Artikel Archives - Yayasan Takrimul Quran

Yayasan Takrimul Quran

Gerakan Sedekah Beras untuk Pesantren

Assalamu’alaykum sahabat takrimul qur’an…
Kita harus selalu bersyukur ketika terdapat kekurangan dari sisi ekonomi pada diri kita, apapun yang ingin kita makan masih dapat kita penuhi, sementara diluar sana ketika dalam kondisi pandemi ini banyak sekali yang kesulitan untuk mencari makan sehari-hari mereka.
Berdasarkan kondisi tersebut maka takrimul qur’an membuat program baru yaitu “Bantuan beras untuk pesantren Indonesia”. Setelah sukses dengan program wakaf qur’an untuk pesantren di Indonesia maka kami kembali merealease program baru ini. Mengingat banyak sekali pesantren-pesantren yang masih kekurangan dalam memenuhi kebutuhan makan para santri.
.
Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW, bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim, lihat juga Kumpulan Hadits Arba’in An Nawawi hadits ke 36).
.
Oleh karena itu kami ingin mengetuk hati para kaum muslimin untuk mau berbagi kepada para santri ini, karena masa depan bangsa ini ada di tangan mereka. Semoga dengan adanya bantuan ini keberlangsungan mereka dalam mempelajari dan menghapal alqur’an menjadi pembuka keberkahan utk negri tercinta ini.
.
Untuk berdonasi silahkan transfer ke rekening kami, atas nama Yayasan Takrimul Qur’an ,

  1. BNI SYARIAH (427) 827 719 301
  2. BRI (002) 00120100383307
  3. BCA (014) 0953970080
    .
    Jangan lupa untuk konfirmasi ke customer service kami setelah berdonasi
    Semoga Alloh selalu melapangkan pintu rezeki dan keberkahan harta Anda semua
PUASA SYAWAL

Berpahala puasa satu tahun penuh

Dari Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang melakukan puasa Ramadhan lantas ia ikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka itu seperti berpuasa setahun.” (HR. Muslim, no. 1164)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Jika puasa enam hari Syawal bertepatan dengan puasa Senin atau Kamis, maka puasa Syawal juga akan mendapatkan pahala puasa Senin, begitu pula puasa Senin atau Kamis akan mendapatkan ganjaran puasa Syawal. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan pahala yang ia niatkan.” Demikian fatwa dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Fatawa Islamiyyah, 2:154.”

CINTA TERTINGGI SEORANG MU’MIN

Cinta Seorang Mukmin

“Diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh; yang mereka cintai sebagaimana mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Alloh….” (QS. al-Baqoroh [2]: 165)

Saudaraku, untuk mentadaburi ayat ini, marilah kita telaah ayat sebelumnya (baca: QS. al-Baqoroh [2]: 164) yang terkait dengan ayat ini.

Pada ayat 164, Alloh SWT telah menjelaskan kekuasaan-Nya yang begitu sempurna. Dia-lah Yang Maha Pencipta telah menciptakan makhluk-makhluk sangat besar di alam semesta ini; langit dengan seluruh bintang gemintang yang memenuhi jagat raya dan beredar di garis orbitnya, serta bumi dengan seluruh makhluk yang ada di dalamnya; baik di darat maupun di lautan, penghuni samudera maupun hutan belantara.

Alloh SWT, Dia pula yang mengatur pergantian siang dan malam dengan sangat sempurna tanpa cacat sedikitpun. Siang dan malam datang dan pergi silih berganti dengan begitu teratur, tanpa pernah menyelisihi waktu yang ditetapkan-Nya.

Laut dan samudera yang terhampar luas juga ditetapkan-Nya mampu membentuk arus bergelombang yang menghantarkan kapal-kapal ke tempat tujuan. Dengannya manusia mendapatkan berjuta manfaat dalam kehidupan.

Demikian pula air hujan yang diturunkan dari langit membasahi bumi, dengannya tumbuh beragam jenis tumbuhan, dan berjuta makhluk hidup mendapatkan manfaatnya. Ditambah lagi angin yang berhembus, dan awan yang berarak di angkasa, semua itu terjadi dengan penuh keteraturan.

Sungguh, semua itu adalah tanda-tanda yang sangat jelas, dan bukti yang terang benderang akan ke-Esa-an Alloh SWT.

Bagi manusia yang berfikir, yang menggunakan akalnya sebagaimana mestinya tentulah hal tersebut akan semakin menambah keimanannya kepada Alloh SWT.

Betapa sempurna kekuasaan Alloh SWT. Dia-lah Yang Maha Pencipta. Dalam penciptaan makhluk-Nya terdapat tanda-tanda kesempurnaan sifat-Nya. Dan, Dia-lah pula Yang Maha Esa. Hanya kepada-Nya-lah segala bentuk penghambaan harus dipersembahkan.

Namun, meskipun demikian jelasnya tanda-tanda kekuasaan Alloh SWT, anehnya masih saja banyak manusia yang tetap menyimpang dengan melakukan kesyirikan. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syeikh Abdurrohman Nashir as-Sa’di dalam tafsir beliau:

“Betapa bagusnya keterkaitan ayat ini dengan ayat sebelumnya. Alloh SWT telah menjelaskan keesaan-Nya dengan petunjuk-Nya yang sangat tegas dan penjelasan yang sangat terang yang menghantarkan kepada ilmu al-yaqin (keyakinan) dan melenyapkan keraguan. Namun, meskipun demikian sempurnanya penjelasan itu, di antara manusia tetap saja ada yang menjadikan makhluk-makhluk sebagai tandingan bagi Alloh SWT, di mana mereka menyamakan semua tandingan itu dengan Alloh SWT dalam peribadahan, cinta, pengagungan, dan ketaatan”. (Selengkapnya lihat: Tafsir al-Karim ar-Rohman fi Tafsir al-Kalam al-Mannan).

Seluruh makhluk, siapapun mereka dan apapun bentuknya, bukanlah tandingan bagi Alloh SWT. Alloh SWT adalah al-Kholiq (Yang Maha Pencipta), dan selain-Nya adalah makhluk yang diciptakan. Alloh SWT, Dia-lah Robb yang telah memberi rezeki kepada seluruh makhluk-Nya. Sebaliknya, seluruh makhluk dalam keadaan selalu mendapatkan dan menerima rezeki dari-Nya.

Alloh SWT Dia-lah al-Ghoniy (Yang Maha Kaya), adapun seluruh makhluk sangat butuh kepada-Nya. Alloh SWT Maha sempurna dalam seluruh sifat-Nya, adapun makhluk sangat lemah dalam seluruh aspek.

Alloh SWT pula yang memberi manfaat dan mudhorot sesuai kehendak-Nya. Adapun makhluk, mereka tidaklah kuasa memberikan manfaat dan mudhorot sedikitpun, kecuali sesuai dengan apa yang telah ditetapkan Alloh SWT.

 Demikian jelas tanda-tanda kekuasaan Alloh SWT, dimana bagi mereka yang mau berfikir pastilah akan mempersembahkan seluruh bentuk peribadahan mereka hanya kepada Alloh SWT, karena hanya Alloh-lah yang berhak untuk diibadahi oleh seluruh makhluk.

Adapun para pelaku kesyirikan, mereka menjadikan tandingan-tandingan selain Alloh SWT. Mereka mencintai sesuatu sebagaimana kecintaan mereka kepada Alloh SWT. Cinta yang diiringi dengan ketundukan dan pengagungan. Cinta yang diiringi dengan merendahkan diri dan pensucian. Cinta inilah yang dipersembahkan para pelaku kesyirikan kepada makhluk-makhluk sesembahan mereka.  Hal inilah yang terjadi pada mereka, kesyirikan dalam kecintaan (syirk al-mahabbah).

Tentunya jenis cinta ini berbeda dengan jenis cinta insani yang manusiawi, seperti; keinginan seseorang  pada makan dan minum, terlebih di saat lapar dan dahaga, atau kasih sayang seseorang pada anaknya, anak pada orangtuanya, suami kepada istri atau sebaliknya. Termasuk kasih sayang yang terjalin karena hubungan kekerabatan, persaudaraan dan persahabatan. Semua itu tidak sama sekali berkonsekwensi pada pengagungan. Cinta dan kasih sayang ini bersifat thobi’i  (tabiat dasar manusiawi), dan tidak bermasalah sepanjang hal ini tidak menjadikan seseorang bermaksiat kepada Alloh SWT.        

Berbeda halnya dengan kecintaan para pelaku kesyirikan. Mereka telah mempersembahkan cinta kepada makhluk-makhluk yang mereka ada-adakan. Ada yang mengagungkan benda-benda yang dikeramatkan. Adapula yang menyembah sosok berwujud manusia, binatang atau pepohonan, maupun sosok ghaib dari bangsa jin. Dan, masih banyak lagi bentuk persembahan cinta mereka kepada tandingan-tandingan selain Alloh SWT.

Bahkan ketika sosok sesembahan mereka membuat syariat baru dengan menghalalkan apa yang Alloh SWT telah haramkan, atau sebaliknya mengharamkan apa yang Alloh SWT telah halalkan, mereka pun tak segan dan tanpa pamrih mentaati sosok pembuat syariat yang menandingi Alloh SWT itu.

Adapun orang yang beriman, cinta mereka kepada Alloh SWT sangatlah besar, dan bahkan lebih besar dari cinta para pelaku kesyirikan kepada sesembahan mereka itu.

Cinta seorang mu’min kepada Alloh SWT adalah kecintaan yang murni, yang diiringi dengan penuh pengagungan, ketaatan, dan ketundukan kepada-Nya. Adapun cinta para pelaku kesyirikan kepada Alloh SWT adalah cinta yang telah tercampur dan tak lagi murni. Di satu sisi mereka mencintai Alloh SWT, namun di saat yang sama mereka sandingkan dengan kecintaan kepada sesembahan mereka. Apapun alasannya, sekalipun dalam sangkaan mereka sesembahan mereka itu dapat lebih mendekatkan diri mereka kepada Alloh SWT, menjadikannya sebagai perantara dalam beribadah kepada Alloh SWT, hal ini adalah salah satu bentuk kezoliman terbesar dan kebatilan terburuk.  

Wujud Cinta Kepada Alloh SWT.

  Setelah kita mentadaburi kedua ayat tersebut, hendaknya kita dapat mengambil pelajaran yaitu dengan senantiasa meningkatkan cinta kepada Alloh SWT. Hal tersebut diwujudkan dengan cara, diantaranya:

  1. Mengenal Alloh SWT dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Barang siapa mengenal Alloh SWT dengan benar maka ia akan semakin cinta kepada-Nya, kemudian semakin mengagungkan dan menta’ati-Nya.
  2. Merenungi segala nikmat yang telah Alloh SWT berikan yang tak mungkin dapat dihitung. Dengannya, rasa syukur seseorang akan semakin besar, baik pengakuan di hati, ucapan lisan, dan seluruh anggota badan pun menjadi bukti kejujuran syukurnya itu.
  3. Melaksanakan seluruh ibadah kepada Alloh SWT dengan penuh keikhlasan dan kejujuran iman serta menundukkan hawa nafsu. Dengan demikian seluruh gerak dan tingkah lakunya akan senantiasa selaras dengan keridhoan Alloh SWT.
  4. Memperbanyak berdzikir sebagaimana yang diajarkan Rosululloh SAW, dan membaca al-Qur’an dengan mentadabburi kandungan-Nya.    
  5. Mendekatkan diri kepada Alloh SWT dengan ibadah-ibadah sunnah (nafilah), tentunya setelah menjaga yang fardhu, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi:

وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah yang sunnah (nafilah) sampai Aku mencintainya”. (HR. Bukhori).

  • Banyak memohon kepada Alloh SWT kecintaan-Nya dan cinta terhadap segala yang dapat menyebabkan kecintaan-Nya kepada kita.

  Ya Alloh, kami memohon kepada-Mu kecintaan-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan amal perbuatan yang mendekatkan kami dengan cinta-Mu. Amiin..

Oleh: Ali Maulida, M.Pd.I

Mengungkap Hakikat Istighfar

Mengungkap Hakikat Istighfar

Hakikat Istighfar. Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Alloh dengan tabiat yang tidak lepas dari kesalahan dan dosa. Tidak ada manusia yang suci dari dosa dan kesalahan kecuali rasululloh SAW karena beliau ma’sum (dijaga oleh Alloh SWT). Manusia memilki musuh-musuh yang selalu menjerumuskannya ke dalam dosa-dosa. Selain setan ada musuh yang tidak kalah berbahaya yaitu nafsu yang ada dalam dirinya yang menghiasi dan memerintahnya berbuat kejelekan.

…إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ (٥٣)

… Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh rabb-ku” (Yusuf: 53)

Istighfar ialah bentuk masdar (kata dasar) dari istighfara-yastaghfiru. Unsur Pokoknya ialah ghafara, yang menunjukkan kepada sitru (hal menutupi). Maka Al-Ghufru berarti as-Sitru.

Adapun Al-Ghufru dan Al-Ghufran ialah bermakna sama. Sehingga dikatakan Ghafaralahu Dzanbahu Ghufran wamaghfiratan wa ghufranan.

Ar-Roghib berkata; “Al-Ghufru ialah mengenakan sesuatu yang dapat menjaganya dari kotoran hingga dikatakan ighfir Shaubaka fid du’aa (kenakanlah pakaianmu dalam berdoa). Sementara Al-Ghufran Wa maghfirah minallah berarti Dia menjaga hamba agar tidak disentuh oleh Adzab. Adapun Istighfar bermakna meminta hal tersebut, dengan ucapan dan perbuatan. Dikatakan pula, ighfiruu haadzal amra bi maghfiratihi. Artinya tutupilah ia dengan sesuatu yang wajib yang digunakan untuk menutupinya.

Di antara musuh manusia adalah setan; musuh bebuyutan yang senantiasa mengintai manusia untuk menyeretnya ke dalam lembah kebinasaan. Musuh manusia yang lain adalah hawa nafsu yang menghalang-halanginya dari agama Alloh. Dan termasuk musuhnya juga adalah dunia beserta segala tipuan dan keglamoran. Maka yang terpelihara adalah yang dipelihara oleh Alloh, yang melarangmu dari lalai dan jemu berbuat taat. Oleh karena itu Nabi SAW bersabda sebagaimana hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah,

“Demi Dzat yang jiwaku ada di TanganNya, andai kalian tidakuat dosa, niscaya Alloh akan mewafatkan kalian dan mengganti kalian dengan kaum yang berbuat dosa, lalu mereka memohon ampun kepada Alloh, maka Alloh mengampuni mereka.”

1. Hakikat istighfar bukan hanya di lisan

Akan tetapi, ada satu masalah yang harus diperhatikan. Yaitu, banyak orang berkeyakinan bahwa istighfar dengan lisan, di mana ketika salah seorang mereka mengucapkan astaghfirulloh, ternyatan ucapan ini tidak memiliki pengaruh di hatinya, sebagaimana tidak terlihat pengaruhnya pada anggota badan. Istighfar seperti ini pada hakikatnya adalah perbuatan para pendusta.

Al-Fudhail bin iyadh berkata, “Istighfar yang tidak disertai dengan meninggalkan perbuatan dosa adalah taubat para pendusta.”Seorang shalih berkata, “Istighfar kita membutuhkan istighfar.”

2. Hakikat Istighfar (Tobat) Kaum Pendusta

Tabiat manusia adalah tidak ma’sum (suci) dari kesalahan dan perbuatan dosa. Disamping itu, musuhnya pun banyak. Salah satunya nafsu yang bertempat tinggal diantara dua sisinya yang menghiasi kejahatan sehingga terlihat baik dan memerintahkan untuk melakukannya.

Musuh manusia yang lain adalah syetan, sang musuh besar yang selalu menanti manusia untuk menggiringnya menuju sumber-sumber kebinasaan. Selain itu juga ahwa nafsu yang selalu menghalangi manusia dari jalan Allah. Serta dunia dan segala hal-hal yang menipu dan keindahannya.

Orang yang maksum ialah orang yang mendapat penjagaan Allah. Dia mencegah diri anda dari kelalaian, futur (kendur) dari ketaatan serta sikap meremehkan dalam menunaikan kewajiban terhadap Allah.

Beliau juga bersabda didalam hadits lain;

كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

Setia anak adam yang mmepunyai kesalahan dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan ialah orang-orang yang bertaubat.” (HR At-Tirmidzi)

Al-fudhail bin Iyadh berkata “beristighfar tanpa meninggalkan perbuatan dosa ialah tobatnya para pendusta”.

Salah seorang yang sholeh berkata “Istighfar kami membutuhkan Istighfar. Maknanya siapa yang beristighfar kepada Allah namun tidak meninggalkan kemaksiatan maka Istighfarnya perlu di Istighfari”. Karena itu hendaknya meneliti kembali kebenaran Istighfar kita, agar kita tidak termasuk golongan para pendusta yang beristighfar hanya dalam lisan, sementara mereka tetap melakukan kemaksiatan.

Inilah dia hakikat dari istighfar. Sebenarnya jika kita ingin menyelami hakikat istighfar tidaklah cukup hanya membaca artikel ini karena makna dari istighfar ini sangatlah luas mudah-mudahan artikel ini bisa menjadi sedikit petunjuk dan jawaban bagi para pembacanya.

Wallohua’lam

www.takrimulquran.org

Cara Bersedekah yang Salah dan Keliru

Cara Bersedekah yang Salah dan Keliru Takrimul Quran

Cara Bersedekah.- Dalam amalan sedekah terdapat pahala yang berlimpah bukan hanya itu sedekah sangat terasa pengaruhnya ketika di dunia misalnya berkahnya segala urusan kita. Syarat untuk mendapatkan itu semua tentunya tidak sembarangan, sedekah dengan niat ikhlaslah yang akan mendapatkannya. Jadi sedekah yang dilakukan tidak ikhlas maka sedekahnya akan sia-sia. Ada beberapa kesalahan dalam bersedekah diantaranya adalah:

1.Bahaya Cara Bersedekah dengan niat riya dan sum’ah

Segala amalan yang tidak diniatkan dengan ikhlas maka akan sia-sia, banyak orang yang bersedekah dengan niat ingin dipuji orang, ingin disebut sebagai seorang yang dermawan padahal sedekah yang diterima oleh Alloh adalah sedekah yang diniatkan ikhlas lillahi ta’ala saja. Riya dan sum’ah adalah dua penyakit yang amat berbahaya dikarenakan jika kita terjangkiti dua virus ini maka amalan yang kita kerjakan akan sia-sia dan percuma, amalan kita tidak akan ada nilainya sama sekali di sisi Alloh SWT.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (artinya: ikhlas) dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” (QS. Al Bayyinah: 5).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang bahaya riya’ (gila pujian) bahwasanya amalan pelaku riya’ tidaklah dipedulikan oleh Allah. Dalam hadits qudsi disebutkan,

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (artinya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya” (HR. Muslim no. 2985).

Imam Nawawi rahimahullah menuturkan, “Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa” (Syarh Shahih Muslim, 18: 115).

2. Cara Bersedekah dengan niat hanya untuk dunia

Sedekah adalah amalan yang sangat agung dan sakral, sayang sekali jika sedekah hanya diniatkan untuk dunia saja tanpa melihat betapa besarnya balasan Alloh terhadap orang yang bersedekah.

Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16)

Dalam ayat lain disebutkan,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy Syuraa: 20)

Ats Tsauri berkata, dari Mughiroh, dari Abul ‘Aliyah, dari Ubay bin Ka’ab –radhiyallahu ‘anhu-, beliau mengatakan,

بَشِّرْ هَذِهَ الأُمَّةُ بِالسِّنَاءِ وَالرِّفْعَةِ وَالدِّيْنِ وَالتَّمْكِيْنِ فِي الأَرْضِ فَمَنْ عَمِلَ مِنْهُمْ عَمَلَ الآخِرَةِ لِلدُّنْيا لَمْ يَكُنْ لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيْبٍ

Berilah kabar gembira pada umat ini dengan kemuliaan, kedudukan, agama dan kekuatan di muka bumi. Barangsiapa dari umat ini yang melakukan amalan akhirat untuk meraih dunia, maka di akhirat dia tidak mendapatkan satu bagian pun.” (HR. Ahmad 5: 134. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)


Ada beberapa macam niat beramal pada diri seseorang,

  1. Jika niatnya murni hanya untuk meraup keinginan dunia maka dijelaskan dalam al-Quran bahwa orang semacam ini di akhirat kelak tidak akan mendapatkan apa-apa sedikitpun, dan ini tidak mungkin terjadi pada seorang mukmin dikarenakan walaupun imannya sangat lemah pasti dia mengharapkan pahala dan kebaikan akhirat di sisi Alloh SWT.
  2. Jika niatnya bercabang keinginan mendapatkan pahala di akhirat dan balasan di dunia sama-sama kuat maka hal ini akan mengurangi keiklasan dan ketauhidannya, hal ini akan dinilai kurang karena keikhlasannya kurang sempurna.
  3. Adapun jika ada orang yang telah beramal secara ikhlash, dia hanya mengharapkan pahala dan wajah Allah semata, akan tetapi di balik itu dia mendapatkan upah atau hasil yang dia ambil untuk membantunya dalam beramal (semacam mujahid yang berjihad lalu mendapatkan harta rampasan perang, para pengajar dan pekerja yang menyokong agama yang mendapatkan upah dari negara setiap bulannya), maka tidak mengapa mengambil upah tersebut. Hal ini juga tidak mengurangi keimanan dan ketauhidannya, karena semula dia tidak beramal untuk mendapatkan dunia. Sejak awal dia sudah berniat untuk beramal sholeh dan menyokong agama ini, sedangkan upah yang dia dapatkan adalah di balik itu semua yang nantinya akan menolong dia dalam beramal dan beragama. (Lihat Al Qoulus Sadiid karya Syaikh As Sa’di, hal. 132-133)

Ada dua macam jika seseorang melakukan amalan untuk mendapatkan dunia,

  1. Amalan yang didalamnya tidak dicantumkan balasan dunia. Jika dengan amalan ini hanya mengharapkan amalan dunia saja maka hal ini dilarang. Bahkan ada yang menyebutkan ini adalah sebuah bentuk kesyirikan.
  2. Amalan yang didalamnya disebutkan balasan dunia, maka jika seseorang hanya mengharapkan dunia saja dalam amalan ini tanpa mengharapkan pahala akhirat sedikitpun maka hal ini dilarang, akan tetapi jika dibalik pengharapan balasan dunia disitu ada pengharapan pahala akhirat maka hal itu dibolehkan.

  Semisal silaturrahim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Barangsiapa senang untuk dilapangkan rizki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturrahim (hubungan antar kerabat).” (HR. Bukhari no. 5986 dan Muslim no. 2557)

3. Mengungkit-ungkit sedekah dan menyakiti penerimanya

Cara bersedekah dengan mengungkit-ungkit pemberian apalagi sampai menyakiti hati si penerima, sedekahnya sudah dipastikan tidak ada nilainya sama sekali di sisi Alloh SWT.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)” (QS. Al Baqarah: 264).

Ibnu Katsir menjelaskan, “Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa sedekah menjadi sia-sia hanya karena si pemberi mengungkit-ungkit sedekah yang telah ia beri dan ia menyakiti yang menerima. Seseorang tidak mendapatkan pahala sedekah akibat melakukan dua kesalahan tersebut.”

Sedekah Ikhlas di Waktu Terbaik

Sedekah Ikhlas di Waktu Terbaik

Sedekah Ikhlas di Waktu Terbaik. – Sedekah adalah amalan yang memiliki arti luas, sedekah bisa dilakukan dengan pikiran, fisik dan harta, akan tetapi kali ini kita akan membahas sedekah yang berkaitan dengan harta. Sedekah ikhlas adalah sedekah yang dilakukan secara ikhlas jika hal ini dilakukan maka akan mendapatkan keberkahan-keberkahan pada hidupnya.

Semua jenis sedekah sifatnya baik, walaupun ada jenis sedekah yang lebih baik dari jenis-jenis sedekah lainnya. Begitupun waktu ada waktu-waktu sedekah yang memiliki keutamaan yang lebih dibandingkan waktu-waktu yang lain.

Dalam sedekah butuh strategi, dengan modal yang terbatas kita akan mendapatkan balasan yang melimpah, dalam islam hal seperti ini diperbolehkan jika kita tidak memilki kemampuan maka dianjurkan untuk mengerjakan amalan-amalan ringan yang memiliki pahala besar.

Dalam sedekah ada waktu-waktu yang memilki keutamaan, diantaranya,

1. Sedekah ikhlas dilakukan pada saat masa krisis

Krisis di sini maksudnya ketika orang-orang dalam masa krisis seperti tertimpa bencana, kekeringan dan lain-lain.

Allah Ta’ala berfirman,

فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ (11) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ (12) فَكُّ رَقَبَةٍ (13) أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ (14)

Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan.” (QS. Al-Balad: 11-14). Memberi makan pada hari “dzi masghobah“, maksudnya adalah pada masa kelaparan, ketika makanan menjadi langka, di masa semua kebutuhan terfokus pada makanan. Lihat Tafsir Ath-Thabari, 15: 255.

2. Saat terjadi peristiwa menakutkan

Contoh dari peristiwa menakutkan seperti terjadinya gerhana, ketika terjadi peperangan, maka sedekah pada saat itu lebih afdhol.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat gerhana tersebut, maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari no. 1044 dan Muslim no. 901)

3. Sedekah Ikhlas di sepuluh hari pertama dzulhijjah

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.“ (HR. Abu Daud)

4. Bulan Ramadhan

Selain diwajibkan untuk berpuasa maka di bulan ramadhan juga sedekah yang kita lakukan akan dibalas dengan pahala yang berkali lipat dan lebih dari bulan-bulan yang lainnya.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْقُرْآنَ ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar melakukan kebaikan. Kedermawanan (kebaikan) yang beliau lakukan lebih lagi di bulan Ramadhan yaitu ketika Jibril ‘alaihis salam menemui beliau. Jibril ‘alaihis salam datang menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur’an) hingga Al Qur’an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila Jibril ‘alaihi salam datang menemuinya, tatkala itu beliau adalah orang yang lebih cepat dalam kebaikan dari angin yang berhembus.” (HR. Bukhari no. 1902 dan Muslim no. 2308).

5. Hari Jumat

Pada dasarnya apapun amalan yang dilakukan pada hari jumat akan dibalas dengan pahala yang besar,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ

Hari yang baik saat terbitnya matahari adalah hari Jum’at. Hari tersebut adalah hari diciptakannya Adam, hari ketika Adam dimasukkan ke dalam surga dan hari ketika Adam dikeluarkan dari surga. Hari kiamat tidaklah terjadi kecuali pada hari Jum’at.” (HR. Muslim no. 2912)

Wallohua’lam…

Infakmu akan Menolongmu

Infakmu akan menolongmu Takrimul Quran

Infak mu akan Menolongmu. – Semua yang diperintahkan oleh Alloh SWT dan dilarang-Nya pasti dibalik itu semua terdapat hikmah dan kebaikan yang besar walaupun hal itu menurut akal kita yang terbatas ini tidak masuk akal, bagaimana tidak seharusnya harta yang kita keluarkan pasti berkurang akan tetapi pada hakikatnya tidak Alloh menyebutkan bahwa harta yang kita infakkan pada hakikatnya tidaklah berkurang bahkan bertambah.

Dari Asma’ binti Abi Bakr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padaku,

لاَ تُوكِي فَيُوكى عَلَيْكِ

Janganlah engkau menyimpan harta (tanpa mensedekahkannya). Jika tidak, maka Allah akan menahan rizki untukmu.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

أنفقي أَوِ انْفَحِي ، أَوْ انْضَحِي ، وَلاَ تُحصي فَيُحْصِي اللهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعي فَيُوعي اللهُ عَلَيْكِ

Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barokah rizki tersebut. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.”

Infak seseorang jika dia ikhlas karena Alloh SWT maka dengan sebab infak itu Alloh SWT akan menolongnya di hari dimana tidak ada penolong selain pertolongan Alloh SWT.

Berikut adalah janji dari Alloh SWT bagi orang yang berinfak,

1. Jika kita berinfak maka Alloh SWT akan mengganti infak tersebut

Apapun yang kita infakkan dengan syarat yang kita infakkan adalah harta yang halal maka Alloh SWT tidak akan menyia-nyiakannya, infak tidak akan membuatmu miskin semakin banyak berinfak semakin banyak keberkahan yang dapat diraih.

Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِين

Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam menafsirkan ayat di atas,

مهما أنفقتم من شيء فيما أمركم به وأباحه لكم، فهو يخلفه عليكم في الدنيا بالبدل، وفي الآخرة بالجزاء والثواب

Apapun yang kamu infakkan dalam apa yang diperintahkan kepadamu atau yang dimubahkan bagimu, maka Dia akan memberikan gantinya untukmu di dunia, dan di akhirat dengan ganjaran dan pahala.

Dari sini kita bisa menyanggah perkataan yang mengatakan bahwa jika kita berinfak maka akan mengurangi hartamu dan membuatmu miskin. Justru dari ayat ini kita bisa menyimpulkan bahwa orang yang pelit akan menahan rezekinya sendiri.

2. Akan diampuni dosa-dosanya

Selain mendapat ganti dari Alloh SWT baik di dunia maupun di akhirat, Alloh juga berjanji akan menghapuskan dosa-dosanya disebabkan infak tersebut.

Ibnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan yang serupa,

وأما الله سبحانه فإنه يعد عبده مغفرة منه لذنوبه، وفضلاً بأن يخلف عليه أكثر ما أنفق أضعافه إما في الدنيا أو في الدنيا والآخرة

Adapun Allah menajanjikan ampunan untuk dosa-dosa hambanya, dan menjanjikan “karunia” dengan memberi ganti yang lebih banyak dan berlipat-lipat atas apa yang sudah diinfakkannya; baik di dunia atau di dunia dan di akhirat.” (Thariq al-Hijratain: 384).

Wallohua’lam…

Raih pahala melimpah dengan membagikan artikel ini

Pentingnya Sedekah bagi Kaum Muslim

Pentingnya Sedekah bagi Kaum MuslimSedekah adalah amalan sunnah yang disyariatkan islam, berbeda dengan zakat yang hukumnya adalah wajib, sedekah adalah berbagi harta atau kebaikan kepada orang lain, bersedekah dengan harta yang baik adalah hal yang sangat dianjurkan dikarenakan Alloh SWT itu baik maka tidak diterima sedekah kecuali dengan harta yang baik.

مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلاَ يَقْبَلُ اللهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ وَإِنَّ اللهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِيْنِهِ ثُمَّ يُرَبِّيْهَا لِصَاحِبِهَا كَمَا يُرَبِّيْ أَحَدُكُمْ فُلُوَّهُ حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ

Barangsiapa yang bersedekah dengan sebutir kurma hasil dari usahanya sendiri yang baik, sedangkan Allah tidak menerima kecuali yang baik saja, maka sungguh Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya lalu mengembangkannya untuk pemiliknya sebagaimana seseorang merawat anak kudanya hingga ia menjadi seperti gunung yang besar.” (HR. Bukhari no. 1410 dan Muslim no. 1014)

Bersedekah dengan harta jika dengan niat ikhlas maka hal itu termasuk dengan infak fi sabilillah, bahkan Al-Quran mendahulukan jihad dengan harta dibandingkan jihad dengan jiwa, hal ini dikarenakan jihad dengan harta memiliki manfaat yang sangat luas, hendaknya bagi kaum muslimin tidak menahan hartanya karena disitu ada hak bagi orang lain.

Mengenai perkara pentingnya sedekah sampai-sampai Rasululloh SAW bersabda,

فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

Jagalah diri kalian dari neraka meskipun hanya dengan sedekah setengah biji kurma. Barangsiapa yang tak mendapatkannya, maka ucapkanlah perkataan yang baik.” (HR. Bukhari no. 1413, 3595 dan Muslim no. 1016)

Harta yang disedekahkan pada hakikatnya tidaklah hilang akan tetapi harta tersebut akan dijaga oleh Alloh SWT. Dari sini kita mengetahui akan pentingnya sedekah karena dalam sedekah terdapat manfaat yang akan kita rasakan sendiri, diantara manfaat-manfaat sedekah antara lain sebagai berikut,

1. Perlindungan dari api neraka itulah pentingnya sedekah

Inilah pentingnya sedekah selain kita membagikan harta kepada orang lain disitu juga kita akan dilindungi dari api neraka, jangan pernah meremehkan sedekah walau jumlahnya sekecil apapun maksudnya jika kita hanya mampu sedikit maka sedekahkanlah, karena yang mejadikan sedekah itu bernilai besar atau sedikit adalah niatnya, kecuali jika dia mampu memberikan harta yang banyak maka janganlah sedekah dengan sedikit harta.

Yakinlah bahwa Alloh SWT akan membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda, Rasululloh SAW bersabda,

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

Barangsiapa membangun masjid karena Allah meski sebesar sangkar burung, atau bahkan lebih kecil dari itu, maka Allah akan membangunkan baginya satu istana di surga.” (HR. Ibnu Majah No. 730)

Ingatlah jangan sekali-kali bersedekah dengan harta haram karena hal itu akan sia-sia dan Alloh tidak akan membalasnya sedikitpun malah sebaliknya Alloh akan menyiksanya dikarenakan harta haram yang diperoleh.

Rasululloh SAW bersabda,

إِذَا أَدَّيْتَ زَكَاةَ مَالِكَ فَقَدْ قَضَيْتَ مَا عَلَيْكَ، وَمَنْ جَمَعَ مَالًا حَرَامًا ثُمَّ تَصَدَّقَ مِنْهُ لَمْ يَكُنْ لَهُ فِيهِ أَجْرٌ وَكَانَ إِصْرُهُ عَلَيْهِ

Jika engkau telah menunaikan zakat hartamu maka engkau telah melaksanakan kewajiban dan barang siapa yang mengumpulkan harta dari jalan yang haram, kemudian dia menyedekahkan harta itu, maka sama sekali dia tidak akan memperoleh pahala, bahkan dosa akan menimpanya” (HR. Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban dalam Shahihnya)

2. Salah satu pentingnya sedekah adalah akan dinaungi olehnya pada hari kiamat

Pada saat manusia dibangkitkan di padang mahsyar dimana padang mahsyar adalah tempat yang sangat luas dan datar disitu tidak ada yang namanya naungan tidak ada dataran tinggi dan dataran rendah, semua tidak beralaskan kaki dan matahari didekatkan sedekat-dekatnya dimana pada saat itu ada yang berkeringat sampai betisnya sampai perutnya bahkan menutupi kepalanya dikarenakan kondisi saat itu sangat menegangkan, disitulah ada orang-orang yang sangat beruntung dikarenakan mereka dinaungi oleh sedekahnya.

Rasululloh SAW bersabda,

“Tiap insan akan berada dibawah naungan sedekahnya, sampai dipisah antara sesama insan. Atau beliau mengatakan; ‘Sampai dihukumi manusia”. (HR. Ahmad)

Selama mereka menunggu itu, mereka berada dibawah naungan sedekah mereka yang pada hari matahari didekatkan.

3. Mengobati penyakit jasmani inilah salah satu dari pentingnya sedekah

Ternyata sedekah sangatlah bermanfaat baik bagi batin dan fisik, dan sedekah ada keterkaitannya dengan kesehatan fisik.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

داووا مرضاكم بالصدقة

Obatilah orang-orang yang sakit diantara kamu itu dengan bersedekah.” (Hadits shahih yang dihasankan oleh Al-Albani dalam shahihul jami’ dari Abu Umamah dan Al-Hasan)

Wallohua’lam…

Rahasia Infaq Di Bulan Ramadhan

Dalam hadits Ibnu Abbas disebutkan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau bertambah kedermawanannya di bulan Ramadlan ketika bertemu dengan malaikat Jibril, dan Jibril menemui beliau di setiap malam bulan Ramadlan untuk mudarosah (mempelajari) Al Qur’an” (HR Al Bukhari).

Hadits tersebut memberikan faidah kepada kita bahwa kedermawanan hendaknya lebih di tingkatkan lagi di bulan Ramadlan. Mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih meningkatkan kedemawanan di bulan Ramadlan secara khusus? Al Hafidz Ibnu Rajab menyebutkan banyak faidah mengapa demikian.

Beliau berkata, “Meningkatnya kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di bulan Ramadlan secara khusus memberikan faidah yang banyak, diantaranya:

Pertama: Bertepatan dengan waktu yang mulia dimana amalan dilipatkan gandakan pahalanya bila bertepatan dengan waktu yang mulia.

Kedua: Membantu orang-orang yang berpuasa, sholat malam, dan berdzikir dalam ketaatan mereka, sehingga orang yang membantu itu mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang dibantu. Sebagaimana orang yang memberikan persiapan perang kepada orang lain mendapat pahala seperti orang yang berperang.

Ketiga: Allah amat dermawan kepada hamba-hamabNya di bulan Ramadlan dengan memberikan kepada mereka rahmat, ampunan dan kemerdekaan dari api Neraka, terutama di malam lailatul qodar. Allah merahmati hamba-hambaNya yang kasih sayang, sebagaimana Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ

Sesungguhnya Allah hanyalah menyayangi hamba-hambaNya yang penyayang” (HR Bukhari dan Muslim).

Barang siapa yang dermawan kepada hamba-hamba Allah, maka Allahpun akan dermawan kepadanya dengan karuniaNya, dan balasan itu sesuai dengan jenis amalan.

Keempat: Menggabungkan puasa dan sedekah adalah sebab yang memasukkan ke dalam surga, sebagaimana dalam hadits Ali Radliyallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا فَقَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَام

Sesungguhnya di dalam surga terdapat kamar-kamar yang luarnya terlihat dari dalamnya, dan dalamnya terlihat dari luarnya.” Seorang arab badui berdiri dan berkata, “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Untuk orang yang membaguskan perkatannya, memberi makan, senantiasa berpuasa, dan shalat malam karena Allah sementara manusia sedang terlelap tidur” (HR At Tirmidzi).

Amalan-amalan yang disebutkan dalam hadits ini semuanya ada dalam bulan Ramadlan, maka terkumpul pada seorang mukmin puasa, qiyamullail, shodaqoh, dan berbicara baik karena orang yang sedaang berpuasa dilarang melakukan perbuatan sia-sia dan kotor.

Kelima: Menggabungkan antara puasa dan sedekah lebih memberikan kekuatan yang lebih untuk menghapus dosa dan menjauhi api Neraka, terlebih bila ditambah sholat malam. Dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa puasa adalah perisai. Beliau juga mengabarkan bahwa shodaqoh itu dapat memadamkan kesalahan sebagaimana air dapat memadamkan api.

Keenam: Orang yang berpuasa tentunya tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan, maka shodaqoh dapat menutupi kekurangan dan kesalahan tersebut, oleh karena itu diwajibkan zakat fithr di akhir Ramadlan sebagai pensuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata yang kotor.

Faidah lainnya adalah yang disebutkan oleh Imam Asy Syafi’i, beliau berkata, “Aku suka bila seseorang meningkatkan kedermawanan di bulan Ramadlan karena mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, juga karena kebutuhan manusia kepada perkara yang memperbaiki kemashlatan mereka, dan karena banyak manusia yang disibukkan dengan berpuasa dari mencari nafkah”.

***

Artikel Muslim.or.id

Empat Keutamaan Puasa Ramadhan

PUASA dalam tinjauan berbagai aspek tidak ditemukan melainkan kebaikan demi kebaikan, kemuliaan demi kemuliaan dan keajaiban demi keajaiban. Oleh karena itu sangat wajar jika mereka yang berpuasa dengan benar sebagaimana Rasulullah berpuasa, benar-benar mereka akan mendapatkan kemuliaan di sisi-Nya dengan anugerah agung dari-Nya, yakni ketaqwaan.

يَـٰٓأَيُّهَاٱلَّذِينَءَامَنُواْكُتِبَعَلَيۡڪُمُٱلصِّيَامُكَمَاكُتِبَعَلَىٱلَّذِينَمِنقَبۡلِڪُمۡلَعَلَّكُمۡتَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183).

Ibarat sebuah titah seorang raja atau panglima, target dari pelaksanaan perintah ini sudah jelas goal alias targetnya, yakni takwa. Oleh karena itu, segala macam aktivitas yang justru semakin menjauhkan diri dari ketakqwaan sekalipun diri dalam keadaan lapar dan dahaga mesti dipahami dan dijauhi.

Misalnya, menghabiskan puasa dengan banyak menonton televisi dengan beragam tayangan yang menampilkan aurat, merangsang hasrat terhadap makanan dan menjauhkan diri dari mengingat Allah, maka jelas ini adalah puasa yang tidak akan pernah sampai pada tujuan akhir.

Atau, nyaris dalam sebulan menghabiskan waktu sore hari hingga malam dengan kongkow-kongkow di keramaian, hunting beragam makanan untuk ta’jil atau sekedar mondar-mandir dengan motor untuk menunggu waktu Maghrib. Mungkin tidak salah, tetapi jika itu dilakukan setiap hari, hingga tidak ada dzikir kepada Allah, maka ini adalah kerugian.

Oleh karena itu puasa tahun ini mesti kita pahami dengan sebaik-baiknya untuk kemudian menancapkan komitmen dalam diri untuk benar-benar sampai pada ketakwaan. Di antaranya adalah dengan memahami manfaat dari puasa Ramadhan itu sendiri.

Pertama, puasa merupakan kafarat dari sekian banyak kafarat.

“Fitnah seorang laki-laki yang disebabkan keluarganya, hartanya, dan tetangganya, akan ditebus oleh kifarat dari sholat, puasa, dan sedekahnya.” (HR. Bukhari).

Kedua, puasa menghapus dosa-dosa yang telah lalu.

“Siapa saja yang berpuasa di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan ridha Allah, maka akan diampuni segala dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari).

Ketiga, puasa menjadi syafaat di hari kiamat.

“Puasa (Ramadhan) dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat. Puasa akan berkata, “Wahai Rabb, aku mencegahnya makan dan minum di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya. Dan Al-Qur’an berkata, Wahai Rabb, aku mencegahnya tidur di malam hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya.” (HR. Ahmad).

Keempat, ada Surga khusus bagi orang-orang yang berpuasa.

“Sesunguhnya di surga ada sebuah pintu yang disebut ar-Royyan. Pada hari kiamat akan masuk dari pintu itu orang-orang yang berpuasa dan pintu itu tidak akan dilalui oleh seorang pun selain mereka. Dikatakan pada hari itu, ‘Mana orang-orang yang rajin berpuasa?’ Maka mereka pun berdiri dan tidak ada seorang pun yang ikut masuk melainkan mereka. Setelah mereka masuk, pintu itu pun dikunci, hingga tidak ada seorang pun yang masuk setelahnya.” (HR. Bukhari).

Kelima, Allah kabulkan doa orang yang berpuasa.

“Ada tiga doa yang tdak akan ditolak oleh Allah Ta’ala, yaitu dua orang yang berpuasa sampai ia berbuka, doa seorang pemimpin yan gadil, dan doa orang-orang yang teraniaa. Allah akan mengangkat doa-doa tersebut ke atas awan dan Dia akan membukakan pintu langit bagi doa tersebut. Allah akan berkata, “Demi keagungan-Ku, sungguh aku akan menolongmu walaupun secara tidak langsung.” (HR. Tirmidzi).

Dengan memahami, menghayati dan menyelami empat hadits di atas, insya Allah kita tidak akan menjalani puasa sebatas menahan lapar dan dahaga, tetapi sebaliknya, akan berusaha bersungguh-sungguh mengisi Ramadhan dengan amalan-amalan penting yang diteladankan Rasulullah. Terlebih puasa di antaranya akan menjadikan Allah mengabulkan doa, maka menjelang Maghrib bukanlah waktu yang tepat untuk diisi dengan “keluyuran” melainkan memperbanyak doa hingga tiba waktu berbuka puasa. Wallahu a’lam.*

Sumber: https://www.hidayatullah.com