Artikel Terbaru Archives - Yayasan Takrimul Quran

Yayasan Takrimul Quran

Kewajiban Bersuci dalam Islam

Bersuci berarti membersihkan diri dari kotoran. Apakah itu kotoran yang sifatnya indrawi seperti najis, ataupun kotoran yang sifatnya maknawi seperti aib. Adapun bersuci dalam pengertian syariat adalah suatu perbuatan yang menyebabkan bolehnya melaksanakan sholat atau hal lain yang hukumnya sama dengan sholat. Misalnya, berwudhu untuk orang yang belum benwudhu, mandi bagi orang yang wajib mandi, serta membersihkan pakaian, badan, dan tempat.

Islam sangat memerhatikan kesucian dan kebersihan pemeluknya, khususnya tatkala dalam melaksanakan ibadah. Hal ini terlihat dari beberapa perintah dan anjuran berikut ini:

Pertama; Hukum Berthoharoh atau bersuci adalah Wajib.

Thoharoh atau bersuci dari segala bentuk najis adalah wajib jika diketahui dan mampu melaksanakannya. Keharusan suci dari najis ini adalah panduan syariat Islam agar seorang muslim senantiasa dalam keadaan bersih. Alloh subhanahu wata’ala berfirman dalam surat al-Mudatsir ayat 4:

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

“Bersihkanlah pakaianmu!”

Kedua; Syariat Berwudhu.

Alloh subhanahu wata’ala berfirman dalam surat al Maidah ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan sholat, Maka basuhlah oleh kalian muka dan tangan kalian sampai dengan siku, dan sapulah kepala kalian dan basuhlah kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki.”

Imam Ibnu Katsir rohimahulloh menjelaskan dalam kitab Tafsirnya mengatakan bahwa ayat ini merupakan perintah berwudhu tatkala hendak melaksanakan sholat. Namun, perintah wajib itu harus dilakukan bagi orang yang berhadats. Sedangkan bagi yang masih suci, perintah itu sunnah.

Perintah wudhu bagi yang hendak sholat ini menunjukkan bahwa Islam mewajibkan ummatnya dalam keadaan suci tatkala menghadap Robb-nya. Bahkan, pelaksanaan wudhu pun harus sempurna sesuai tuntunan Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam. Hal itu ditegaskan dalam sabdanya dalam riwayat Imam al Bukhori:

وَيْلٌ لِلأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ

“Celakalah bagi para pemilik tumit yang tidak terkena basuhan air wudhu dari neraka.”
(HR. Bukhori)

Faidah dari hadits ini bahwa wajib memerhatikan anggota-anggota wudhu dan tidak boleh mengabaikan sedikitpun anggota wudhu. Lalu Nash hadits menyebut kedua tumit, dan anggota-anggota lainnya diqiyaskan padanya karena ada nash-nash lain yang menyebut seluruh anggota-anggota wudhu. Dan terdapat ancaman keras bagi orang yang tidak baik dalam berwudhu.

Dengan demikian pendengar, syariat wudhu dan wajib menyempurnaan pelaksanaannya adalah bukti konkrit bahwa agama Islam benar-benar memberikan perhatian akan kebersihan dan kesucian. Terutama tatkala hendak melaksanakan ibadah sholat.

Ketiga; bukti islam sangat memperhatikan kesucian adalah adanya perintah Syariat Mandi Junub.

Secara umum mandi merupakan kegiatan membersihkan badan. Terutama dari segala bentuk kotoran. Tatkala Islam mewajibkan mandi dari segala bentuk hadats, tentu ini menunjukkan bahwa agama Islam senantiasa mengajarkan ummatnya agar adalam keadaan bersih. Terutama tatkala hendak beribadah.

Adapun mandi yang dimaksudkan dalam syrariat Islam adalah mandi junub. Yaitu membasahi seluruh tubuh dengan air dan diawali dengan niat untuk mandi wajib. Mandi junub bersifat ta`abbudi yaitu bersifat ibadah kepada Alloh subhanahu wata’ala. Mandi junub bertujuan menghilangkan hadats besar. Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًافَاطَّهَّرُوا

“Jika kalian dalam keadaan junub maka hendaklah kalian mandi janabah.”
(QS. al-Maidah: 6)

Selain itu Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam bersabda sebagaimana diriwayatkan Imam Al Bukhori;

لاَيَقْبَلُ اللَّهُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ.

Abu Hurairah meriwayatkan hadits bahwa Rosululloh bersabda, “Alloh tidak menerima sholat seseorang di antara kalian ketika berhadats hingga ia berwudhu.”
(HR. Bukhori)

Maksud hadats dalam hadits tersebut adalah sesuatu yang keluar dari dubur atau kemaluan, atau hal-hal lain yang membatalkan wudhu. Jadi hadats adalah deskripsi hukum yang diperkirakan terjadi pada anggota tubuh. Keberaadaannya menghalangi ibadah yang menjadikan Thoharoh sebagai syarat.

Agama Islam menyeru kepada para pemeluknya empat belas abad yang lalu agar memperhatikan kesehatan dan kebersihan kuku, bulu ketiak dan bulu kemaluan. Gerakan kebersihan jasmani ini mengandung dampak positif, bahkan sesuai dengan ilmu kesehatan modern masa kini. Dengan demikian ajaran Islam sesuai dengan perkembangan zaman.

Rosul shollallohu’alaihi wasallam bersabda sebagaimana yang diriwayatkan Al Bukhori;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَرَضِيَ اللهُ عَنْه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَاَلْفِطْرَةُ خَمْسٌ (أَوْخَمْسٌ مِنَ اْلفِطْرَةِاَلْخِتَانُوَاْلاِسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيْمُ اْلأَظْفَار ِوَنَتْفُ اْلإِبِطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ

“Ada lima hal yang termasuk fitroh atau lima perkara yang termasuk fitroh: khitan, memotong rambut kemaluan, memotong kuku, mencabut rambut ketiak dan memangkas kumis.”

Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam telah menetapkan batas paling lama seseorang dibolehkan membiarkan bulu-bulu tersebut. Anas bin Malik rodhiyallohu’anhu berkata:

وُقِّتَ لَنَافِي قَصِّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمِ اْلأَظْفَارِوَنَتْفِ اْلإِبِطِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ أَنْ لاَنَتْرُكَ أَكْثَرَمِنْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Kami diberi batasan waktu dalam memotong kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan, yaitu agar bulu-bulu tersebut tidak dibiarkan lebih dari empat puluh malam.”
(HR. Muslim)

Keutamaan Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Sahabat yang dirahmati Allah  perlu kita sadari bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah amal yang paling utama. Dengan dasar diantaranya yaitu hadits Nabi  yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dia berkata .

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ : اَلصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ : قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ : بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ : قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ : اَلْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amal-amal yang paling utama dan dicintai Allah. Nabi  menjawab, Pertama shalat pada waktunya . kedua berbakti kepada kedua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah -st-.

Dengan demikian Sahabat, birul walidain atau berbakti kepada kedua orang tua adalah amalan unggulan dan yang paling utama.

Selain itu Sahabat, berbakti kepada kedua orang tua juga termasuk dalam rangka mencari keridhoan Allah. karena keridhoan Allah   tergantung dengan keridhoan orang tua terhadap kita.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari , Ibnu HIbban, Hakim dan Imam Tirmidzi disebutkan, bahwa Rasulullah bersabda.

رِضَا الرَبِّ فِى رِضَا الوَالِدِ و سُخْطُ الرَبِّ فِى سُخْطِ الوَالِدِ

“Ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua, dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.”

Kemudian, berbakti kepada kedua orang tua dapat menghilangkan kesulitan yang sedang dialami yaitu dengan cara bertawasul dengan amal shahih tersebut.

Di dalam kisah yang diriwayatkan di dalam shahih bukhori disebutkan bahwa ada tiga orang yang terjebak di dalam gua, yang mana mulut gua tertutup reruntuhan batu. kemudian setiap orang dari mereka bertawasul dengan amal unggulan mereka. Salah satu diantara mereka bertawasul dengan baktinya kepada kedua orang tuanya yang sudah renta. Sehingga setelah ketiganya selesai bertawasul, batu besar yang menutupi mulut gua terbuka sempurna.

Sahabat, Ini menunjukkan bahwa perbuatan berbakti kepada kedua orang tua yang pernah kita lakukan, dapat digunakan untuk bertawassul kepada Allah   ketika kita mengalami kesulitan.  Insya Allah kesulitan tersebut akan hilang. Berbagai kesulitan yang dialami seseorang saat ini, bisa jadi  diantaranya karena perbuatan durhaka kepada kedua orang tuanya.

Hendaknya kita selalu mengutamakan orang tua kita, bahkan melebihi sikap kita terhadap istri dan anak-anak kita. cinta dan pelayanan kita kepada istri dan anak-anak kita tidak boleh mengalahkan rasa cinta dan bakti kita kepada kedua orang tua.

Bahkan, Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma ketika diperintahkan oleh bapaknya untuk menceraikan istrinya,  ia bertanya kepada Rasulullah  dan Rasulullah   menjawab.“Ceraikan istrimu.”

Ini menunjukan bahwa ridho orang tua harus kita utamakan, selama apa yang diinginkan orang tua ada dalam jalur kebaikan yang tidak bertentangan dengan syariat dan masuk akal.

Kemudian selanjutnya, Dengan berbakti kepada kedua orang tua akan diluaskan rizki dan dipanjangkan umur.  Sebagaimana dalam hadits yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim,,dari sahabat Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi  bersabda.

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ، وَيَنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.

Dan Dalam silaturahmi, yang harus didahulukan adalah silaturahmi kepada kedua orang tua sebelum kepada yang lain.

Sahabat, dengan berbakti kepada orang tua, kita akan dimasukan ke dalam surganya Allah-st-. di dalam hadits Rasulullah  disebutkan bahwa anak yang durhaka tidak akan masuk surga.

Dan juga, Dosa-dosa yang Allah  segerakan adzabnya di dunia diantaranya adalah karena  berbuat zhalim dan durhaka kepada kedua orang tua.

Itulah Sahabat pemaparan tentang keutamaan berbakti kepada kedua orang tua. semoga kita termasuk diantara anak-anak yang berbakti kepada keduanya. amiin.

Wallahu a’lam.

Saling Mencinta Karena Alloh

Mencintai sesama muslim merupakan bentuk keimanan kepada Alloh subhanahu wata’ala. Kecintaan sesama muslim berawal dari kecintaan kepada Alloh subhanahu wata’ala. Sebab, Alloh subhanahu wata’ala telah memerintahkan setiap hamba-Nya yang beriman untuk mencintai sesama hamba beriman. Karenanya, pahala yang disediakan pun sangat besar nan agung.

Berkaitan dengan balasan bagi hamba yang mencintai karena Alloh subhanahu wata’ala, Imam at-Tirmidzi meriwayatkan hadits shahih dalam kitab sunannya:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: الْمُتَحَابُّونَ فِي جَلاَلِي لَهُمْ مَنَابِرُ مِنْ نُورٍ يَغْبِطُهُمُ النَّبِيُّونَ وَالشُّهَدَاءُ.

Muadz bin Jabal berkata, “Aku mendengar Rosululloh bersabda bahwa Alloh subhanahu wata’ala berfirman, ‘Orang-orang yang saling mencinta di bawah keagungan-Ku untuk mereka mimbar-mimbar (tempat yang tinggi) dari cahaya yang membuat para Nabi dan orang yang mati syahid.”
(HR. Tirmidzi)

Hadits ini termasuk ke dalam hadits qudsi, karena Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam menyandarkan sabdanya pada Alloh subhanahu wata’ala. Dalam hadits ini, terdapat penjelasan tentang keutamaan saling mencinta karena Alloh subhanahu wata’ala. Mencintai adalah amalan hati yang bisa mendatangkan kebaikan, mencinta bisa mempertebal keimanan dan mendatangkan pahala yang besar ketika cintanya karena Alloh subhanahu wata’ala.

Dua orang muslim yang saling mencinta karena Alloh subhanahu wata’ala, mereka akan menjalankan semua aktifitasnya berdasarkan ibadah pada Alloh subhanahu wata’ala. Saling mengunjungi karena Alloh, saling memberi karena Alloh, saling bertemu karena Alloh, saling mengajar karena Alloh dan lain sebagainya. Mereka menjadikan Alloh subhanahu wata’ala sebagai alasan aktifitas keseharian sehingga amalan yang mereka rencanakan dan mereka lakukan selalu menjadi landasan ibadah pada Alloh subhanahu wata’ala.

Di akhirat mereka akan duduk di atas mimbar-mimbar dari cahaya yang telah Alloh subhanahu wata’ala sediakan untuk mereka. Dalam hadits lain Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam bersabda:

الْمُتَحَابُّونَ فِي اللَّهِ عَلَى كَرَاسِيَّ مِنْ يَاقُوتٍ حَوْلَ الْعَرْشِ

“Orang-orang yang saling mencinta karena Alloh, mereka berada pada kursi-kursi Yaqut (permata) di sekitar ‘Arsy.”
(HR. ath-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir)

Karena begitu tinggi dan indahnya cahaya yang Alloh subhanahu wata’ala berikan kepada mereka yang saling mencinta karena Alloh, maka para Nabi dan Syuhada pun mengharapkan cayaha itu. Para Nabi dan Syuhada adalah orang-orang mulia dan mendapatkan kemuliaan yang besar di sisi Alloh subhanahu wata’ala, akan tetapi ketika melihat kemuliaan orang yang saling mencinta karena Alloh subhanahu wata’ala, timbul sifat ghibtoh pada mereka yaitu sifat mengharapkan mendapat kemuliaan sebagaimana orang lain yang mendapatkannya tanpa keinginan sedikitpun hilangnya kemuliaan itu dari orang tersebut.

Hadits ini menunjukkan betapa besarnya pahala dan balasan yang Alloh subhanahu wata’ala berikan pada mereka yang saling mencinta karena Alloh subhanahu wata’ala. Rasa ghibtoh yang menghampiri setiap hati para Nabi dan Syuhada kepada orang-orang yang saling mencintai, sama sekali tidak menunjukan mereka lebih baik dari Nabi dan Syuhada, hal ini sebagaimana seseorang yang memiliki rumah sangat mewah, indah dan luas, merasa senang dan mengharapkan rumah kawannya yang terlihat minimalis dan tersusun rapi, walaupun pada hakekatnya kualitas dan harganya serta kemewahannya berada jauh dari rumah yang dia miliki. Sifat ini tidak tercela selama tidak diiringi sifat hasad, yaitu sifat yang menjadikan pelakunya menginginkan kenikmatan orang lain disertai hilangnya kenikmatan orang itu darinya.

Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam bersabda dalam hadits qudsi, Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ، وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ، وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ، وَالْمُتَحَابُّونَ فِي اللهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ فِي ظِلِّ الْعَرْشِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

“Kecintaan-Ku berhak didapat oleh orang yang saling mencinta karena-Ku, saling memberi karena-Ku, dan saling mengunjungi karena-Ku. Orang-orang yang saling mencinta karena Alloh, akan berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, di bawah naungan ‘Arsyi ketika tidak ada naungan keculi naungan-Nya.”
(HR. Ahmad)

Sungguh Maha luas rahmat Alloh subhanahu wata’ala, ketika kecintaan-Nya diberikan kepada setiap orang yang saling mencinta karena-Nya. Ketika Alloh subhanahu wata’ala sudah mencintai hamba-Nya, ini berarti hamba itu telah selamat dari murka-Nya. Hamba itu tidak akan pernah diazab oleh Alloh yang Maha Rohman, sebab Alloh subhanahu wata’ala tidak akan mengadzab hamba yang dicinta-Nya. Kecintaan Alloh subhanahu wata’ala tidak diperoleh hanya karena pengakuan seorang hamba, oleh karena itu Yahudi dan Nasrani yang mengklaim dicintai oleh Alloh subhanahu wata’ala justru akan diazab oleh-Nya karena kekufuran keduanya.

Alloh subhanahu wata’ala berfirman:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

“Orang-orang Yahudi dan Nasroni mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Alloh dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Alloh menyiksa kalian karena dosa-dosa kalian?” (Kalian bukanlah anak-anak Alloh dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kalian adalah manusia(biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya dan Alloh mengampuni siapa saja yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya…”
(QS. al-Maidah [05]: 18)

 Pembahasan hadits ini, memberikan pelajaran yang begitu berharga kepada kita. Di antaranya:

  1. Saling mencintai karena Alloh subhanahu wata’ala adalah satu ibadah besar di sisi Alloh subhanahu wata’ala dan akan mendatangkan keutamaan-keutamaan besar.
  2. Tempat tinggi di akhirat nanti akan Alloh berikan kepada mereka yang di dunianya saling mencinta karena-Nya.
  3. Orang yang mencinta karena Alloh termasuk golongan orang akan mendapat naungan dari Alloh subhanahu wata’ala pada hari tidak ada naungan kecuali naungan dari-Nya, naungan ini sangat dibutuhkan oleh setiap hamba pada waktu itu, karena matahari yang sangat panas didekatkan oleh Alloh subhanahu wata’ala di atas kepala hamba-hamba-Nya sehingga sebagian orang akan tenggelam dengan keringatnya sendiri.
  4. Keutamaan terbesar bagi orang yang mencinta karena Alloh akan mendapatkan kecintaan dari Alloh subhanahu wata’ala, sehingga ia akan mendapatkan surga-Nya dan terhindar dari neraka-Nya.

Wallohu a’lam…

Ta’awudz Dan Basmalah

Sebelum seseorang membahas tafsir ayat-ayat al-Qur’an, sebaiknya ia memahami terlebih dahulu makna ta’awudz dan basmalah. Karena keduanya senantiasa dibaca oleh seseorang yang akan membaca al-Qur’an.

Adapun yang dimaksud dengan Ta’awudz adalah perkataan:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Artinya,
“Aku berlindung kepada Alloh dari godaan setan yang terkutuk.”  

Makna kalimat tersebut adalah, “Aku berlindung kepada Alloh subhanahu wata’ala dari kejelekan godaan setan agar dia tidak menimpakan bahaya kepadaku dalam urusan agama maupun duniaku.”

Setan selalu menempatkan dirinya sebagai musuh bagi kalian. Oleh sebab itu, maka jadikanlah diri kalian sebagai musuh baginya. Setan bersumpah di hadapan Alloh subhanahu wata’ala untuk menyesatkan umat manusia. Alloh subhanahu wata’ala menceritakan sumpah setan ini di dalam Al-Quran:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِيْنَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ

“Demi kemuliaan-Mu sungguh aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang taat di antara hamba-hamba-Mu.”
(QS. Shod [38]: 82-83)

Dengan demikian tidak ada yang bisa selamat dari jerat-jerat setan kecuali orang-orang yang diselamatkan oleh Alloh subhanahu wata’ala.

Isti’adzah atau ta’awwudz merupakan bentuk permohonan perlindungan diri kepada Alloh subhanahu wata’ala, dan hal ini termasuk bagian dari ibadah. Karena pada hakikatnya hanya Alloh subhanahu wata’ala yang dapat melindungi seorang hamba dari godaan setan yang terkutuk.

Oleh sebab itu ta’awudz tidak boleh ditujukan kepada selain Alloh subhanahu wata’ala. Karena menujukan ibadah kepada selain Alloh subhanahu wata’ala adalah kesyirikan.

Orang yang baik tauhidnya akan senantiasa merasa khawatir kalau-kalau dirinya terjerumus ke dalam kesyirikan. Sebagaimana Nabi Ibrohim ‘alaihissalam yang sangat takut kepada kesyirikan sampai-sampai beliau berdoa kepada Alloh subhanahu wata’ala. Hal ini sebagaimana firman Alloh subhanahu wata’ala:

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ

“Jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan kepada berhala.”
(QS. Ibrohim [14]: 35)

Ini menunjukkan bahwa tauhid yang kokoh akan menjadikan kelezatan di dalam hati kaum mukminin. Orang-orang yang bisa merasakan kelezatannya hanyalah mereka yang benar-benar memahami makna-maknanya.

Harus diketahui bahwa setan yang berusaha menyesatkan umat manusia ini terdiri dari golongan jin dan manusia. Hal ini sebagaimana disebutkan Alloh subhanahu wata’ala di dalam ayat berikut:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّاً شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوراً

“Demikianlah Kami jadikan musuh bagi setiap nabi berupa setan dari golongan manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain ucapan-ucapan yang indah untuk memperdaya manusia.
(QS. alAn’am [6]: 112)

Adapun bacaan basmalah adalah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Artinya,
“Dengan menyebut nama Alloh yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”

Makna dari bacaan ini yaitu, “Aku memulai bacaanku ini seraya meminta keberkahan dengan menyebut seluruh nama Alloh.” 

Meminta keberkahan kepada Alloh subhanahu wata’ala artinya meminta tambahan kebaikan dan peningkatan amal solih serta pahalanya yang akan mengantarkan dirinya ke dalam surga.

Semua keberkahan adalah milik Alloh subhanahu wata’ala. Dia-lah yang memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Jadi, keberkahan bukanlah milik manusia, yang bisa mereka berikan kepada siapa saja yang mereka kehendaki.

Alloh subhanahu wata’ala adalah satu-satunya yang berhak diibadahi dengan rasa cinta, takut, dan harap. Segala bentuk ibadah hanya ditujukan kepada-Nya.

Adapun ar-Rohman dan ar-Rohim adalah dua nama Alloh subhanahu wata’ala di antara sekian banyak Asma’ul Husna yang dimiliki-Nya. Makna ar-Rohman dan ar-Rohim adalah Alloh subhanahu wata’ala memiliki kasih sayang yang begitu luas dan agung. Rahmat Alloh subhanahu wata’ala meliputi segala sesuatu. Akan tetapi, Alloh subhanahu wata’ala hanya melimpahkan rahmat-Nya yang sempurna kepada hamba-hamba yang bertakwa dan mengikuti ajaran para Nabi dan Rosul.

Mereka inilah orang-orang yang akan mendapatkan rahmat yang mutlak. Yaitu rahmat yang akan mengantarkan mereka menuju kebahagiaan abadi. Adapun orang yang tidak bertakwa dan tidak mengikuti ajaran Nabi  maka dia akan terhalangi mendapatkan rahmat yang sempurna ini.

Surat pertama dalam al-Qur`an adalah surat al-Fatihah. Surat ini mempunyai banyak keutamaan, di antaranya:

Pertama, Membaca surat al-Fatihah Adalah salah satu Rukun Sholat.

Nabi shollallohu’alaihi wasallam bersabda:

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak ada sholat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab atau surat alFatihah.” 
(HR. Bukhori dan Muslim)

Dalam hadis yang lain, beliau shollallohu’alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ

“Barangsiapa yang shalot tidak membaca Ummul Qur’an atau surat alFatihah, maka sholatnya cacat.
(HR. Muslim)

Makna dari khidaaj adalah cacat atau kurang, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama. Berdasarkan hadis tersebut dan hadis sebelumnya, para imam seperti Imam Malik, Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal, dan para sahabatnya, serta mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum membaca surat al-Fatihah di dalam sholat adalah wajib; tidak sah sholat tanpa membacanya.

Kedua, surat al-Fatihah adalah surat paling agung dalam al-Qur’an.

Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Sa’id Rofi’ Ibnul Mu’alla rodhiyallohu’anhu, yang mengatakan bahwa Rosululloh shollallohu’alaihi wasallam bersabda kepadaku:

أَلَا أُعَلِّمُكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ الْمَسْجِدِ فَأَخَذَ بِيَدِي فَلَمَّا أَرَدْنَا أَنْ نَخْرُجَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ قُلْتَ لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ مِنْ الْقُرْآنِ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ

“Maukah kamu aku ajari sebuah surat yang paling agung dalam alQuran sebelum kamu keluar dari masjid?” Maka beliau  berjalan sembari menggandeng tanganku. Tatkala kami sudah hampir keluar dari masjid, maka aku pun berkata; Wahai Rosululloh, tadi Anda bersabda, “Aku akan mengajarimu sebuah surat yang paling agung dalam alQuran?” Maka beliau  bersabda, “Surat itu adalah Alhamdulillaahi Robbil alamiin, itulah yang disebut dengan AsSab’ul Matsaani atau tujuh ayat yang sering diulang-ulang dalam sholat. Disebut pula dengan alQuranul ‘Azhim yang dikaruniakan kepadaku.”
(HR. Bukhori)

Demikianlah penjelasan singkat tentang Ta’awudz dan Basmalah, semoga bermanfaat, Amin. Wallohu ta’ala a’lam…

Tulang : Pabrik untuk Memproduksi Darah

 Al-Qur’an Al-Karim mendahului sains ratusan tahun dalam menentukan pentingnya tulang pada manusia. Dalam surah Maryam, Nabi Zakariya berdoa kepada Rabbnya untuk memberinya keturunan terlepas dari fakta bahwa istrinya adalah wanita tua yang mandul dan tulangnya sudah lemah (karena tua). Alloh SWT berfirman dalam Al-Qur’an Al-Karim mengenai doa Nabi Zakariya:

          “Ia berkata ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada engkau, Ya Tuhanku.’ “ (QS. Maryam: 4)

Dalam ayat ini, Al-Qur’an merujuk kepada hubungan antara tulang dan fertilitas. Sains modern kini telah mengonfirmasi bahwa tulang memiliki fungsi yang penting dalam kehidupan manusia. Tulang mengandung semua fosfor dan kalsium yang diperlukan tubuh, kemudian mengatur distribusinya dengan cara mengatur denyut jantung dan gerakan otot.

Selama masa hidupnya tulang secara terus menerus menghasilkan sel darah seperti leukosit dan eritrosit. Sains modern juga telah menentukan bahwa kondisi dari tulang memiliki pengaruh langsung terhadap sistem saraf. Karena itulah tulang berdampak langsung pada kemampuan seseorang untuk bereproduksi dan memiliki anak. Hal inilah yang dengan tepat disebutka oleh Al-Qur’an.