Restu Ghifary, Author at Yayasan Takrimul Quran

Yayasan Takrimul Quran

KEUTAMAAN BELAJAR DAN MENGAJAR AL-QUR’AN

BELAJAR AL-QUR'AN

Manusia yang terbaik dalam islam adalah dia yang selalu belajar dan mengajar Al-Qur’an kepada manusia lainnya.   Rasulallah saw. Bersabda: “Manusia terbaik diantara kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR.Bukhari).

Masih dalam hadits riwayat Bukhari dari Utsman Bin Affan ra, tetapi dalam redaksi yang agak berbeda, disebutkan bahwa Nabi saw Bersabda: “Sesungguhnys orang yang paling utama diantara kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Dalam dua hadits di atas, terdapat dua amalan yang dapat membuat seorang muslim menjadi yang terbaik diantara saudara-saudaranya sesama muslim lainnya, yaitu belajar Al-Qur’an dan mengajarkan Al-Qur’an. Tentu, baik belajar ataupun mengajar yang dapat membuat seseorang menjadi yang terbaik disini, tidak bisa lepas dari keutamaan Al-Qur’an itu sendiri.

Al-Qur’an adalah kalam Allah, firman-firmannya yang diturunkan kepada Nabinya melalui perantara malaikat jibril as. Al-Qur’an adalah sumber pertama dan acuan uatma dalam ajaran islam. Karena keutamaan yang tinggi inialah, yang membuat Abu Abdirrohman As-Sulami salah seorang yang meriwayatkan hadits ini selalu belajar dan mengajarkan Al-Qur’an sejak jaman Utsman Bin Affan ra. Hingga masa Al-Hajjaj Bin Yusuf Ats-tsaqofi.

Hadis ini menunjukan akan keutamaan Al-Qur’an. Suatu ketika Sufyan Tsauri ditannya, manakah yang engkau cintai orang yang berperang atau yang membaca Al-Qur’an? Ia berkata yang membaca Al-Qur’an, karena Rasulallah Saw. Bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain.” Imam Abu Abdurrohman As-Sulami Tetap mengajarkan Al-Qur’an selama 40 tahun di mesjid agung kuffah di sebabkan karena ia telah mendengar Hadits ini, selalu berkata: “inilah yang mendudukan aku di kursi ini.”

Al-Hafiz Ibnu Katsir dalam kitabnya Fadhail Qur’an berkata, maksud dari sabda Rasulallah saw “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkan kepada orang lain” adalah, bahwa ini sifat-sifat orang mukmin yang mengikuti dan meneladani para Rasul. Mereka telah menyempurnakan diri sendiri dan menyemppurnakan orang lain. Hal itu merupakan gabungan antara manfaat yang terbatas untuk diri mereka dan yang menular kepada orang lain.

Dari Abdullah Bin Mas’ud ra., ia berkata: Rasulallah saw bersabda kepadaku: bacakan Al-Qur’an kepadaku. Aku bertanya: Wahai Rasullah, Aku harus membacakan Al-Qur’an kepada baginda, sedangkan kepada Bagindalah Al-Qur’an diturunkan? Rasulallah saw bersabda:Sesungguhnya aku senang bila mendengar dari orang selainku. Kemudian aku membaca surat An-Nisa, ketika sampai pada ayat yang artinya: “Maka bagaimanakah halnya orang kafir nanti, jika kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu dan ketika aku angkat kepalaku aku melihat beliau bercucuran air mata.

Imam Nawawi Rohimahullah berkata: sunah hukumnya mendengarkan Al-Qur’an merenungi dan Menangis ketika mendengarnya dan sunnah hukumnya seseorang kepada orang lain untuk membaca Al-Qur’an agar dia mendengarkannya dan cara ini lebih mantap untuk memahami dan mentadabburi Al-Qur’an dibandingkan dengan memebaca sendiri.

Orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan dia mahir melakukannya, kelak mendapat tempat di surga bersama-sama dengan Rasul-Rasul yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang memebaca Al-Qur’an tetapi dia tidak mahir membacanya tertegun-tagun dan nampak agak berat lidahnya karena belum lancar. Maka dia akan mendapat dua pahala.” (HR Bukhari dan Muslim)

Adapaun maksud dari mengajarkan Al-Qur’an yaitu mengajari orang lain cara membaca Al-Qur’an yang benar berdasarkan Hukum Tajwid. Sekiranya mengajarkan ilmu-ilmu lain secara umum atau menyampaikan sebagian ilmu yang dimiliki kepada orang lain adalah perbuatan mulia dan mendapatkan pahala dari Allah, tentu mengajarkan Al-Qur’an lebih utama. Bahkan ketika Sufyan Atsauri ditanya mana yang lebih utama antara berjihad di jalan Allah dan mengajarkan Al-Qur’an dia mengatakan bahwa mengajarkan Al-Qur’an lebih utama. Ats-Tsauri mendasarkan pendapatnya pada hadits ini.

Namun demikian, meskipun orang yang belajar Al-Qur’an sebaik-baik orang muslim, tentu akan lebih baik dan utama lagi jika orang tersebut menggabungkan keduanya. Maksudnya, orang tersebut belajar cara membaca Al-Qur’an sekaligus mengajarkan kepada orang lain apa yang telah di pelajarinya. Dan dari Hadits ini juga dapat dipahami, bahwa orang yang mengajar Al-Qur’an harus mengalami fase belajar terlebih dahulu. Dia harus sudah pernah belajar membaca Al-Qur’an sebelumnya. Sebab orang yang belum pernah belajar Al-Qur’an tetapi dia berani mengajarkan Al-Qur’an kepada orang lain maka apa yang di ajarkannya akan banyak kesalahan. Karena dia mengajarkan sesuatu yang tidak dia kuasai ilmunya..

PEMBERANTASAN BUTA AKSARA AL-QUR’AN

berantas buta aksara al quran

Latar Belakang

gmbar pemberantasan 2    setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.” Pendidikan adalah merupakan alat yang paling penting untuk mengembangkan potensi kehidupan manusia, baik intelegensia, kreativitas, maupun akhlak al-karimah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan. Aktivitas pendidikan terkait dengan tujuan pembentukan manusia seutuhnya dalam rangka memajukan peradaban. Sebagaimana tertuang dalam undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003, Bab II, pasal 3 dirumuskan bahwa:
”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Aloh Yang Maha Esa, berakhlak mulia; sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang Baik serta bertanggung jawab.”
Jelaslah disini bahwa pemerintah dan masyarakat harus bahu membahu dalam melaksanakan pendidikan, yang diawali dengan pemberantasan buta aksara. Karena walaupun pemerintah sudah menetapkan program wajib belajar 9 tahun dan program pemberantasan buta aksara seperti Program Keaksaraan Fungsional (Program KF), namun demikian program-program tersebut belum berhasil menurunkan besarnya buta aksara sehingga sampai saat ini buta aksara tetap saja masih tinggi. Padahal tekad pemerintah pada tahun 2005 lalu mencanangkan Program Percepatan Pemberantasan Buta Aksara yang ditargetkan tuntas pada tahun 2009.
Berdasarkan data BPS tahun 2003-2004, posisi kebutaaksaraan penduduk Indonesia usia 10 tahun ke atas sebesar 15.533.271 orang, terdiri atas perempuan sebanyak 10.643.823 orang (67%) dan laki-laki sebanyak 5.042.338 orang (32,1 %). Pada usia 10-44 tahun sebesar 4.410.627 orang. Usia 15-44 tahun sebesar 3.986.187 orang. Angka buta aksara tersebut masih akan bertambah, mengingat angka tingkat putus belajar pada kelas-kelas awal (1-3) SD/MI saat ini masih 200.000 s.d. 300.000 per tahun. Khusus di bidang pendidikan, data susenas 2003 menunjukan bahwa penduduk perempuan usia 20 tahun ke atas yang tidak/belum pernah sekolah jumlahnya dua kali lipat penduduk laki-laki 911,56% berbanding 5,43%). Penduduk perempuan yang buta aksara sebesar 12,285, sedangkan laki-laki 5,82% atau dengan kata lain bahwa jumlah buta aksara pada perempuan lebih banyak 2 samapai 3 kali lipat dari laki-laki.
Sementara itu kebutaaksaraan juga sangat terkait dengan kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, dan ketidakberdayaan masyarakat. Sehingga permasalahan buta aksara ini tidak saja menjadi permasalahan nasional tetapi sudah diangkat menjadi permasalahan internasional. Atas dasar itu, UNESCO, UNICEF, WHO, World Bank, dan badan-badan internasional lain menjadi sangat gencar mengkampanyekan dan mensosialisasikan akan pentingnya pemberantasan buta aksara di seluruh dunia termasuk Indonesia.
Dikarenakan Indonesia adalah negara yang beragama, maka untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut, pemerintah wajib menyelenggarakan pendidikan agama sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan pada Bab II pasal 3 ayat 1 dikatakan bahwa:
“Setiap satuan pendidikan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan wajib menyelenggarakan pendidikan agama.”

Kemudian pada pasal 2 ayat 1 dan 2 dikatakan bahwa:
“Pendidikan agama berfungsi membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Alloh Yang Maha Esa serta berakhlakul mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antar umat beragama.”
“Pendidikan agama bertujuan untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaannya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.”
Dalam pandangan Islam, pendidikan wajib dilaksanakan sepanjang hayat, sehingga kehidupan bagi seorang muslim adalah proses dan sekaligus lingkungan pembelajaran. Jika seseorang berhenti belajar pasti tertinggal dan tergilas zaman. Selanjutnya, apabila kita memperhatikan ayat-ayat yang pertama diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad, maka nyatalah bahwa Allah telah menekankan perlunya orang belajar baca-tulis dan belajar ilmu pengetahuan. Firman Allah dalam surat Al-‘Alaq ayat 1-5 :

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui.”
Dalam hadis Rasulullah saw. Dikatakan:
“Sebaik-baik kalian adalah siapa yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya (HR. Al-Bukhari).
“Siapa saja membaca satu huruf dari kitab Allah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya (HR. At-Tirmidzi).

Dari ayat-ayat dan hadis tersebut, jelaslah bahwa agama Islam mendorong umatnya agar menjadi umat yang pandai, dimulai dengan belajar baca tulis dan dilanjutkan dengan belajar berbagai macam ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, dalam hal ini pemerintah tidak cukup hanya memberantas buta aksara latin saja, tetapi tidak kalah penting juga mmeberantas buta aksara Al-Qur’an sebagai pedoman umat muslim yang di dalamnya terdiri dari berbagai macam ilmu pengetahuan. Mengapa demikian? Dikarenakan fenomena yang terjadi pada masyarakat Indonesia, salah satu contoh di kota Depok, pada tahun 2006 tercatat angka buta aksara latin mencapai angka 13.000 jiwa, dan buta aksara Al-Qur’an lebih banyak yaitu mencapai angka 20.000 jiwa. Hal ini tidak menutup kemungkinan terjadi juga di daerah-daerah lainnya termasuk di propinsi Banten.
Propinsi Banten yang jumlah penduduknya lebih dari 8 juta jiwa dan lebih dari 95% dari jumlah tersebut mayoritas beragama Islam, memiliki sumber daya manusia yang potensial untuk dikembangkan terutama kaum perempuannya. Akan tetapi berdasarkan laporan kepala Dindik Propinsi Banten, Eko Endang Koswara kepada anggota komisi X DPR RI, Didik J Rachbini pada rapat tertutup di hotel Le Dian, Rabu 30 April 2008 menyebutkan, bahwa data penyandang buta aksara di Propinsi Banten mencapai angka 226.762, dan berada di urutan 10 besar penyandang buta aksara nasional. Karena dari sekitar 11 juta penduduk Indonesia penyandang buta aksara pada tahun 2006-2007, terdapat sekitar 3,3 % berada di Banten. Sementara data lain menyebutkan, jumlah penyandang buta aksara usia 15 tahun ke atas di Propinsi Banten pada tahun 2006 itu mencapai 305.677 orang, terdiri atas 96.668 laki-laki dan 208.502 perempuan. Pada tahun 2008 lalu masih berkisar 300.041 orang.
Jadi jelas, bahwa jumlah buta aksara perempuan ternyata lebih banyak dari laki-laki. Adapun mengenai jumlah aksara Al-Qur’an belum ada angka yang pasti. Akan tetapi berdasarkan pengamatan langsung penulis pada ibu-ibu rumah tangga di Banten, khususnya di kelurahan Sumur Pecung kecamatan Serang Kota Serang masih banyak yang mengalami buta aksara Al-Qur’an. Contoh dari tiga majelis ta’lim di lingkungan kelurahan Sumur Pecung yang penulis observasi, yang masing-masing majelis berjumlah kurang lebih 30 orang, sebanyak 80% dari jumlah tersebut adalah buta aksara Al-Qur’an. Lebih jelasnya dari 30 ibu-ibu rumah tangga, 24 diantaranya buta huruf Al-Qur’an. Padahal posisi perempuan sebagai ibu di lingkungan rumah tangga dilihat dari segi tanggung jawab pemeliharaan dan pendidikan anak merupakan pusat pendidikan yang menentukan masa depan bangsa.