Cara Bersedekah yang Salah dan Keliru - Yayasan Takrimul Quran

Yayasan Takrimul Quran

Cara Bersedekah yang Salah dan Keliru Takrimul Quran

Cara Bersedekah yang Salah dan Keliru

Cara Bersedekah.- Dalam amalan sedekah terdapat pahala yang berlimpah bukan hanya itu sedekah sangat terasa pengaruhnya ketika di dunia misalnya berkahnya segala urusan kita. Syarat untuk mendapatkan itu semua tentunya tidak sembarangan, sedekah dengan niat ikhlaslah yang akan mendapatkannya. Jadi sedekah yang dilakukan tidak ikhlas maka sedekahnya akan sia-sia. Ada beberapa kesalahan dalam bersedekah diantaranya adalah:

1.Bahaya Cara Bersedekah dengan niat riya dan sum’ah

Segala amalan yang tidak diniatkan dengan ikhlas maka akan sia-sia, banyak orang yang bersedekah dengan niat ingin dipuji orang, ingin disebut sebagai seorang yang dermawan padahal sedekah yang diterima oleh Alloh adalah sedekah yang diniatkan ikhlas lillahi ta’ala saja. Riya dan sum’ah adalah dua penyakit yang amat berbahaya dikarenakan jika kita terjangkiti dua virus ini maka amalan yang kita kerjakan akan sia-sia dan percuma, amalan kita tidak akan ada nilainya sama sekali di sisi Alloh SWT.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (artinya: ikhlas) dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” (QS. Al Bayyinah: 5).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang bahaya riya’ (gila pujian) bahwasanya amalan pelaku riya’ tidaklah dipedulikan oleh Allah. Dalam hadits qudsi disebutkan,

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (artinya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya” (HR. Muslim no. 2985).

Imam Nawawi rahimahullah menuturkan, “Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa” (Syarh Shahih Muslim, 18: 115).

2. Cara Bersedekah dengan niat hanya untuk dunia

Sedekah adalah amalan yang sangat agung dan sakral, sayang sekali jika sedekah hanya diniatkan untuk dunia saja tanpa melihat betapa besarnya balasan Alloh terhadap orang yang bersedekah.

Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16)

Dalam ayat lain disebutkan,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy Syuraa: 20)

Ats Tsauri berkata, dari Mughiroh, dari Abul ‘Aliyah, dari Ubay bin Ka’ab –radhiyallahu ‘anhu-, beliau mengatakan,

بَشِّرْ هَذِهَ الأُمَّةُ بِالسِّنَاءِ وَالرِّفْعَةِ وَالدِّيْنِ وَالتَّمْكِيْنِ فِي الأَرْضِ فَمَنْ عَمِلَ مِنْهُمْ عَمَلَ الآخِرَةِ لِلدُّنْيا لَمْ يَكُنْ لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيْبٍ

Berilah kabar gembira pada umat ini dengan kemuliaan, kedudukan, agama dan kekuatan di muka bumi. Barangsiapa dari umat ini yang melakukan amalan akhirat untuk meraih dunia, maka di akhirat dia tidak mendapatkan satu bagian pun.” (HR. Ahmad 5: 134. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)


Ada beberapa macam niat beramal pada diri seseorang,

  1. Jika niatnya murni hanya untuk meraup keinginan dunia maka dijelaskan dalam al-Quran bahwa orang semacam ini di akhirat kelak tidak akan mendapatkan apa-apa sedikitpun, dan ini tidak mungkin terjadi pada seorang mukmin dikarenakan walaupun imannya sangat lemah pasti dia mengharapkan pahala dan kebaikan akhirat di sisi Alloh SWT.
  2. Jika niatnya bercabang keinginan mendapatkan pahala di akhirat dan balasan di dunia sama-sama kuat maka hal ini akan mengurangi keiklasan dan ketauhidannya, hal ini akan dinilai kurang karena keikhlasannya kurang sempurna.
  3. Adapun jika ada orang yang telah beramal secara ikhlash, dia hanya mengharapkan pahala dan wajah Allah semata, akan tetapi di balik itu dia mendapatkan upah atau hasil yang dia ambil untuk membantunya dalam beramal (semacam mujahid yang berjihad lalu mendapatkan harta rampasan perang, para pengajar dan pekerja yang menyokong agama yang mendapatkan upah dari negara setiap bulannya), maka tidak mengapa mengambil upah tersebut. Hal ini juga tidak mengurangi keimanan dan ketauhidannya, karena semula dia tidak beramal untuk mendapatkan dunia. Sejak awal dia sudah berniat untuk beramal sholeh dan menyokong agama ini, sedangkan upah yang dia dapatkan adalah di balik itu semua yang nantinya akan menolong dia dalam beramal dan beragama. (Lihat Al Qoulus Sadiid karya Syaikh As Sa’di, hal. 132-133)

Ada dua macam jika seseorang melakukan amalan untuk mendapatkan dunia,

  1. Amalan yang didalamnya tidak dicantumkan balasan dunia. Jika dengan amalan ini hanya mengharapkan amalan dunia saja maka hal ini dilarang. Bahkan ada yang menyebutkan ini adalah sebuah bentuk kesyirikan.
  2. Amalan yang didalamnya disebutkan balasan dunia, maka jika seseorang hanya mengharapkan dunia saja dalam amalan ini tanpa mengharapkan pahala akhirat sedikitpun maka hal ini dilarang, akan tetapi jika dibalik pengharapan balasan dunia disitu ada pengharapan pahala akhirat maka hal itu dibolehkan.

  Semisal silaturrahim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Barangsiapa senang untuk dilapangkan rizki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturrahim (hubungan antar kerabat).” (HR. Bukhari no. 5986 dan Muslim no. 2557)

3. Mengungkit-ungkit sedekah dan menyakiti penerimanya

Cara bersedekah dengan mengungkit-ungkit pemberian apalagi sampai menyakiti hati si penerima, sedekahnya sudah dipastikan tidak ada nilainya sama sekali di sisi Alloh SWT.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)” (QS. Al Baqarah: 264).

Ibnu Katsir menjelaskan, “Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa sedekah menjadi sia-sia hanya karena si pemberi mengungkit-ungkit sedekah yang telah ia beri dan ia menyakiti yang menerima. Seseorang tidak mendapatkan pahala sedekah akibat melakukan dua kesalahan tersebut.”

Tinggalkan komentar