah, “Aku berlindung kepada Alloh subhanahu wata’ala dari kejelekan godaan setan agar dia tidak menimpakan bahaya kepadaku dalam urusan agama maupun duniaku.”

Setan selalu menempatkan dirinya sebagai musuh bagi kalian. Oleh sebab itu, maka jadikanlah diri kalian sebagai musuh baginya. Setan bersumpah di hadapan Alloh subhanahu wata’ala untuk menyesatkan umat manusia. Alloh subhanahu wata’ala menceritakan sumpah setan ini di dalam Al-Quran:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِيْنَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ

“Demi kemuliaan-Mu sungguh aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang taat di antara hamba-hamba-Mu.”
(QS. Shod [38]: 82-83)

Dengan demikian tidak ada yang bisa selamat dari jerat-jerat setan kecuali orang-orang yang diselamatkan oleh Alloh subhanahu wata’ala.

Isti’adzah atau ta’awwudz merupakan bentuk permohonan perlindungan diri kepada Alloh subhanahu wata’ala, dan hal ini termasuk bagian dari ibadah. Karena pada hakikatnya hanya Alloh subhanahu wata’ala yang dapat melindungi seorang hamba dari godaan setan yang terkutuk.

Oleh sebab itu ta’awudz tidak boleh ditujukan kepada selain Alloh subhanahu wata’ala. Karena menujukan ibadah kepada selain Alloh subhanahu wata’ala adalah kesyirikan.

Orang yang baik tauhidnya akan senantiasa merasa khawatir kalau-kalau dirinya terjerumus ke dalam kesyirikan. Sebagaimana Nabi Ibrohim ‘alaihissalam yang sangat takut kepada kesyirikan sampai-sampai beliau berdoa kepada Alloh subhanahu wata’ala. Hal ini sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala:

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ

“Jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan kepada berhala.”
(QS. Ibrohim [14]: 35)

Ini menunjukkan bahwa tauhid yang kokoh akan menjadikan kelezatan di dalam hati kaum mukminin. Orang-orang yang bisa merasakan kelezatannya hanyalah mereka yang benar-benar memahami makna-maknanya.

Harus diketahui bahwa setan yang berusaha menyesatkan umat manusia ini terdiri dari golongan jin dan manusia. Hal ini sebagaimana disebutkan Alloh subhanahu wata’ala di dalam ayat berikut:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّاً شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوراً

“Demikianlah Kami jadikan musuh bagi setiap nabi berupa setan dari golongan manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain ucapan-ucapan yang indah untuk memperdaya manusia.
(QS. alAn’am [6]: 112)

Adapun bacaan basmalah adalah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Artinya,
“Dengan menyebut nama Alloh yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”

Makna dari bacaan ini yaitu, “Aku memulai bacaanku ini seraya meminta keberkahan dengan menyebut seluruh nama Alloh.” 

Meminta keberkahan kepada Alloh subhanahu wata’ala artinya meminta tambahan kebaikan dan peningkatan amal solih serta pahalanya yang akan mengantarkan dirinya ke dalam surga.

Semua keberkahan adalah milik Alloh subhanahu wata’ala. Dia-lah yang memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Jadi, keberkahan bukanlah milik manusia, yang bisa mereka berikan kepada siapa saja yang mereka kehendaki.

Alloh subhanahu wata’ala adalah satu-satunya yang berhak diibadahi dengan rasa cinta, takut, dan harap. Segala bentuk ibadah hanya ditujukan kepada-Nya.

Adapun ar-Rohman dan ar-Rohim adalah dua nama Alloh subhanahu wata’ala di antara sekian banyak Asma’ul Husna yang dimiliki-Nya. Makna ar-Rohman dan ar-Rohim adalah Alloh subhanahu wata’ala memiliki kasih sayang yang begitu luas dan agung. Rahmat Alloh subhanahu wata’ala meliputi segala sesuatu. Akan tetapi, Alloh subhanahu wata’ala hanya melimpahkan rahmat-Nya yang sempurna kepada hamba-hamba yang bertakwa dan mengikuti ajaran para Nabi dan Rosul.

Mereka inilah orang-orang yang akan mendapatkan rahmat yang mutlak. Yaitu rahmat yang akan mengantarkan mereka menuju kebahagiaan abadi. Adapun orang yang tidak bertakwa dan tidak mengikuti ajaran Nabi  maka dia akan terhalangi mendapatkan rahmat yang sempurna ini.

Surat pertama dalam al-Qur`an adalah surat al-Fatihah. Surat ini mempunyai banyak keutamaan, di antaranya:

Pertama, Membaca surat al-Fatihah Adalah salah satu Rukun Sholat.

Nabi shollallohu’alaihi wasallam bersabda:

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak ada sholat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab atau surat alFatihah.” 
(HR. Bukhori dan Muslim)

Dalam hadis yang lain, beliau shollallohu’alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ

“Barangsiapa yang shalot tidak membaca Ummul Qur’an atau surat alFatihah, maka sholatnya cacat.
(HR. Muslim)

Makna dari khidaaj adalah cacat atau kurang, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama. Berdasarkan hadis tersebut dan hadis sebelumnya, para imam seperti Imam Malik, Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal, dan para sahabatnya, serta mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum membaca surat al-Fatihah di dalam sholat adalah wajib; tidak sah sholat tanpa membacanya.

Kedua, surat al-Fatihah adalah surat paling agung dalam al-Qur’an.

Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Sa’id Rofi’ Ibnul Mu’alla rodhiyallohu’anhu, yang mengatakan bahwa Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam bersabda kepadaku:

أَلَا أُعَلِّمُكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ الْمَسْجِدِ فَأَخَذَ بِيَدِي فَلَمَّا أَرَدْنَا أَنْ نَخْرُجَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ قُلْتَ لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ مِنْ الْقُرْآنِ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ

“Maukah kamu aku ajari sebuah surat yang paling agung dalam alQuran sebelum kamu keluar dari masjid?” Maka beliau  berjalan sembari menggandeng tanganku. Tatkala kami sudah hampir keluar dari masjid, maka aku pun berkata; Wahai Rosululloh, tadi Anda bersabda, “Aku akan mengajarimu sebuah surat yang paling agung dalam alQuran?” Maka beliau  bersabda, “Surat itu adalah Alhamdulillaahi Robbil alamiin, itulah yang disebut dengan AsSab’ul Matsaani atau tujuh ayat yang sering diulang-ulang dalam sholat. Disebut pula dengan alQuranul ‘Azhim yang dikaruniakan kepadaku.”
(HR. Bukhori)

Demikianlah penjelasan singkat tentang Ta’awudz dan Basmalah, semoga bermanfaat, Amin. Wallohu ta’ala a’lam…

Daya Ingat

Alloh SWT yang Mahatinggi berfirman:
“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan” (QS Adz-Dzariyat:21)
Tiap-tiap diri kita memiliki sesuatu dalam otaknya yang memiliki peran sangat penting dalam hidup kita. Para ilmuwan telah mendapatkan fakta ini dari firman Alloh:

“Dan jikalau kami menghendaki pastilah kami ubah mereka di tempat mereka berada; maka mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak (pula) sanggup kembali” (QS. Yasin:67)

Bagaimanakah cara kita menemukan jalan pulang ke rumah? Kita bisa melakukannya karena tahu dimana rumah kita. Dari mana kita tahu? Karena lokasi rumah kita tersimpan dalam ingatan. Saat kita berada dalam toko, bagaimana kita tahu bahwa barang ini diambil dari sini dan barang itu diambil dari sana? Karena letak semua barang tersebut tersimpan dalam ingatan kita.
Di dalam rumah, kita tahu lokasi dari tiap benda yang kita perlukan, di mana kita menyimpan pengetahuan ini? Selama di sekolah, saat kita membaca beberapa buku kemudian kita harus menghadapi ujian, bagaimana kita bisa mengerjakan ujian tersebut? Semua informasi ini telah tersimpan dalam ingatan kita. Semua orang yang tidak memilki ingatan, hampir telah mati. Tidak mungkin bagi orang itu untuk belajar dan mengajar. Alloh SWT berfirman:

“Dan jikalau kami menghendaki pastilah kami ubah mereka di tempat mereka berada; maka mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak (pula) sanggup kembali” (QS. Yasin: 67)

Artikel ilmiah yang mendiskusikan tentang ingatan menyebutkan sebagai berikut: “saat seseorang hidup sampai usia 60, ingatannya akan menyimpan lebih dari 60 milyar potongan informasi. Jika kita ingin mengonversi potongan informasi yang besar ini menjadi buku, kita akan memerlukan ribuan jilid. Semua informasi itu disimpan di otak, namun tepatnya di mana belum diketahui sampai sekarang. Terdapat teori-teori baru yang berkesimpulan bahwa ingatan tidak memiliki tempat di otak dan hanya tersambung ke psikologi manusia.”
Semua informasi yang sampai pada seseorang, beberapa darinya disimpan di tempat yang dekat sehingga dapat diambil dengan mudah; beberapa darinya disimpan dalam jarak sedang, dan beberapa disimpan di tempat yang jauh, dan beberapa tidak di simpan sama sekali. Jika informasi itu di simpan, dia akan didistribusikan sesuai dengan jenisnya. Terdapat ingatan untuk barang yang dicium, barang yang dilihat, terdapat ingatan untuk wajah, warna, aroma, dan terdapat ingatan untuk nama. Semua itu dilakukan dengan sangat bijak.
Jika kita ingin mengingat sesuatu atau ingin tahu sesuatu, para ilmuwan berkata, “Ingatan menggunakan metode kodifikasi dalam waktu yang sangat singkat. Jika kita diberikan sebuah parfum, kita menciumnya karena kita sudah menyimpan dalam ingatan kita 97 jenis parfum yang berbeda. Aroma parfum tersebut akan melewati 97 jenis parfum hingga kita menemukan yang cocok dan kita dapat menyebutkan nama parfum itu.
Hal yang sama terjadi pada barang yang dicium, yang dilihat, makanan, rasa, wajah, nama, angka, semuanya. Informasi tentang ingatan baru sedikit ditemukan, namun fakta-faktannya membuat para ahli tercengang.
Beberapa ahli berkata bahwa ingatan manusia bekerja seperti kamus dan penerjemah instan. Hal yang menakjubkan adalah sel saraf tidak membelah, dan tidak juga mati. Jika sel itu membelah dan mati, maka manusia akan kehilangan seluruh pengalamannya. Seseorang bercerita kepada kita kalau dia memmiliki pengalaman 40 tahun dalam praktek medis, orang lain bercerita dia memiliki 50 tahun pengalaman dalam hukum, sementara orang lain bercerita dia memiliki sangat banyak pengalaman dalam industri. Semua pengalaman ini berakumulasi dengan usia manusia yang terus bertambah. Jika dia kehilangan ingatannya, semua pengalamannya akan hilang begitu saja.
Ingatan itu sendiri adalah tanda yang besar di antara tanda-tanda Alloh yang menunjukkan kebesaran-Nya. Ini mengingatkan kita pada firman Alloh:

“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21).

*Mukjizat Al-Qur’an yang Tak Terbantahkan

10 Tuntunan Ringkas Zakat Fitrah

# Zakat fitrah hukumnya wajib atas anak kecil ataupun orang dewasa, seorang wali wajib membayarkan zakat fitrahnya orang-orang yang menjadi tanggungannya baik istri/anak-anaknya, dan disunnahkan membayar zakat sang janin yang belum lahir.

 

# Zakat fitrah adalah berupa makanan pokok yang ada didaerah tersebut seperti beras atau  tepung, tidak boleh mengeluarkan zakat fitrah dengan  makanan  yang bukan merupakan makanan pokok pada daerah tersebut.

 

# Waktu yang paling utama mengeluarkan zakat fitrah adalah antara shalat subuh pada pagi hari raya sampai waktu didirikannya shalat idul fitri.

 

# Boleh mempercepat pengeluaran zakat fitrah dua hari atau tiga hari sebelum hari raya  idul  fitri,  dahulu  Ibnu  Umar  radhiyallahu’anhu  mengeluarkannyatiga  hari sebelum hari raya.

 

# Menunda pengeluaran zakat fitrah setelah shalat hari raya tidak sah, sebagaimana hukumnya menunda shalat subuh hingga terbit matahari, kecuali kalau ada udzur seperti  ia lupa, maka boleh mengeluarkannya setelah shalat idul fitri.

 

# Yang  sunnah  adalah  mengeluarkan  zakat  fitrah  dalam  bentuk  makanan  pokok, bukan uang sesuai kesepakatan para ulama, namun mereka hanya berbeda pendapat bolehkah mengeluarkannya dalam bentuk uang? Sekelompok salaf membolehkannya, namun yang lebih hati-hati adalah mengeluarkannya dalam bentuk makanan.

 

# Zakat fitrah wajib dikeluarkan dengan takaran satu sha’ (antara 2,5 – 3 kg), boleh mencampur  dua  jenis  makanan  pokok  dalam  satu  sha’  untuk  satu  orang  miskin, dengan syarat kadar masing-masing dua jenis makanan pokok tersebut banyak dan bisa dikonsumsi oleh si penerima.

 

# Tidak ada riwayat dari Nabi atau para sahabat bahwa mereka mengeluarkan zakat fitrah berupa uang, namun hanya diriwayatkan dari amalan beberapa tabiin, sebab itu boleh mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang kalau memiliki maslahat yang nyata.

 

# Bolehkan memberikan zakat fitrah pada pembantu atau pekerja dirumah anda?? Ada dua kondisi:

 

Pertama: Bila dalam akad kerja, anda yang menanggung makanan sehari-hari mereka, maka anda tidak boleh memberikan zakat pada mereka, bahkan –menurut sebagian salaf- anda dianjurkan untuk menanggung pengeluaran zakat fitrah mereka.

 

Kedua: bila dalam akad, mereka sendirilah yang menanggung makanan sehari-hari mereka, maka boleh bagi anda memberikan zakat fitrah pada mereka.

 

# Setiap anggota keluarga yang memiliki pekerjaan dan mampu, yang lebih utama adalah masing-masing mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya sendiri, namun bila ayah (atau wali) mereka membayarkan zakat fitrah mereka semua maka dibolehkan, dan sebagian salaf juga men-sunnah-kan pembayaran zakat fitrahnya pembantu atau pekerja dirumah.

 

(Diterjemahkan dari untaian Twitter: Syaikh Abdul-‘Aziz Al-Tharifi).

Seputar 10 Hari Terakhir Ramadhan

Untaian Tweet Syaikh Muhaddits Abdul’Aziz Al-Tharifi

# Mengucapkan selamat atas masuknya 10 hari terakhir Ramadhan merupakan hal yang baik, dengan memilih ucapan selamat yang menggabungkan antara motivasi beramal dan doa keberkahan dalam sepuluh terakhir Ramadhan.

 

# Ijtihad untuk beramal dalam setengah bulan Ramadhan terakhir sangat ditegaskan dibandingkan dengan setengah bulan permulaannya, karena inilah yang ditunjukkan oleh amalan Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan para sahabatnya.

 

# Allah menjadikan akhir Ramadhan lebih utama daripada permulaannya, karena jiwa manusia biasanya sangat bersungguh-sungguh beramal pada awal-awal pekerjaan, dan kemudian melemah pada penghujungnya, sehingga orang yang benar-benar beramal akan terus istiqamah dengan berbagai amalan ibadah, dan orang yang memiliki sifat munafiq akan melemah amalannya, karena keimanan itu tergantung ketegaran/keistiqamahan dalam beramal.

 

# Barangsiapa yang banyak lalai pada awal Ramadhan, lalu rajin beribadah diakhir Ramadhan, maka ia lebih baik daripada orang yang rajin ibadah diawalnya, namun banyak lalai diakhirnya, sebagaimana dalam hadis; “Sesungguhnya amalan itu tergantung akhirnya”.

 

# Merupakan kesempurnaan akal adalah banyak menyediakan bekal untuk perjalanan akhirat, dan bekal yang paling utama dalam menuju akhirat adalah ibadah disepuluh terakhir Ramadhan ini, agar seseorang bisa menyiapkan bekal didalamnya, sebab dikhawatirkan ia akan wafat dan tidak akan kembali menemukan waktu utama ini, padahal perjalanannya ke akhirat begitu panjang dan melelahkan.

 

# Menghidupkan 10 malam terakhir Ramadhan dengan ibadah shalat merupakan petunjuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu’anha: “Dahulu Nabi shallallahu’alaihi wasallam pada dua puluh hari permulaan Ramadhan menggabungkan antara shalat dan tidur, namun apabila di sepuluh terakhir, beliau bersungguh-sungguh (banyak ibadah dan tidak tidur malam) dan mengencangkan tali pinggangnya…”.

 

# Wanita  muslimah  yang  punya  udzur  seperti  haid/nifas,  maka  disunatkan  untuk duduk   ditempat   ibadahnya   dirumahnya   pada   malam-malam   sepuluh   terakhir Ramadhan dengan beribadah membaca Al-Quran, berdzikir dan berdoa, tapi tidak boleh shalat, dengan demikian ia tetap diharapkan akan bisa mendapatkan malam lailatul-qadr.

 

# Orang yang tidak sanggup shalat qiyamullail pada 10 malam terakhir Ramadhan karena udzur seperti adanya pekerjaan berat yang tidak boleh ditinggalkan (seperti satpam dll), dimana ia tidak bisa berlibur, maka bila ia shalat isya dan shalat subuh berjamaah di Masjid, ia tetap mendapatkan pahala qiyamullail pada 10 malam terakhir Ramadhan, dan juga pahala mendapatkan lailatul-qadr. Pendapat ini shahih dari Ibnul- Musayyib rahimahullah. Pendapat ini begitu kuat, dikuatkan oleh nash-nash sunnah, lagipula karunia dan rahmat Allah begitu luas bagi orang-orang yang berhalangan.

Sunat-Sunat Puasa Beserta Dalilnya

 

Amalan-amalan sunat yang sangat dianjurkan atas seorang muslim ketika berpuasa   sangatlah   banyak,   diantaranya   adalah   amalan-amalan   umum   yang dianjurkan di hari berpuasa ataupun dihari-hari lainnya seperti banyak membaca Al Quran, berdzikir, memperbanyak ibadah shalat, doa dan ibadah-ibadah lainnya. Diantaranya adalah amalan khusus yang dilakukan ketika puasa, dan inilah inti pembahasan dalam bab ini. Diantara perkara sunat yang harus dilakukan orang yang berpuasa adalah;

 

Pertama : Makan sahur, sebagaimana dalam hadis :

 

Artinya : “Bersahurlah karena dalam makanan sahur tersebut terdapat berkah”. (HR Bukhari : 1923 dan Muslim : 1095).

 

Berkah sahur ini terdiri dari ; berkah  hissiyah / secara nyata yaitu dapat memberikan kekuatan dan mempertahankan diri dari rasa lapar dan haus ketika siang harinya , dan berkah maknawi yaitu adanya pahala dan rahmat yang dicurahkan atas orang yang melakukannya karena telah mewujudkan perintah dan salah satu sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab adanya berkah ini, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menganjurkannya ;

 

Artinya   :   “Makanan   sahur   adalah   suatu   berkah,   maka   janganlah   kalian meninggalkannya walaupun dengan meneguk satu teguk air”. (HR Ahmad)

 

Sahur juga merupakan pembeda antara Umat islam dengan kaum ahli kitab , dalam Sunan Abu Daud (no.2343), Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda ;

 

Artinya : “Sesungguhnya pembeda antara puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur”.

 

Diantara adab-adab sahur adalah ;

 

1.Mengakhirkan sahur hingga dekat waktu fajar. Dari Anas bahwa Zaid bin Tsabit radhiyallahu’anhuma berkata :

 

Artinya: “Kami makan sahur bersama Rasulullah shallallahu’alahi wasallam ,lalu beliau  berdiri  melakukan  shalat  (subuh)”,  lalu  saya  (Anas  bin  Malik radhiyallahu’anhu)  bertanya  kepadanya  :  “Berapa  jeda  waktu  antara  keduanya

 

(antara makan sahur dengan azan) ?”, Zaid menjawab : “Selama membaca 50 ayat”

(HR Bukhari : 575 dan Muslim : 1097 dengan lafadz Muslim).

 

2.Makan sahur dengan kurma atau kurma bersama makanan lain.

 

Dibolehkan bagi orang yang makan sahur untuk tetap makan dan minum sampai tiba waktu fajar, walaupun ia berniat puasa dan makan sahur jauh sebelum waktu fajar.

 

Barangsiapa yang tidak sahur maka ia tidaklah berdosa karena sahur hukumnya sunat , namun ia telah meninggalkan sunnah dan kehilangan berkah yang ada didalamnya.Adapun niat puasa  tempatnya didalam hati, bukan dilafazkan oleh lisan karena niat merupakan amalan hati, bukan amalan lisan.

 

3.Memberikan   makanan   sahur   kepada   orang   yang   membutuhkan   karena   ini merupakan amalan yang mulia, selain mendapatkan pahala memberikan makanan, juga didalamnya terdapat keutamaan yaitu keberkahan makanan sahur yang secara khusus disebutkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Amalan ini telah dilakukan oleh para salaf rahimahumullah.

 

Kedua: Ifthar / Berbuka puasa. Ini merupakan salah satu sunnah muakkadah dalam puasa, dan waktunya adalah tepat saat matahari tenggelam diufuk barat, inilah tolak ukur berbuka puasa, dan boleh juga menjadikan jadwal waktu shalat atau suara azan sebagai tanda waktu berbuka puasa tapi dengan syarat ;   jadwal tersebut memang terbukti  akurat  dan      muadzin  adalah  orang  yang  tepat  waktu  dalam mengumandangkan azan, sebab banyak kasus diberbagai tempat muadzin terlambat mengumandangkan azan magrib. Diantara adab-adab ifthar ini adalah ;

 

1.Menyegerakan berbuka puasa , yaitu sekedar matahari tenggelam maka disunatkan bagi orang yang puasa untuk segera berbuka, Sahl bin Sa’ad radhiyallahu’anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

Artinya: “Manusia (umat islam) senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka”. (HR Bukhari ; 1957 dan Muslim : 1098)

 

Adapun mengakhirkan   berbuka beberapa menit atau sampai muadzin selesai mengumandangkan   azan   dengan   dalih   untuk   kehati-hatian   ,bukan   merupakan petunjuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

 

Juga hendaknya berbuka terlebih dahulu sebelum shalat magrib, walaupun seseorang dalam safar dan   kesulitan menyantap makanan atau meneguk minuman sebagai tanda berbuka puasa hingga shalat telah didirikan, ia tetap disunatkan berbuka

 

dengan sedikit makan atau minum sebelum shalat karena inilah yang disunatkan dan merupakan petunjuk Rasul sebagaimana dalam hadis Anas berikut.

 

2.Berbuka puasa dengan kurma ; baik tamar (kurma kering) maupun ruthab (kurma mengkal), jika tidak ada kurma maka cukup dengan minum air, namun jika tidak mendapatkan air sedangkan matahari telah tenggelam maka cukup dengan meniatkan berbuka, dan ia telah mendapatkan pahala menyegerakan berbuka, insya Allah. Anas radhiyallahu’anhu mengisahkan ifthar-nya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ;

 

Artinya: “Dulu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam berbuka puasa dengan ruthabaat (kurma  mengkal)  sebelum shalat magrib, jika  tidak ada  maka  dengan tamaraat (kurma kering), jika tidak ada, maka beliau meneguk beberapa tegukan air”. (HR Abu Daud : 2356 dan Tirmidzi : 696 dengan sanad hasan)

 

3.Membaca  doa  ketika  berbuka  puasa  ,  dan  diantara  doa  yang  ada  dalam  hadis adalah :

 

( Dzahaba Adz-Dzhama-u Wabtallatil ‘Uruuqu Wa Tsabatil Ajru Insyaa Allaahi )

 

Artinya: “Rasa dahaga telah hilang, kerongkongan telah basah, dan pahala telah ditetapkan, insya Allah”. (Doa ini riwayat Abu Daud: 2357 )

 

Adapun doa yang ada dalam hadis Ibnu Abbas : “Allaahumma laka shumnaa wa’alaa rizqika aftharnaa, fataqabbalminnaa innaka anta assamii’ul ‘aliim”.   Hadis ini HR Thabrani ; (Al-Kabir ; 12720)  dan Daruquthni ; (2/185 ) ; derajatnya lemah, dinilai dhoif oleh beberapa ulama hadis diantaranya Ibnu Hajar (lihat At Talkhis :

2/202)

 

4.Memberi makan berbuka bagi orang-orang yang puasa. Ini bisa dilakukan oleh orang yang puasa atau tidak, dan barangsiapa yang melakukannya maka ia telah mendapatkan pahala memberikan makan pada yang membutuhkan (ith’aam ath- tha’aam)  .

 

Adapun  hadis Athaa’  bin Abi  Rabaah  dari  Zaid  bin  Khalid Al  Juhani radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda  :

Artinya:“Barangsiapa yang memberi makan berbuka untuk orang-orang yang berpuasa maka ia mendapatkan pahala orang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahalanya”. (HR Ahmad ; 1144, Tirmidzi : 807 , Ibnu Majah : 1746)17.

 

Hadis ini dhoif karena sanadnya terputus (munqathi’) antara Athaa’ bin Abi Rabaah dan Zaid karena Athaa’ tidak pernah mendengar hadis dari Zaid radhiyallahu’anhu18, Ibnul-Madini rahimahullah bekata (Al’Ilal ; 138) : “…Dan dia (Athaa’) belum pernah mendengar Zaid bin Khalid Al-Juhani..”.

Puasa: Perisai Dari Tiga Perkara

Terdapat banyak hadis dengan potongan teks atau redaksi “Puasa Adalah Perisai”, namun diantara teks hadis yang paling popular ada dua yaitu:

 

Pertama:  HR  Imam  Malik  dalam  Al-Muwaththa’  (1099),  Imam  Bukhari  dalam

Shahihnya (1894), dan Imam Muslim dalam Shahihnya (1151), dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

 

Artinya: “Puasa itu adalah perisai, maka apabila   seorang dari kalian sedang melaksanakan  puasa,  janganlah  dia  berkata  rafats  (kotor)  dan     jangan  pula bertingkah laku jahil (sepert mengejek, atau bertengkar sambil berteriak). Jika ada orang lain yang   mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka hendaklah dia mengatakan “Aku orang yang sedang puasa, Aku orang yang sedang puasa”. (Ini redaksi dari riwayat Imam Malik).

 

Kedua: Dalam hadis dengan redaksi panjang, HR Ahmad (5/231), Tirmidzi (2616), dan Ibnu Majah (3973) dari Mu’adz radhiyallahu’anhu, diantara potongan redaksi hadis tersebut adalah:

 

Artinya: “…Maukah engkau aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, shadaqah itu memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api…”.

 

Dalam berbagai kitab syarah hadis, para ulama telah memberikan pandangan tentang makna perisai dalam konteks hadis puasa ini, bahkan dari atsar dan ucapan para salaf, kita bisa mendapati makna dan arti kata “perisai” dalam hadis puasa ini. Setidaknya ada tiga makna perisai yang mereka sebutkan dalam hadis-hadis yang mereka syarah dan  jelaskan,  penulis  akan  menyebutkannya  satu  persatu  –insya  Allah-  lengkap dengan alasan dan hujjah akan makna tersebut. Selamat menyimak.

 

Pertama: Puasa adalah perisai, bermakna bahwa puasa tersebut menjadi tameng/benteng bagi orang yang berpuasa dari perbuatan keji dan amalan yang tidak layak dengan ibadah puasa.

 

Dalih makna perisai yang satu ini adalah:

 

1.Karena diisyaratkan oleh redaksi hadis setelahnya sebagaimana dalam hadis Abu Hurairah diatas, yaitu : “maka apabila   seorang dari kalian sedang melaksanakan puasa, janganlah dia berkata rafats (kotor) dan  jangan pula bertingkah laku jahil (sepert mengejek, atau bertengkar sambil berteriak).” Ini menunjukkan bahwa perisai tersebut adalah agar ia terhalangi dari ucapan rafats (kotor), perbuatan jahil, serta maksiat lainnya. (lihat: Al-Masaalik Fi Syarh Muwaththa’ –Ibnul’Arabi Al-Maliki :

4/236).

 

2.Ibnul-Mulaqqin berkata: “Ia adalah perisai dari dosa-dosa… karena puasa tersebut memupuskan syahwatnya, dan melemahkan kekuatan (nafsunya untuk bermaksiat)”. (At-Taudhih Syarah Al-Jami’ Ash-Shahih : 13/19).

 

3.Puasa  adalah  perisai  dari  maksiat  dan  dosa-dosa  sebagaimana  perisai  menjadi tameng seseorang dari bidikan anak panah. (Syarh Al-Misykaat –Ath-Thiiby  5/1575).

 

Senada  dengan  ini,  Ibnu  Rajab  rahimahullah  berkata:   “…puasa  menghalangi seseorang dari maksiat ketika didunia, sebagaimana firman Allah ‘Azza Wa Jalla: Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183)”. (Jami’ Al-‘Ulum Wa Al-Hikam: hal.576).

 

Kedua: Puasa adalah perisai yaitu sebuah tameng dan benteng seorang muslim dari azab api neraka. Dalil dari makna ini adalah:

 

1.Berdasarkan  hadis  shahih  dari  Utsman  bin  Abil-‘Ash  radhiyallahu’anhu  bahwa

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

 

لاتقلا نم مكدحأ ةنجك رانلا نم ةنج مايصلا

 

Artinya: “Puasa adalah perisai dari neraka, seperti perisai salah seorang diantara kamu dari peperangan”. (HR Ahmad: 16278, Nasai: 4/167, dan Ibnu Majah: 1639, dengan sanad shahih).

 

(lihat: Al-Masaalik  Fi  Syarh  Muwaththa’  –Ibnul’Arabi Al-Maliki  :  4/236,    Syarh

Shahih Bukhari –Ibnu Bath-thal 4/8,  dan At-Tamhid –Ibnu Abdil-Barr 19/54).

 

2.Dalam Kitabnya Jami’ Al-‘Ulum (hal.576) Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah berkomentar dengan komentar yang indah: “Bila puasa adalah perisai dirinya dari berbagai maksiat (ketika didunia), maka diakhirat kelak, puasa tersebut lebih pantas menjadi perisainya dari azab neraka, namun apabila puasa tersebut tidak bisa menjadi perisai baginya dari maksiat ketika didunia, maka lebih-lebih lagi tidak akan menjadi perisai dirinya dari api neraka diakhirat kelak”.

 

Ketiga: Puasa adalah perisai dan tameng dari berbagai musibah dan bencana. Ini merupakan  kesimpulan  dari  dalil:  hadis  yang  dinukil  oleh Al-Hafidz As-Suyuthi dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir bahwa Ibnu Najjaar  meriwayatkan dari Hafshah dan Aisyah radhiyallahu’anhuma bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam:

 

Artinya: “Sesungguhnya puasa adalah perisai dari api neraka, dan perisai dari musibah dan bencana zaman”.

 

As-Suyuthi berkata: “Diriwayatkan oleh Ibnu Najjar” dan menandainya sebagai hadis

Dhoif.  (lihat:  Faidh  Al-Qadir:  5059  dan  At-Tanwir  Syarh  Al-Jami’  Ash-Shaghir:

5042).

 

Walaupun hadis ini dhoif, bahkan munkar, namun makna dan kandungannya benar, sebab semua jenis ibadah bisa membentengi seseorang dari berbagai bencana dan musibah. Allah ta’ala berfirman:

 

Artinya: Dan musibah apa pun yang menimpa kalian adalah karena perbuatan- perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahanmu). (QS Asy Syura; 30).

 

Ayat ini mengisyaratkan bahwa penyebab turunnya bencana adalah dosa dan maksiat, juga mengindikasikan bahwa ibadah dan kebaikan pasti akan menolak bala dan berbagai bencana dan musibah.

 

Mengenai keutamaan puasa sebagai perisai ini, merupakan sebuah keutamaan yang agung dan besar bagi setiap orang yang berpuasa, oleh sebab itu tidak heran bila Al-‘Allaamah Ash-Shan’ani rahimahullah menukil dari Imam Ibnu Abdil-Barr rahimahullah bahwa beliau berkata: “Cukuplah ini (puasa adalah perisai) sebagai karunia dan keutamaan bagi orang yang berpuasa, selama ia tidak mencoreng puasanya (mengurangi pahalanya) dengan ghibah dan dusta”. (At-Tanwir Syarh Al- Jami’ Ash-Shaghir 7/89). Ini senada dengan hadis dengan sanad hasan HR Ahmad

 

(1/195)  dan  Nasai  (4/167)  dari Abi  Ubaidah  radhiyallahu’anhu  bahwa  Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Puasa adalah perisai selama orang yang berpuasa tidak melobanginya (mencoreng puasanya dengan ucapan kotor, ghibah, dan dusta)”.

 

Catatan: Oleh karena itu para salaf begitu hati-hati dari ghibah dan dusta ketika berpuasa. Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata: “Ghibah itu melobangi/mencoreng pahala  puasa,  dan  ucapan  istighfar  menambal  pahalanya,  maka  barangsiapa diantara  kamu  yang  sanggup  melakukan  puasa  yang  tidak  terlobangi  maka hendaknya ia melakukannya” (HR Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman: 3644).

 

Hal  ini  juga  senada  dengan  ucapan  Ibnu Al-Munkadir  sebagaimana  dinukil  Ibnu Rajab dalam Jami’ Al-‘Ulum (hal.575) bahwa ia berkata: “Orang yang berpuasa bila menggunjing orang lain, maka puasanya terlobangi, dan bila beristighfar memohon ampunan, maka lobang tersebut akan tertambal”.