artikel-lain tentang al quran Archives - Yayasan Takrimul Quran

Yayasan Takrimul Quran

Melepaskan Kesusahan dan Menutupi Aib Seorang Muslim Al-Huda Peduli

Melepaskan Kesusahan dan Menutupi Aib Seorang Muslim Takrimul Quran

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang susah, Allah akan mudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim, no. 2699)

Tafsir Al-Fatihah, ayat 4

{مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) }

Yang Menguasai hari pembalasan.
Sebagian ulama qiraah membacanya مَلِك, sedangkan sebagian yang lain membacanya مَالِكِ; kedua-duanya sahih lagi mutawatir di kalangan As-Sab’ah.
Lafaz maliki dengan huruf lam di-kasrah-kan, ada yang membacanya malki dan maliki. Sedangkan menurut bacaan Nafi’, harakat kasrah huruf kaf dibaca isyba’ hingga menjadi malaki yaumid din (مَلَكِي يَوْمِ الدِّينِ).
Kedua bacaan tersebut (malaki dan maliki) masing-masing mempunyai pendukungnya tersendiri ditinjau dari segi maknanya; kedua bacaan tersebut sahih lagi baik. Sedangkan Az-Zamakhsyari lebih menguatkan bacaan maliki, mengingat bacaan inilah yang dipakai oleh ulama kedua Kota Suci (Mekah dan Madinah), dan karena firman-Nya

لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ

Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini? (Al-Mu’min: 16)

قَوْلُهُ الْحَقُّ وَلَهُ الْمُلْكُ

Dan benarlah perkataan-Nya dan di tangan kekuasaan-Nyalah segala sesuatu (Al-An’am: 75)
Telah diriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa ia membaca malaka yaumidin (مَلَكَ يوم الدين) atas dasar anggapan fi’il, fa’il, dan maful, tetapi pendapat ini menyendiri lagi aneh sekali.
Abu Bakar ibnu Abu Daud meriwayatkan —sehubungan dengan bacaan tersebut— sesuatu yang garib (aneh), mengingat dia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Abdur Rahman Al-Azdi, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab ibnu Addi ib-aul Fadl. dari Abul Mutarrif, dari Ibnu Syihab yang telah mendengar hadits bahwa Rasulullah Saw., Abu Bakar. Umar, dan Usman serta Mu’awiyah dan anaknya —yaitu Yazid ibnu Mu’awiyah— membaca maaliki yaumid din. Ibnu Syihab mengatakan bahwa orang yang mula-mula membaca maliki adalah Marwan (Ibnul Hakam). Menurut kami, Marwan mengetahui kesahihan apa yang ia baca, sedangkan hal ini tidak diketahui oleh Ibnu Syihab.
Telah diriwayarkan sebuah hadis melalui berbagai jalur periwayatan yang diketengahkan oleh Ibnu Murdawaih, bahwa Rasulullah Saw. membacanya maliki yaumid din. Lafaz malik diambil dari kata al-milku, seperti makna yang terkandung di dalam firman-Nya:

إِنَّا نَحْنُ نَرِثُ الْأَرْضَ وَمَنْ عَلَيْها وَإِلَيْنا يُرْجَعُونَ

Sesungguhnya Kami memiliki bumi dan semua orang-orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kami-lah mereka dikembalikan. (Maryam: 40)

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ

Katakanlah,  “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Pemilik manusia. (An-Nas: 1-2)
Sedangkan kalau maliki diambil dari kata al-mulku, sebagaimana pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:

لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْواحِدِ الْقَهَّارِ

Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini? Hanya kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. (Al-Mu’min: 16)

قَوْلُهُ الْحَقُّ وَلَهُ الْمُلْكُ

Benarlah perkataan-Nya. dan di tangan kekuasaan-Nyalah segala kekuasaan. (Al-An’am: 73)

الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ لِلرَّحْمنِ وَكانَ يَوْماً عَلَى الْكافِرِينَ عَسِيراً

Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan adalah (hari itu) suatu hari yang penuh dengan kesukaran bagi orang-orang kafir. (Al-Furqan: 26)
Pengkhususan sebutan al-mulku (kerajaan) dengan yaumid din (hari pembalasan) tidak bertentangan dengan makna lainnya, mengingat dalam pembahasan sebelumnya telah diterangkan bahwa Allah adalah Tuhan semesta alam, yang pengertiannya umum mencakup di dunia dan akhirat. Di-mudaf-kan kepada lafaz yaumid din karena tiada seorang pun pada hari itu yang mendakwakan sesuatu, dan tiada seorang pun yang dapat angkat bicara kecuali dengan seizin Allah Swt, sebagaimana dinyatakan di dalam firman-Nya:

يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلائِكَةُ صَفًّا لَا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمنُ وَقالَ صَواباً

Pada hari ketika roh dan malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata. kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar. (An-Naba’: 38)

وَخَشَعَتِ الْأَصْواتُ لِلرَّحْمنِ فَلا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْساً

dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja. (Thaha: 108)

يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ

Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya. maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. (Hud: 105)
Dahhak mengatakan dari Ibnu Abbas, bahwa maliki yaumid din artinya “tiada seorang pun bersama-Nya yang memiliki kekuasaan seperti halnya di saat mereka (raja-raja) masih hidup di dunia pada hari pembalasan tersebut”.
Ibnu Abbas mengatakan, yaumid din adalah hari semua makhluk menjalani hisab, yaitu hari kiamat; Allah membalas mereka sesuai dengan amal perbuatannya masing-masing. Jika amal perbuatannya baik, balasannya baik; dan jika amal perbuatannya buruk, maka balas-annya pun buruk, kecuali orang yang mendapat ampunan dari Allah Swt. Hal yang sama dikatakan pula oleh selain Ibnu Abbas dari kalangan para sahabat, para tabi’in, dan ulama Salaf; hal ini sudah jelas.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari sebagian mereka bahwa tafsir dari firman-Nya, “Maliki yaumid din,” ialah “Allah Mahakuasa untuk mengadakannya”. Tetapi Ibnu Jarir sendiri menilai pendapat ini daif (lemah). Akan tetapi, pada lahiriahnya tidak ada pertentangan antara pendapat ini dengan pendapat lainnya yang telah disebutkan terdahulu. Masing-masing orang yang berpendapat demikian dan yang sebelumnya mengakui kebenaran pendapat lainnya serta tidak mengingkari kebenarannya, hanya saja konteks ayat lebih sesuai bila diartikan dengan makna pertama di atas tadi dibandingkan dengan pendapat yang sekarang ini, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

{الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ لِلرَّحْمَنِ وَكَانَ يَوْمًا عَلَى الْكَافِرِينَ عَسِيرًا}

Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan adalah (hari itu) suatu hari yang penuh dengan kesukaran bagi orang-orang kafir. (Al-Furqan: 26)
Sedangkan pendapat kedua pengertiannya mirip dengan makna yang terkandung di dalam firman-Nya:

{وَيَوْمَ يَقُولُ كُنْ فَيَكُونُ}

Pada hari Dia mengatakan, “Jadilah!, lalu terjadilah. (Al-An’am: 73)
Pada hakikatnya raja yang sesungguhnya adalah Allah Swt., seperti yang dinyatakan di dalam firman-Nya:

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera. (Al-Hasyr: 23)
Di dalam hadis Sahihain disebutkan melalui Abu Hurairah r.a. secara marfu’:

«أَخْنَعُ اسْمٍ عِنْدَ اللَّهِ رَجُلٌ تَسَمَّى بِمَلِكِ الْأَمْلَاكِ وَلَا مَالِكَ إِلَّا اللَّهُ  »

Nama yang paling rendah di sisi Allah ialah seorang yang menamakan dirinya dengan panggilan Malikid Amlak. sedangkan tiada raja selain Allah.
Di dalam kitab Sahihain disebutkan pula bahwa Rasulullah Saw. Bersabda

«يَقْبِضُ اللَّهُ الْأَرْضَ وَيَطْوِي السَّمَاءَ بِيَمِينِهِ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ ملوك الْأَرْضِ؟ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟ »

Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya, kemudian berfirman, “Aku-lah Raja. Sekarang mana raja-raja bumi, mana orang-orang yang diktator, mana orang-orang yang angkuh?”
Di dalam Al-Qur’an disebutkan melalui firman-Nya:

لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْواحِدِ الْقَهَّارِ

Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini? Hanya kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. (Al-Mu’min: 16)
Adapun mengenai nama lainnya di dunia ini dengan memakai sebutan malik, yang dimaksud adalah “nama majaz”. bukan nama dalam arti yang sesungguhnya, sebagaimana yang dimaksud di dalam firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طالُوتَ مَلِكاً

Sesungguhnya Allah telah mengangkat Talut menjadi raja kalian. (Al-Baqarah: 247)

وَكانَ وَراءَهُمْ مَلِكٌ

karena di hadapan mereka ada seorang raja. (Al-Kahfi: 79)

إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِياءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكاً

ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antara kalian, dan dijadikan-Nya kalian sebagai raja-raja (orang-orang yang merdeka). (Al-Maidah: 20)
Di dalam sebuah hadis Sahihain disebutkan:

«مِثْلُ الْمُلُوكِ عَلَى الْأَسِرَّةِ»

seperti raja-raja yang berada di atas dipan-dipannya (singgasana).
Ad-din artinya “pembalasan dan hisab”, sebagaimana yang disebut di dalam firman lainnya, yaitu:

يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ

Di hari itu Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya. (An-Nur: 25)

أَإِنَّا لَمَدِينُونَ

apakah  sesungguhnya  kita  benar-benar  (akan  dibangkitkan) untuk diberi pembalasan? (Ash-Shaffat: 53)
Makna yang dimaksud ialah mendapat balasan yang setimpal dan dihisab.
Di dalam sebuah hadis disebutkan:

«الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ»

Orang yang pandai ialah orang yang melakukan perhitungan terhadap dirinya sendiri dan beramal untuk bekal sesudah mati.
Makna yang dimaksud ialah “hisablah dirimu sendiri“, sebagaimana yang dikatakan Khalifah Umar r.a.. yaitu: “Hisablah diri kalian sendiri sebelum dihisab dan timbanglah amal perbuatan kalian sebelum ditimbang, dan bersiap-siaplah (berbekallah) untuk menghadapi peradilan yang paling besar di hadapan Tuhan yang tidak samar bagi-Nya semua amal perbuatan kalian,” seperti yang dinyatakan di dalam Firman-Nya:

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفى مِنْكُمْ خافِيَةٌ

Pada hari itu kalian dihadapkan (kepada Tuhan kalian). Tiada sesuatu pun dari keadaan kalian yang tersembunyi (bagi-Nya).(Al-Haqqah: 18)

 

Tafsir Al-Fatihah, ayat 2 Bag 3

Tawil Kalimat Rabul Alamain
[القول في تأويل رَبِّ الْعالَمِينَ]
Istilah “Rabb” artinya “pemilik yang berhak ber-tasarruj”, menurut istilah bahasa diucapkan menunjukkan arti tuan dan orang yang ber-tasarruj untuk perbaikan. Pengertian tersebut masing-masing sesuai dengan hak Allah Swt. Lafaz Rabb tidak dapat dipakai untuk selain Allah Swt, melainkan di-mudaf-kan. Untuk itu, katakanlah olehmu Rabbud Dar (pemilik rumah) dan Rabb Kaza (pemilik anu). Lafaz Rabb yang dimaksudkan adalah Allah Swt, hanya dipakai tanpa mudaf. Menurut suatu pendapat. lafaz Rabb adalah Ismul A ‘zam.
Al-‘alamina bentuk jamak dari ‘alamun, artinya “semua yang ada selain Allah Swt.”; dan lafaz ‘alamun sendiri bentuk jamak yang tidak ada bentuk tunggal dari lafaz aslinya. Sedangkan lafaz al-‘awalim artinya “berbagai macam makhluk yang ada di langit, di daratan, di laut”, dan setiap generasi dari semua jenis makhluk tersebut dinamakan ‘alam pula.
Bisyr ibnu Imarah meriwayatkan dari Abu Rauq, dari Dahhak, dari Ibnu Abbas, bahwa “segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam” artinya ialah “segala puji bagi Allah yang semua makhluk ini adalah milik-Nya, yaitu langit, bumi, dan yang ada di antara keduanya, baik yang kita ketahui ataupun yang tidak kita ketahui.
Di dalam riwayat Sa’id ibnu Jubair dan Ikrimah, dari Ibnu Abbas, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan Rabbul ‘alamina ialah Tuhan jin dan manusia. Hal yang sama dikatakan pula oleh Sa’id ibnu Jubair, Mujahid, dan Ibnu Juraij. Hal yang semisal telah diriwayatkan pula dari Ali k.w. Menurut Ibnu Abu Hatim, sanad asar tersebut tidak dapat dipegang.
Al-Qurtubi mengatakan demikian (yakni jin dan manusia) dengan berdalilkan firman Allah Swt. yang mengatakan:
لِيَكُونَ لِلْعالَمِينَ نَذِيراً
agar dia (Al-Qur’an) menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (Al-Furqan: 1)
Makna yang dimaksud dengan “seluruh alam” ialah makhluk jin dan manusia.
Al-Farra dan Abu Ubaid mengatakan, yang dimaksud dengan al-‘alam ialah ditujukan kepada makhluk yang berakal; mereka adalah manusia, jin, malaikat, dan setan. Untuk itu, semua jenis binatang tidak dapat dikatakan ‘alam. Disebutkan dari Zaid ibnu Aslam dan Abu Muhaisin, bahwa ‘alam artinya “setiap makhluk bernyawa yang berkembang biak.”
Qatadah mengatakan bahwa al-‘alam adalah setiap jenis alam.
Al-Hafiz ibnu Asakir mengatakan di dalam autobiografi Marwan ibnu Muhammad —salah seorang khalifah dari kalangan Bani Umayyah yang dikenal dengan julukan “Al-Ja’d” dan sebutan “Al-Himar”— bahwa dia pernah mengatakan, “Allah menciptakan tujuh belas ribu alam, penduduk langit dan penduduk bumi digolongkan satu alam, sedangkan yang lainnya tiada seorang pun yang mengetahuinya kecuali hanya Allah Swt.”
Abu Ja’far Ar-Razi mengatakan dari Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari Abul Aliyah sehubungan dengan firman-Nya, “Rabbil ‘alamina”bahwa Anas pernah mengatakan, “Manusia merupakan alam, dan jin adalah alam, sedangkan selainnya terdiri atas 18.000 atau 14.000 —dia ragu— alam malaikat yang ada di atas bumi. Bumi mempunyai empat penjuru, pada tiap-tiap juru terdapat 3.500 alam (malaikat) yang telah diciptakan oleh Allah Swt. untuk beribadah kepada-Nya.” Asar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim. Akan tetapi, kalimat seperti ini aneh; hal yang seperti ini memerlukan adanya dalil yang sahih.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Khalid, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim, telah menceritakan kepada kami Al-Furat (yakni Ibnul Walid), dari Mu’tib ibnu Sumai, dari Subai’ (yakni Al-Himyari) sehubungan dengan firman-Nya, “Rabbil ‘alamina.” bahwa al-alamina terdiri atas seribu umat: enam ratus berada di dalam laut, sedangkan empat ratus berada di darat.
Hal semisal diriwayatkan pula melalui Sa’id ibnul Musayyab, dan hal yang semisal ini diriwayatkan pula secara marfu’, seperti yang dikatakan oleh Al-Hafiz Abu Ya’la Ahmad ibnu Ali ibnul Mu-sanna di dalam kitab Musnad-nya, bahwa:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ وَاقِدٍ الْقَيْسِيُّ، أَبُو عَبَّادٍ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى بْنِ كَيْسَانَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ المنْكَدِر، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: قَلَّ الْجَرَادُ فِي سَنَةٍ مِنْ سِنِي عُمَرَ الَّتِي وَلِيَ فِيهَا فَسَأَلَ عَنْهُ، فَلَمْ يُخْبَرْ بِشَيْءٍ، فَاغْتَمَّ لِذَلِكَ، فَأَرْسَلَ رَاكِبًا يَضْرِبُ إِلَى الْيَمَنِ، وَآخَرَ إِلَى الشَّامِ، وَآخَرَ إِلَى الْعِرَاقِ، يَسْأَلُ: هَلْ رُئِيَ مِنَ الْجَرَادِ شَيْءٌ أَمْ لَا؟ قَالَ: فَأَتَاهُ الرَّاكِبُ الَّذِي مِنْ قِبَلِ الْيَمَنِ بِقَبْضَةٍ مِنْ جَرَادٍ، فَأَلْقَاهَا بَيْنَ يَدَيْهِ، فَلَمَّا رَآهَا كَبَّرَ، ثُمَّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم يقول: “خَلَقَ اللَّهُ أَلْفَ أُمَّةٍ، سِتُّمِائَةٍ فِي الْبَحْرِ وَأَرْبَعُمِائَةٍ فِي الْبَرِّ، فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَهْلِكُ مِنْ هَذِهِ الْأُمَمِ الْجَرَادُ، فَإِذَا هَلَكَ تَتَابَعَتْ مِثْلَ النِّظَامِ إِذَا قُطِعَ سِلْكُهُ”
telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Ubaid ibnul Waqid Al-Qaisi Abu Ibad, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Isa ibnu Kaisan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Munkadir, dari Jabir ibnu Abdullah yang mengatakan, “Pada suatu tahun dari masa pemerintahan Khalifah Umar, belalang berkurang jumlahnya. Lalu ia bertanya-tanya mengenai hal itu, tetapi tidak ada seorang pun yang menjawabnya, maka hal itu membuatnya kurang puas. Lalu ia mengirimkan seorang pengendara kuda untuk pergi ke negeri Yaman, seorang lagi menuju ke negeri Syam, dan yang seorang lagi menuju ke negeri Irak untuk menanyakan apakah ada belalang atau tidak di tempat tujuan masing-masing. Kemudian datang kepadanya pengendara dari Yaman membawa segenggam belalang, lalu utusan itu meletakkannya di hadapan Umar. Ketika Umar melihatnya, maka ia bertakbir, kemudian berkata, ‘Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. Bersabda: ‘Allah telah menciptakan seribu umat, enam ratus umat berada di laut dan yang empat ratus umat berada di daratan. Mula-mula umat yang binasa dari kesemuanya itu adalah belalang; apabila belalang musnah, maka merambat secara beruntun sebagaimana sebuah untaian kalung yang terputus talinya.”
Muhammad ibnu Isa yang disebut di dalam sanad asar ini adalah Al-Hilali, dia orangnya daif.
Al-Bagawi meriwayatkan dari Sa’id ibnul Musayyab bahwa dia pernah mengatakan.”Allah telah menciptakan seribu alam. enam ratus berada di lautan, sedangkan yang empat ratus berada di daratan.”
Wahab ibnu Munabbih mengatakan bahwa Allah telah menciptakan 18.000 alam, dunia ini merupakan salah satunya.
Muqatil mengatakan bahwa alam-alam itu seluruhnya ada 80.000. Ka’b Al-Ahbar mengatakan, tiada seorang pun yang mengetahui bilangan alam kecuali hanya Allah Swt. Semua yang telah disebutkan ini dinukil oleh Al-Bagawi.
Al-Qurtubi meriwayatkan melalui Abu Sa’id Al-Khudri yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan 40.000 alam, sedangkan dunia ini dari timur hingga barat merupakan salah satu darinya.
Az-Zujaj mengatakan bahwa al-‘alam ialah semua yang telah diciptakan oleh Allah di dunia dan akhirat. Demikian pendapat Al-Qurtubi, dan pendapat inilah yang sahih, yaitu yang mengatakan pengertian alam mencakup kedua alam tersebut (dunia dan akhirat), sebagaimana yang dinyatakan di dalam firman-Nya (menurut bacaan orang yang membaca al-‘alamina menjadi al-‘alamaini), yaitu:
قالَ فِرْعَوْنُ وَما رَبُّ الْعالَمِينَ. قالَ رَبُّ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ وَما بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ
“Fir’aun bertanya, ‘Siapa Tuhan kedua alam itu?’ Musa menjawab, Tuhan pencipta langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya (itulah Tuhanmu), jikakamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya’.” (Asy-syuara 23)
Al-‘alam berakar dari kata al-‘alamah. Menurut kami, dikatakan demikian karena adanya alam ini menunjukkan adanya Penciptanya, hasil karya-Nya dan keesaan-Nya. sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Mu’taz:
فَيَا عَجَبًا كَيْفَ يُعْصَى الْإِلَهُ … أَمْ كَيْفَ يَجْحَدُهُ الْجَاحِدُ
وَفِي كُلِّ شَيْءٍ لَهُ آيَةً … تَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ وَاحِدُ
Alangkah anehnya, mengapa durhaka terhadap Tuhan, atau mengapa si pengingkar tidak mempercayai-Nya, padahal pada segala sesuatu yang ada terdapat tanda yang menunjukkan bahwa Dia adalah Esa

http://www.ibnukatsironline.com

Syahdunya puasa ramadhan

Setiap umat memiliki fase-fase sejarah dan peristiwa “sakral” lagi penting yang diperingati dengan cara-cara tertentu, karena masing-masing memandang bahwa peristiwa penting tersebut titik atau persimpangan yang membawa perubahan dalam perjalanan sejarahnya. Umat Islam juga demikian  ia melewati sejarah perjalanan umat manusia secara umum, diantaranya adalah sejarah peristiwa turunnya Al-Qur’an Al-Karim, sebagai kitab yang manusia tidak akan mendapati sepertinya, dan sama sekali tidak memiliki tandingan.

Alloh telah menghendaki Al-Qur’an ini diturunkan pada bulan Ramadhan (bulan ke 9 dari kalender Hijriyah), sebagaimana dalam firmannya:

“Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an” (Q.S. Al-Baqarah : 185)

Karena turunya Al-Qur’an merupakan suatu karunia besar, maka kewajiban kita terhadap karunia tersebut adalah menghaturkan rasa syukur kepada Rabb subhanahuwata’ala, yaitu diantaranya dengan mengerjakan amal shalih, sehingga berangkat dari sinilah umat islam melakukan ibadah puasa dalam bulan ramadhan sebagai bentuk ketaatan terhadap perintah-Nya, dan pelaksanaan yang diwajibkan atas mereka.

Puasa Ramadhan ini diwajibkan setiap tahun atas setiap muslim dan muslimah (selain wanita haid dan nifas), yang dewasa dan berakal. Alloh Ta’ala berfirman,

“Wahai orang–orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa” (Q.S. Al-Baqarah:183)

Ayat ini mengisyaratkan secara gamblang tentang hikmah dan tujuan utama syariat puasa ini yaitu agar meraih sifat taqwa, ketaqwaan ini tempatnya ada didalam hati dan merupakan pendorong seorang hamba untuk mengerjakan amal sholih dan menjauhi hal-hal selainnya. Ibadah puasa ini telah dimasukkan oleh Rasulalloh SAW sebagai salah satu rukun islam terbesar sebagaimana dalam sabdanya: “Islam ini dibangun diatas lima perkara: kesaksian bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Alloh dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh, mendirikan sholat, membayar zakat, menuanaikan haji dan melaksanakan puasa Ramadhan.”

Karena faktor kondisi seorang hamba yang kadang mendapatkan berbagai halangan dalam hidupnya, maka Allah membolehkan bagi setiap muslim atau muslimah untuk tidak berpuasa bila berada dalam kondisi tersebut yang menyulitkan dirinya bila berpuasa, dengan syarat mengganti puasa yang ditinggalkannya tersebut pada hari-hari lain diluar Ramadhan. Diantara kondisi atau halangan tersebut adalah kondisi safar atau sakit. Orang yang safar atau sakit dibolehkan baginya untuk tidak berpuasa dalam bulan Ramadhan, namun ia harus mengganti puasanya tersebut diwaktu lain yang ia kehendaki, sebab Allah menginginkan adanya kemudahan bagi umat islam, dan tidak menginginkan kesulitan, sebagaimana firman-Nya:

 

 

Artinya : “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS Al-Baqarah: 185)

 

Definisi puasa ini adalah menahan diri dari pembatal-pembatal puasa sejak azan shalat subuh (terbitnya fajar kedua) hingga terbenamnya matahari. Pembatal-pembatal utama puasa ada 3 yaitu: makan, minum, dan jimak. Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk menahan diri dari 3 pembatal ini selama siang hari bulan Ramadhan hingga terbenamnya matahari pada hari itu. Kemudian setelah itu dibolehkan baginya untuk makan, minum atau melakukan jimak hingga waktu azan shalat subuh keesokan harinya, dan demikian seterusnya hingga Ramadhan berakhir.

 

Selain  memiliki  keutamaan  memenuhi  perintah Allah,  puasa  juga  memiliki keutamaan lain yaitu berupa adanya fadhilah besar dan pahala yang banyak dalam mengerjakannya, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

 

 

Artinya:  “Barangsiapa  yang berpuasa (di Bulan)  Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan (pahala dan keridhaan Allah), maka dia akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim)

 

Makna “keimanan” dalam hadis ini adalah keyakinan bahwa Allah benar-benar telah mewajibkannya, dan makna “mengharapkan pahala” adalah bahwa ia berpuasa hanya dengan tujuan mengharapkan pahala dan keridhaan Allah semata. Sungguh betapa besar fadhilah puasa ini, sehingga segala maksiat, dosa, dan kelalaian yang pernah  dilakukan  seorang  muslim  sebelumnya  Allah  pasti  mengampuninya  jika

 

konsisten   dalam   mengerjakan   puasa   ramadhan   dengan   penuh   keimanan   dan mengharapkan pahala dan keridhaan Allah.

 

Karena tujuan utama puasa ini adalah mewujudkan hakikat taqwa maka Allah ta’ala telah menganjurkan umat islam agar membekali diri dengan banyak amal shalih terkhusus lagi dalam bulan Ramadhan ini, sehingga Dia pun mensyariatkan adanya shalat malam (tarawih) yang dikerjakan dalam malam-malam Ramadhan, dan memotivasi mereka untuk melaksanakannya, Rasulullah bersabda:

 

Artinya: “Barangsiapa yang berdiri (menunaikan shalat) di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni”.(HR Bukhari dan Muslim.)

 

Dianjurkan pula untuk mengerjakan amalan-amalan shalih lainnya semisal sedekah, bacaan Al-Quran dengan tadabbur, banyak membaca tasbih (subhaanallaah), tahmid (Alhamdulillah), tahlil (laailaaha illallaah), takbir (allaahu akbar), dan istighfar (astaghfirullah), serta berbuat baik kepada fakir miskin dan anak-anak yatim. Sebaliknya,   Rasulullah   shallallahu’alaihi   wasallam   juga   memperingatkan   dari amalan-amalan yang buruk dan tercela sebagaimana dalam sabda Rasulullah: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan berbuat dusta, maka Allah tidak peduli ia meninggalkan makan dan minumnya.”( HR Bukhari)  Beliau juga bersabda: Puasa itu   adalah   benteng,   maka   apabila   suatu   hari   seorang   dari   kalian   sedang melaksanakan puasa, maka janganlah dia berkata rafats (kotor) dan   jangan pula bertengkar   sambil   berteriak.   Jika   ada   orang   lain   yang   menghinanya   atau mengajaknya berkelahi maka hendaklah dia mengatakan ‘Aku orang yang sedang puasa’.( HR Bukhari)

 

Akhlak yang dilarang dalam hadis-hadis ini sangat dilarang oleh islam baik di dalam   atau   diluar   bulan   Ramadhan,   namun   larangan-larangan   tersebut   lebih dipertegas lagi bila berada dalam bulan Ramadhan.

 

Allah ta’ala telah membuka pintu kebaikan lainnya secara lebar-lebar kepada semua hamba-Nya yang beriman dengan mensyariatkan puasa-puasa sunat sepanjang tahun selain dua hari raya; idul fitri dan idul adha, dan Dia menganjurkan mereka agar senantiasa mengerjakannya tanpa mewajibkannya sebagaimana dalam hadis: “Barangsiapa yang berpuasa   di jalan Allah karena Allah, niscaya Allah jauhkan dirinya dari neraka sejauh 70 tahun perjalanan.” (HR Bukhari dan Muslim)

 

Olehnya itu, seorang muslim hendaknya berusaha mengerjakan sebagian puasa- puasa sunat ini agar bisa mendapatkan banyak pahala dan membina dirinya agar banyak beribadah.

 

 

 

Sesungguhnya ibadah puasa sangat membina kepribadian seorang muslim, memperbaiki akhlaknya, mendekatkan hatinya kepada Allah, dan menanamkan dalam dirinya satu perkara yang sangat urgen yaitu sikap muraaqabah atau selalu merasa terawasi oleh Allah ta’ala, karena tatkala puasa seorang muslim tidak diketahui oleh siapapun sehingga ia bisa saja makan dan minum tanpa diketahui orang lain, namun ia tidak melakukannya dan rela bersabar menahan diri dari rasa lapar dan dahaga karena yakin bahwa Allah senantiasa mengawasi dan melihatnya, semua ini ia lakukan demi meraih  keridhaan  Allah  semata.  Sikap  inilah  yang  diharapkan  ada  pada  setiap manusia, yaitu melakukan pengawasan terhadap diri sendiri dengan merasa bahwa Allah selalu mengawasi dirinya, sehingga ia pun bisa menjadi manusia yang taat beribadah dan berakhlak baik tanpa paksaan dari siapapun.

 

Sebelum mengakhiri pembahasan puasa ini, kami mesti mengisyaratkan suatu hal yang merupakan satu fadhilah agung, karunia besar dan hadiah Allah ta’ala yang dikaruniakan kepada umat islam sebagaimana yang Dia firmankan dalam Kitabnya:

 

Artinya: “Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemulian. Dan tahukan kamu apakah malam kemuliaan itu ?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”(Q.S. Al-Qodr:1-3)

 

Lailatul-Qadr ini adalah malam diturunkannya Al-Quran, sehingga Allah pun mengistimewakannya dengan melipat gandakan pahala amalan yang dilakukan pada malam itu sebanyak pahala 1.000 bulan (lebih dari 83 tahun), atau dengan kata lain; barangsiapa  yang  mengerjakan  satu  amalan  shalih  pada  malam  itu  maka  pahala amalan itu lebih banyak dari pada amalan sepertinya yang dilakukan diluar malam itu selama 83 tahun. Bahkan dalam malam Lailatul-Qadr ini terdapat amalan lain yang utama sebagaimana disampaikan Rasulullah:

 

 

Artinya: “Barangsiapa yang berdiri (menunaikan shalat) di malam Lailatul-Qadr dengan iman dan mengharap (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni”.( HR Bukhari dan Muslim)

 

 

Wallaahu a’lam.

*TUNTUNAN RAMADHAN: ANTARA RITUAL TAHUNAN DAN PENYUCIA JIWA (Kumpulan Tulisan dan Terjemahan Seputar Ramadhan)

 

 

 

 

 

 

Ada Apa dengan Semut?

Sebagai umat muslim yang beriman kita tidak boleh meragukan pedoman hidup kita sendiri, al-Qur’an adalah kitab yang contentnya berkaitan dengan petunjuk bagi umat manusia agar mereka dapat mengenal mana jalan yang benar dan mana yang sesat, bukan hanya itu al-Qur’an juga berfungsi sebagai tanda kemukjizatan bagi rosululloh SAW.

Perlu diketahui bahwa al-Qur’an bukanlah kitab science akan tetapi al-Qur’an berisi آيات )signs( yang menunjukkan kebesaran Alloh SWT dan didalamnya tersisipi dengan science dan hal ini sudah terbukti dengan kesesuaian ilmu modern hari ini dengan apa yang tercantum dalam al-Qur’an al-Karim seperti halnya bagaimana bentuk bumi, teori big bang, air sebagai sumber kehidupan dan masih banyak lagi.

Baca SelengkapnyaAda Apa dengan Semut?